infosatu.co
EKONOMI

Masih Banyak Lapak Kosong, Perputaran Ekonomi Pasar Pagi Samarinda Belum Maksimal

Teks: Suasana Pasar Pagi Samarinda yang lengang dari pelanggan. (Emmi/Infosatu)

Samarinda, Infosatu.co – Aktivitas ekonomi di gedung baru Pasar Pagi Samarinda belum berjalan optimal. Hingga akhir Juli 2026, lebih dari 1.000 lapak masih belum beroperasi sehingga potensi transaksi jual beli di salah satu pusat perdagangan terbesar di Kota Tepian itu belum sepenuhnya tumbuh.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mengambil langkah tegas dengan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh kios yang telah dialokasikan kepada pedagang.

Lapak yang tetap kosong hingga akhir Agustus 2026 akan ditarik dan dialihkan kepada pedagang lain yang siap menjalankan usaha.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda Nurrahmani mengatakan pemerintah tidak ingin fasilitas yang telah disediakan justru terbengkalai dan gagal menggerakkan aktivitas perdagangan.

“Semua sudah kami sampaikan melalui pengumuman terakhir. Akhir Agustus semua harus aktif. Kalau tidak berarti tidak berminat berjualan dan kami akan tarik,” ujarnya.

Menurut Nurrahmani, kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Wali Kota Samarinda Andi Harun agar revitalisasi Pasar Pagi tidak hanya menghasilkan bangunan baru, tetapi juga mampu menciptakan pusat ekonomi yang ramai dan produktif.

Lapak yang ditarik nantinya akan diprioritaskan bagi pedagang yang benar-benar memiliki komitmen untuk berjualan, termasuk pemilik Surat Keterangan Tempat Usaha Berjualan (SKTUB) yang hingga kini belum memperoleh lokasi usaha.

“Saya maunya yang kosong itu diisi, tetapi bukan sekadar mau, harus benar-benar berjualan. Buktikan komitmennya, baru kami beri kesempatan,” kata Yama, sapaan akrab Nurrahmani.

Data Disdag Samarinda menunjukkan, hingga akhir Juli masih terdapat lebih dari 1.000 lapak kosong dari total 2.586 unit yang tersedia di gedung baru Pasar Pagi.

Meski jumlah tersebut menurun dibandingkan Juni yang mencapai sekitar 1.500 unit, pemerintah menilai tingkat keterisian masih perlu ditingkatkan agar aktivitas ekonomi pasar semakin bergeliat.

Disdag juga mengingatkan seluruh pedagang agar mematuhi perjanjian penggunaan kios, termasuk larangan menyewakan lapak kepada pihak lain.

Nurrahmani turut meminta pedagang tidak terburu-buru menilai lokasi kios sebagai penentu keberhasilan usaha. Menurutnya, pengalaman menunjukkan sejumlah pedagang justru mampu meraih omzet tinggi meski menempati lapak di lantai atas.

“Usaha dulu dicoba. Jangan komplain dulu soal lantainya atau letaknya, yang penting berjualan dulu, karena rezeki tidak tertukar,” tuturnya.

Related posts

Distribusi Biosolar Subsidi Ditata, Penyaluran Ditarget Lebih Tepat Sasaran

Emmy Haryanti

Di Tengah Penurunan Dana Transfer, Begini Pandangan DPR soal Hak Fiskal Kaltim

Rizki

Lapangan Kerja Kaltim Mulai Bergeser, Sektor Nontambang Jadi Penopang

Emmy Haryanti