Samarinda, Infosatu.co – Permasalahan limbah di sekitar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Lapas Narkotika Samarinda akhirnya diakui sebagai dampak dari kondisi overkapasitas penghuni. Pihak Lapas pun membuka kondisi internal mereka sekaligus menggandeng Pemerintah Kota Samarinda untuk mencari solusi bersama, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Kasubag Tata Usaha Lapas Narkotika Samarinda Bowo Kustiawan menjelaskan bahwa laporan masyarakat yang disampaikan melalui Ketua RT langsung ditindaklanjuti dengan peninjauan lapangan. Hasilnya kemudian dibawa ke forum koordinasi bersama pemkot yang difasilitasi Wakil Wali Kota.
“Kami sudah turun ke lapangan, melihat langsung kondisi yang ada, kemudian berkoordinasi dengan pemkot. Bahkan difasilitasi langsung oleh Pak Wakil Wali Kota untuk membentuk tim dan mencari solusi bersama,” ujar Bowo, Rabu, 17 Juni 2026.
Sebagai langkah awal, pihak Lapas bersama pemkot akan menggelar kerja bakti pembersihan drainase pada Sabtu mendatang. Selain itu, rencana penanganan jangka panjang juga mulai disusun, termasuk kajian dampak lingkungan dan pembangunan infrastruktur pendukung.
Bowo mengakui, persoalan limbah tidak lepas dari kondisi Lapas yang saat ini menampung hampir dua kali lipat kapasitas ideal. Dari kapasitas 450 orang, jumlah warga binaan kini mencapai 999 orang.
“Ini berdampak pada sistem pengolahan limbah. Air dari septic tank dan kamar mandi menjadi berlebih, sehingga sebagian meluap keluar,” jelasnya.
Meski demikian, pihak Lapas telah melakukan berbagai upaya perbaikan, termasuk merapikan sejumlah septic tank dalam sebulan terakhir. Namun, keterbatasan sistem membuat penanganan belum optimal.
“IPAL sebenarnya ada, ada tiga titik, tapi saat ini sudah tidak berfungsi. Akhirnya kami menggunakan sistem manual pengendapan, dan itu yang menyebabkan air keluar ke lingkungan,” ungkapnya.
Untuk solusi jangka panjang, Lapas mendukung penuh rencana pembangunan IPAL komunal yang akan terintegrasi dengan program lain di kawasan tersebut. Lokasi pembangunan pun telah ditinjau bersama tim di lapangan.
Selain itu, perbaikan drainase juga menjadi prioritas. Saat ini aliran air diketahui terhenti di area lahan warga karena saluran yang belum tersambung hingga ke sungai.
“Drainase ini sebenarnya sudah ada, tapi terhenti di satu titik. Harapannya nanti bisa diteruskan sampai ke Sungai Karang Mumus agar aliran tidak lagi buntu,” katanya.
Di tengah persoalan tersebut, pihak Lapas juga menegaskan komitmennya untuk tetap hadir membantu masyarakat sekitar. Bentuk kepedulian dilakukan melalui pemberian bantuan sembako rutin, perbaikan fasilitas umum seperti musala, hingga rencana program bedah rumah bagi warga yang membutuhkan.
“Kami tidak tinggal diam. Setiap minggu kami bantu sembako, perbaiki fasilitas umum, bahkan ke depan ada rencana bedah rumah. Ini bentuk tanggung jawab kami kepada masyarakat sekitar,” tegas Bowo.
Ia berharap, dengan keterlibatan langsung pemkot dan sinergi semua pihak, permasalahan limbah ini dapat segera teratasi dan tidak lagi menimbulkan dampak bagi warga di sekitar Lapas.
