Oleh: Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Ida Sulistiani, SPd, MPd
Samarinda, Infosatu.co – Setiap 17 Agustus, kita memperingati kemerdekaan Indonesia. Ada upacara, pengibaran Sang Merah Putih, lagu-lagu perjuangan, dan berbagai kegiatan untuk mengenang perjuangan para pendahulu.
Indonesia sudah 81 tahun merdeka. Yang kita hadapi sekarang tentu berbeda dengan apa yang dihadapi para pejuang dulu. Kita tidak lagi berjuang untuk mengusir penjajah, tetapi punya pekerjaan lain, yakni bagaimana menggunakan kemerdekaan yang sudah diperjuangkan itu dengan sebaik-baiknya.
Kemerdekaan memberi kesempatan kepada setiap orang untuk belajar, menentukan pilihan, mengembangkan diri dan ikut berbuat sesuatu untuk lingkungannya.
Bagi anak muda, kesempatan itu sebenarnya sangat besar. Mereka bisa belajar dari mana saja, mengenal berbagai bidang, membuat karya, membangun usaha, bahkan memperkenalkan kemampuannya kepada orang lain tanpa harus menunggu punya banyak fasilitas.
Tentu saja, kesempatan tersebut juga datang dengan tantangan yang berbeda.
Merdeka dari Kebiasaan yang Menghambat Diri
Penjajahan mungkin sudah menjadi bagian dari sejarah. Tetapi ada hal lain yang kadang justru membuat seseorang sulit maju adalah kebiasaan sendiri.
Malas belajar, takut mencoba, gampang menyerah, terlalu lama bermain gawai, atau memilih pergaulan yang tidak membawa kebaikan bisa menjadi penghambat.
Media sosial juga perlu digunakan dengan hati-hati. Kita bisa mendapatkan banyak informasi dari sana, tetapi tidak semuanya benar. Kita juga bisa dengan mudah mengatakan sesuatu kepada orang lain tanpa memikirkan dampaknya.
Kalau tidak bisa mengendalikan diri, teknologi dan kebebasan yang kita miliki justru bisa membawa masalah.
Merdeka berarti punya kendali atas diri sendiri. Tahu apa yang baik untuk dilakukan dan berani meninggalkan sesuatu yang bisa merugikan diri sendiri.
Bertumbuh juga tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Belajar lebih rajin, berani bertanya, mencoba hal baru, memperbaiki kesalahan, atau kembali mencoba setelah gagal adalah bagian dari proses itu.
Generasi Muda dan Teknologi
Anak muda sekarang hidup di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat. Informasi bisa dicari dalam hitungan detik. Media sosial bisa digunakan untuk mengenalkan karya. Teknologi kecerdasan buatan juga semakin mudah ditemukan dalam kegiatan sehari-hari.
Ini tentu menjadi peluang. Yang perlu diperhatikan adalah cara menggunakannya.
Jangan sampai gawai hanya dipakai untuk menghabiskan waktu. Jangan sampai media sosial membuat kita hanya sibuk melihat kehidupan orang lain. Dan jangan sampai teknologi membuat kita terbiasa mencari sesuatu secara instan tanpa mau memahami prosesnya.
Teknologi bisa membantu kita belajar, membuat karya, mencari pekerjaan, membangun usaha, atau menyelesaikan masalah. Banyak hal yang dulu sulit dilakukan sekarang menjadi lebih mudah.
Tetapi tetap ada hal yang harus dikerjakan sendiri. Belajar, berpikir, mencoba dan bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan.
Anak muda tidak harus menjauhi teknologi. Justru harus mengenalnya dan menggunakannya dengan baik.
Prestasi Tidak Hanya Soal Nilai
Nilai tetap penting dalam pendidikan. Tetapi nilai yang bagus belum tentu menunjukkan seluruh kemampuan seorang anak.
Ketika masuk ke kehidupan setelah sekolah, ada banyak hal yang akan dihadapi. Bekerja dengan orang lain, menyampaikan pendapat, menerima kritik, menghadapi kegagalan, sampai mengambil keputusan.
Kemampuan seperti itu juga perlu dilatih sejak sekolah.
Indonesia membutuhkan anak muda yang punya pengetahuan dan karakter. Yang mampu bersaing, tetapi tidak kehilangan kepedulian kepada orang lain. Yang berani berbicara, tetapi juga mau mendengarkan.
Cita-cita besar juga perlu disertai usaha. Tidak semua keinginan bisa langsung tercapai. Ada proses yang harus dilalui, termasuk ketika harus menghadapi kegagalan.
