Samarinda, Infosatu.co – Upaya menekan angka stunting di Benua Etam masih menghadapi tantangan dari persoalan lingkungan dan kualitas hunian masyarakat. Rumah tidak layak huni (RTLH) yang banyak ditemukan di kawasan bantaran sungai dinilai menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko stunting pada anak.
Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kaltim Sunarto mengatakan perhatian terhadap stunting tidak boleh hanya terfokus pada pemenuhan gizi.
“Kondisi tempat tinggal yang tidak sehat, minim sanitasi, dan terbatasnya akses air bersih juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak,” ungkapnya.
Menurutnya, RTLH masih menjadi persoalan yang ditemukan di sejumlah daerah. Karena itu, intervensi terhadap kawasan-kawasan dengan kondisi hunian kurang layak perlu terus dilakukan sebagai bagian dari strategi percepatan penurunan stunting.
“RTLH harus terus kita intervensi, karena masyarakat yang tinggal di bantaran sungai masih cukup banyak,” tuturnya.
Sunarto menilai lingkungan yang tidak sehat dapat mengurangi efektivitas berbagai program pemenuhan gizi yang selama ini telah dijalankan pemerintah.
Akibatnya, risiko stunting tetap tinggi meski bantuan makanan bergizi telah diberikan kepada kelompok sasaran.
“Karena itu perbaikan kualitas hunian dan lingkungan dinilai menjadi langkah penting untuk mendukung keberhasilan program penanganan stunting di Kaltim,” pungkasnya.
