infosatu.co
KESEHATAN

Dinkes Kaltim Ingatkan Ancaman ISPA dan Penyakit Akibat Air Tercemar saat Musim Kemarau

Teks: Ilustrasi Gangguan pernapasan atau ISPA yang dialami oleh seseorang. (Istimewa)

Samarinda, Infosatu.co – Musim kemarau mulai berdampak terhadap kondisi kesehatan masyarakat di Kalimantan Timur (Kaltim).

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim mengingatkan warga untuk mewaspadai meningkatnya risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan debu, serta penyakit yang ditularkan melalui air yang kualitasnya menurun selama musim kering.

Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin mengatakan perubahan musim hampir selalu diikuti perubahan pola penyakit yang muncul di masyarakat.

Saat curah hujan menurun, udara cenderung lebih kering dan kadar debu meningkat sehingga berpotensi memicu gangguan pada saluran pernapasan.

“Ketika udara semakin kering dan kadar debu meningkat, keluhan pada saluran pernapasan biasanya ikut bertambah. Kondisi seperti ini perlu diantisipasi sejak awal,” ujar Jaya, Jumat, 31 Juli 2026.

Menurutnya, masyarakat dapat melakukan langkah sederhana untuk mengurangi risiko tersebut, seperti menggunakan masker saat beraktivitas di lingkungan berdebu, menjaga kebersihan rumah, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun.

Selain persoalan kualitas udara, Dinkes Kaltim juga menyoroti kondisi sumber air bersih yang berpotensi mengalami penurunan kualitas selama musim kemarau. Berkurangnya debit air dapat meningkatkan risiko pencemaran apabila sumber air tidak dikelola dengan baik.

Karena itu, masyarakat diminta memastikan air yang digunakan untuk minum, memasak, maupun kebutuhan sehari-hari berasal dari sumber yang layak dan aman.

“Pastikan air yang digunakan benar-benar layak. Jangan memanfaatkan sumber air yang sudah berubah kualitasnya atau diduga terkontaminasi,” katanya.

Jaya menjelaskan, penggunaan air yang tercemar dapat memicu berbagai penyakit, terutama gangguan pencernaan seperti diare maupun infeksi lain yang ditularkan melalui air.

Risiko tersebut dapat diminimalkan apabila masyarakat lebih cermat memilih sumber air dan menjaga kebersihan lingkungan.

Ia menambahkan, upaya pencegahan menjadi langkah paling efektif dibandingkan harus menangani penyakit setelah muncul. Karena itu, kewaspadaan terhadap perubahan kondisi lingkungan selama musim kemarau perlu terus ditingkatkan.

“Kebersihan air harus menjadi perhatian bersama. Pencegahan jauh lebih baik daripada harus berhadapan dengan risiko penyakit yang sebenarnya bisa dihindari,” tutupnya.

Related posts

Samarinda Kejar Penurunan Stunting hingga 14 Persen pada 2030

Emmy Haryanti

Pembangunan RSUD Senilai Rp297 Miliar di Kutai Barat Masih Menunggu FS dan DED

Rizki

Skrining Kesehatan hingga Deteksi Stunting Warnai Hari Anak Nasional di Kaltim

Rizki