Oleh: Muhammad Shendy Abiyyu Badi, Ketua Formatur SAPMA Pemuda Pancasila Kota Bontang
Bontang, Infosatu.co – Kemerdekaan tidak pernah lahir dari kebungkaman. Ia lahir dari keberanian untuk bersuara, bergerak, membuat perubahan serta melawan berbagai bentuk ketidakadilan dan keterpurukan.
Namun, 81 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri, di mana gerakan pemuda hari ini?
Ketika Ibu Pertiwi dihadapkan pada dinamika yang semakin kompleks ketimpangan ekonomi, krisis kepercayaan, degradasi lingkungan, hingga berbagai persoalan sosial kita justru melihat sebagian organisasi kepemudaan dan gerakan pergerakan mengalami stagnasi. Bahkan, tidak berlebihan jika dikatakan gerakan pemuda hari ini sedang menghadapi gejala degradasi.
Organisasi yang semestinya menjadi ruang untuk melahirkan gagasan terkadang justru terlalu sibuk dengan dinamika internalnya sendiri.
Organisasi yang seharusnya hadir sebagai penyambung suara masyarakat tidak jarang semakin jauh dari persoalan yang benar-benar dirasakan rakyat.
Begitu pula organisasi yang seharusnya menjadi wadah bagi kaum muda dan kaum terpelajar untuk menyampaikan kritik. Terlalu sering kita melihat suara itu justru memilih diam.
Ini bukan persoalan tentang siapa yang salah. Kondisi tersebut semestinya menjadi alarm bagi kita semua untuk melakukan introspeksi sekaligus membangun kembali resiliensi gerakan pemuda.
Gerakan pemuda tidak boleh kehilangan keberanian untuk mengkritik. Namun, kritik saja tidak cukup. Gerakan pemuda juga harus memiliki kemampuan untuk menawarkan gagasan dan solusi.
Kita tidak membutuhkan organisasi yang hanya aktif ketika ada momentum. Kita membutuhkan organisasi yang hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Kita juga tidak membutuhkan pemuda yang hanya pandai mengkritik dari belakang layar. Kita membutuhkan pemuda yang berani turun langsung, berdiskusi, membangun gagasan, mengambil peran, dan bertanggung jawab atas perubahan yang ingin diwujudkan.
Sebab, bagi saya, kemerdekaan bukan alasan bagi kita untuk berhenti bergerak. Kemerdekaan justru memberikan tanggung jawab untuk terus memperjuangkannya.
Jika dahulu para pemuda berjuang melawan penindasan dan penjajahan, maka tantangan kita hari ini berbeda. Kita harus berani melawan kebungkaman, apatisme, dan degradasi gerakan pemuda yang membuat organisasi kehilangan fungsi sosialnya.
Organisasi harus kembali menjadi alat perjuangan. Namun, perjuangan tidak akan menjadi besar jika kita terus berjalan sendiri-sendiri.
Di sinilah kolaborasi menjadi penting.
Tidak mungkin membangun Bontang hanya dengan satu organisasi. Tidak mungkin membangun gerakan pemuda hanya dengan satu kelompok. Dan tidak mungkin menyelesaikan persoalan bangsa hanya dengan satu gagasan.
Kita membutuhkan kolaborasi lintas organisasi, lintas latar belakang, dan lintas gagasan.
Kita boleh berbeda ruang untuk berproses. Kita boleh berbeda cara pandang. Kita juga boleh berbeda tempat untuk berkiprah. Namun, perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling berseberangan.
Perbedaan adalah kekayaan, sementara kolaborasi adalah kekuatan.
Saya percaya Kota Bontang memiliki banyak pemuda dengan semangat, gagasan, dan keberanian untuk menciptakan perubahan. Persoalannya, kita membutuhkan ruang bersama untuk mempertemukan seluruh potensi tersebut.
Karena itu, momentum kemerdekaan ini semestinya menjadi kesempatan untuk kembali merapatkan barisan.
Meninggalkan ego kelompok, membuka ruang dialog, membangun kolaborasi, saling bahu-membahu, dan menyatukan gagasan untuk menghadirkan gerakan pemuda yang lebih hidup, kritis, progresif, sekaligus berdampak.
Sebab sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang memiliki kekuasaan. Sejarah juga ditulis oleh mereka yang berani bergerak ketika yang lain memilih bungkam.
Maka, dari Bontang, mari kita hidupkan kembali semangat pergerakan itu.
Mari kita buktikan bahwa organisasi kepemudaan bukan sekadar tempat berhimpun, tetapi ruang untuk mengabdi, berpikir, bergerak dan memberikan manfaat.
Mari kita bangun gerakan pemuda yang tidak terjebak pada ego sektoral, tetapi mampu berdiri bersama di tengah berbagai perbedaan.
Karena pada akhirnya, mengisi kemerdekaan bukan hanya tentang merayakannya setiap 17 Agustus. Mengisi kemerdekaan adalah tentang memastikan keberanian untuk bergerak tetap hidup setelah upacara selesai.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Pancasila Abadi! Merdeka!