Anak perlu diberi kesempatan untuk mengalami itu. Dari sana mereka belajar bahwa tidak semua hal berjalan sesuai rencana dan kegagalan bukan alasan untuk berhenti.
Sekolah Mengajarkan Banyak Hal
Sekolah memang tempat untuk belajar berbagai mata pelajaran. Tetapi ada banyak pelajaran lain yang tidak selalu muncul dalam buku atau soal ujian.
Datang tepat waktu mengajarkan disiplin. Menjaga kebersihan kelas mengajarkan tanggung jawab. Menghargai guru dan teman mengajarkan bagaimana memperlakukan orang lain.
Ketika siswa berani menyampaikan pendapat, mereka belajar berbicara. Ketika mengikuti organisasi atau bekerja dalam kelompok, mereka belajar bekerja sama. Ketika mengerjakan tugas tanpa menyontek, mereka belajar tentang kejujuran.
Kebiasaan seperti itu akan terbawa ketika mereka sudah tidak lagi memakai seragam sekolah.
Karena itu, sekolah tidak cukup hanya mengejar hasil akademik. Anak juga perlu mendapat ruang untuk berpendapat, mencoba, melakukan kesalahan, dan belajar memperbaikinya.
Tidak Harus Menunggu Dewasa untuk Berkontribusi
Kontribusi kepada bangsa sering dianggap baru bisa dilakukan ketika seseorang sudah dewasa, punya pekerjaan, punya jabatan, atau dikenal banyak orang.
Padahal tidak harus menunggu selama itu.
Pelajar bisa memulai dari hal yang dekat. Belajar dengan sungguh-sungguh, membantu teman, menjaga lingkungan sekolah, menghormati orang lain, menggunakan media sosial dengan baik, dan berani melakukan sesuatu yang benar.
Tidak semuanya harus menjadi kegiatan besar.
Kalau kebiasaan baik itu terus dilakukan, manfaatnya juga akan terasa. Setidaknya bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar.
Generasi Hari Ini dan Indonesia 2045
Indonesia akan berusia 100 tahun pada 2045. Anak-anak yang sekarang masih duduk di bangku sekolah akan menjadi bagian dari masyarakat yang menjalankan berbagai bidang kehidupan saat itu.
Mereka akan menjadi guru, dokter, pengusaha, insinyur, seniman, ilmuwan, pekerja profesional dan mungkin menjadi pemimpin.
Karena itu, persiapan menuju 2045 tidak cukup hanya membicarakan pembangunan dan kemajuan ekonomi. Kita juga harus melihat siapa yang akan menjalankannya.
Anak-anak hari ini perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan perubahan zaman. Mereka juga perlu belajar beradaptasi, bekerja dengan orang lain, menyelesaikan masalah, dan tetap memegang nilai-nilai yang baik.
Semua itu tidak bisa dibentuk dalam semalam.
Pendidikan, keluarga, lingkungan dan pengalaman sehari-hari ikut menentukan seperti apa mereka ketika dewasa nanti.
Apa yang Kita Tinggalkan?
Kemerdekaan yang kita nikmati sekarang merupakan hasil perjuangan generasi sebelum kita. Ada tenaga, pikiran, waktu, dan nyawa yang dikorbankan untuk mendapatkannya.
Generasi sekarang memang tidak lagi diminta berperang. Tetapi kemerdekaan juga tidak berarti kita boleh berhenti berbuat.
Mengisi kemerdekaan bisa dilakukan melalui pekerjaan masing-masing. Seorang pelajar dengan belajar. Seorang guru dengan mendidik. Seorang pekerja dengan menjalankan pekerjaannya dengan baik. Begitu juga dengan profesi dan peran lainnya.
Hal sederhana seperti menjaga lingkungan, menghargai perbedaan, membantu orang lain, dan menggunakan teknologi dengan bertanggung jawab juga bagian dari kehidupan sebagai warga negara.
Kita mungkin tidak tahu persis seperti apa Indonesia beberapa puluh tahun lagi. Tetapi kita tahu bahwa generasi setelah kita akan hidup dengan apa yang kita tinggalkan hari ini.
Karena itu, kemerdekaan tidak hanya berbicara tentang apa yang sudah kita terima. Ada tanggung jawab untuk meneruskannya.
Di usia 81 tahun Indonesia merdeka, mari gunakan kebebasan yang kita punya untuk terus belajar dan berkembang. Anak muda tidak harus menunggu menjadi orang besar untuk mulai berkarya.
Mulai dari apa yang bisa dilakukan sekarang. Mulai dari lingkungan sendiri dan kalau ada kesempatan untuk membantu orang lain, jangan ragu mengambilnya.
Itulah salah satu cara sederhana untuk mengisi kemerdekaan.
