Samarinda, Infosatu.co – Tuntutan agar atlet mampu meraih prestasi harus diimbangi dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) pun memastikan fasilitas olahraga milik daerah tetap dapat digunakan secara gratis oleh atlet yang menjalani pembinaan.
Kepala Disporapar Samarinda Muslimin mengatakan pemerintah sengaja membedakan pengelolaan aset olahraga yang bersifat komersial dengan fasilitas yang diperuntukkan bagi pembinaan atlet.
Menurutnya, kebijakan tersebut bertujuan agar keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi atlet dalam menjalani latihan.
“Aset yang digunakan untuk pembinaan atlet memang kami gratiskan. Atlet tidak dibebankan biaya karena mereka memang dipersiapkan untuk membawa nama daerah,” katanya, Rabu 1 Juli 2026.
Ia menjelaskan, sejumlah fasilitas yang dimanfaatkan untuk latihan cabang olahraga seperti anggar, taekwondo, pencak silat hingga lapangan voli tidak dikenakan retribusi selama digunakan dalam program pembinaan atlet.
Sebaliknya, retribusi hanya diberlakukan terhadap aset pemerintah yang dimanfaatkan untuk kegiatan komersial atau penggunaan umum. Beberapa di antaranya Stadion Segiri, kawasan Polder, dan Taman Cerdas yang selama ini dikelola melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Menurut Muslimin, kebijakan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mendukung peningkatan prestasi olahraga di Kota Samarinda.
Namun di sisi lain, ia mengakui pembinaan atlet masih menghadapi berbagai tantangan. Tidak sedikit atlet yang berasal dari keluarga sederhana sehingga memerlukan perhatian lebih dari pemerintah.
“Boro-boro membayar tempat latihan untuk berangkat latihan saja kadang mereka masih meminta bantuan orang tuanya,” jelasnya.
Kondisi itu pun dinilai menjadi perhatian serius, karena target prestasi tidak akan tercapai apabila kebutuhan dasar atlet belum terpenuhi.
“Kita (pemerintah) memiliki tanggung jawab menyediakan sarana penunjang agar atlet dapat berlatih secara maksimal,” tuturnya.
Muslimin menilai dukungan tersebut tidak hanya berupa penyediaan tempat latihan, tetapi juga mencakup kelengkapan peralatan olahraga, kebutuhan vitamin, pakaian latihan, hingga uang saku selama menjalani program pembinaan.
“Kalau atlet dituntut meraih medali emas, maka pemerintah juga harus menyiapkan sarana pendukungnya. Tempat latihan, peralatan, vitamin, pakaian sampai uang saku juga harus menjadi perhatian,” tegasnya.
Saat ini, Disporapar terus berupaya mengalokasikan anggaran guna memenuhi kebutuhan tersebut, termasuk sebagai bagian dari persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) mendatang.
Ia berharap dukungan Pemkot Samarinda terhadap sektor olahraga terus diperkuat, sehingga proses pembinaan atlet dapat berjalan lebih optimal dan mampu melahirkan prestasi yang membanggakan bagi daerah.
“Harapan kami pembinaan atlet bisa terus didukung karena prestasi tidak lahir begitu saja. Harus ada fasilitas dan dukungan yang memadai agar atlet dapat berkembang secara maksimal,” pungkasnya.
