infosatu.co
PENDIDIKAN

81 Tahun Indonesia Merdeka: Sudahkah Pendidikan Kita Melahirkan Generasi yang Merdeka Berpikir?

Teks: Dr. Abdul Rozak Fahrudin, M.Pd, Pengurus Dewan Pendidikan dan Ketua Harian ISMAPI Provinsi Kaltim. (Istimewa)

Oleh: Dr Abdul Rozak Fahrudin MPd, Pengurus Dewan Pendidikan dan Ketua ISMAPI Provinsi Kaltim

Samarinda, Infosatu.co – Indonesia memasuki 81 tahun kemerdekaan. Bendera Merah Putih berkibar di sekolah, kantor pemerintahan dan berbagai tempat. Upacara kembali menjadi bagian dari peringatan yang kita lakukan setiap tahun.

Namun, ada satu pertanyaan menurut hemat saya sebagai seorang praktisi pendidikan yang perlu kita renungkan bersama. Setelah 81 tahun merdeka, sudahkah pendidikan kita melahirkan generasi yang benar-benar merdeka dalam berpikir?

Dulu, musuh kemerdekaan kita adalah penjajahan secara fisik. Hari ini tantangannya sudah bukan itu. Anak-anak kita berhadapan dengan banjir informasi, media sosial, algoritma dan teknologi kecerdasan buatan atau AI.

Berkenaan soal teknologi, tentu itu bukan musuh. Jika kita membahas AI, hal tersebut kini justru bisa menjadi alat yang sangat membantu proses pendidikan. Namun tak sampai di situ, persoalannya adalah bagaimana kita memastikan teknologi tidak membuat anak-anak kita kehilangan kebiasaan untuk berpikir dan menjalani proses.

Hari ini, mencari jawaban sudah sangat mudah. Mau membuat tulisan, ada AI. Mau mencari informasi, tinggal membuka internet. Bahkan berbagai tugas sekolah dan kuliah bisa diselesaikan dalam waktu singkat dengan bantuan teknologi.

Pertanyaannya, apakah anak kita benar-benar memahami apa yang mereka kerjakan?

Di sinilah peran guru dan dosen menjadi semakin penting.

Guru dan Dosen Harus Naik Kelas

Kalau dulu guru sering menjadi tempat utama siswa mencari jawaban, sekarang sebagian fungsi itu sudah dapat dilakukan teknologi.

Karena itu, guru dan dosen tidak boleh berhenti sebagai pemberi jawaban. Perannya harus berkembang menjadi pendamping yang mengajarkan bagaimana sebuah jawaban diuji.

Misalnya ketika siswa mendapatkan jawaban dari AI, jangan berhenti pada pertanyaan apakah jawabannya benar atau salah.

Tanyakan kembali, dari mana datanya? Apakah sumbernya bisa dipercaya? Bagaimana kalau AI keliru? Apa alasan kamu menerima atau menolak jawaban tersebut?

Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru menjadi semakin penting di era AI.

Sebab AI bisa membantu memberikan jawaban, tetapi kemampuan untuk menilai, mempertanyakan, dan mengambil keputusan tetap harus dibangun melalui pendidikan.

Kalau pembelajaran hanya sebatas membaca slide dan memberikan jawaban, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan siswa justru merasa lebih mudah belajar melalui telepon genggamnya.

Jangan Sampai Anak Kehilangan Proses

Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah kebiasaan mencari sesuatu secara instan.

PR dikerjakan dengan AI. Membuat presentasi menggunakan AI. Mencari ide tulisan dengan AI. Bahkan untuk menyusun argumen dalam diskusi pun bisa meminta bantuan AI.

Sekali lagi, menggunakan AI tidak salah. Yang menjadi persoalan adalah ketika anak tidak lagi mau berpikir sebelum bertanya kepada AI.

Padahal, pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan jawaban. Pendidikan adalah tentang proses untuk mendapatkan jawaban tersebut.

Anak perlu diberi kesempatan untuk salah, membaca berbagai sumber, berdiskusi, berdebat, memperbaiki tugas dan mencoba kembali.

Merdeka berpikir tidak berarti selalu benar. Merdeka berpikir berarti berani memiliki pendapat dan siap mempertanggungjawabkannya.

Di sinilah sekolah dan perguruan tinggi harus mengambil peran.

Kaltim Tidak Boleh Hanya Menjadi Penonton

Bagi kita di Kalimantan Timur, tantangan tersebut menjadi semakin nyata dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN).

Ke depan, anak-anak Kaltim akan menghadapi persaingan yang jauh lebih terbuka. Mereka tidak hanya bersaing dengan lulusan dari Samarinda, Balikpapan, atau daerah lain di Kaltim, tetapi juga dengan generasi muda dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri.

Karena itu, pendidikan Kaltim harus mempersiapkan mereka sejak sekarang.

Kita membutuhkan anak-anak yang tidak hanya mampu menghafal, tetapi juga mampu berkomunikasi, bekerja sama, memimpin, menyelesaikan masalah dan beradaptasi dengan perubahan.

Sebagai bagian dari Dewan Pendidikan Kaltim dan Ikatan Sarjana Manajemen dan Administrasi Pendidikan Indonesia (ISMAPI) Kaltim, saya melihat tantangan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau perguruan tinggi.

Orang tua, pemerintah, organisasi pendidikan, guru, dosen dan masyarakat harus memiliki perhatian yang sama.

Literasi digital guru harus diperkuat. Pembelajaran harus semakin relevan dengan perkembangan zaman. Dan yang tidak kalah penting, pendidikan harus tetap menempatkan manusia sebagai pusatnya.

Jangan sampai anak-anak kita sudah sangat mahir menggunakan AI, tetapi justru kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis, berdiskusi, dan mengambil keputusan.

Merdeka Berpikir adalah Inti Kemerdekaan

Kemerdekaan bukan hanya berarti bebas dari penjajahan. Dalam pendidikan, kemerdekaan juga harus terlihat dari kemampuan seseorang untuk berpikir, menentukan sikap, dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Merdeka berpikir berarti kita tidak mudah menerima sesuatu hanya karena banyak orang mengatakannya benar. Kita perlu melihat kenyataan, memahami persoalan, membandingkan berbagai pandangan, lalu menggunakan logika sebelum mengambil kesimpulan.

Cara berpikir seperti inilah yang menurut saya perlu lebih kuat ditanamkan dalam pendidikan kita. Melihat kenyataan, menguji persoalan dari berbagai sudut, dan menggunakan logika untuk menemukan jalan keluar.

Tiga hal ini penting agar pendidikan tidak hanya menghasilkan anak yang pandai menjawab, tetapi juga mampu memahami persoalan dan mengambil keputusan.

Di tengah perubahan zaman dan kemajuan teknologi, termasuk kehadiran AI, prinsip tersebut justru semakin penting. Teknologi boleh membantu proses belajar, tetapi jangan sampai menggantikan proses berpikir.

Sekolah dan perguruan tinggi harus menjadi ruang bagi peserta didik untuk bertanya, berdiskusi, berbeda pendapat, mencoba, salah, memperbaiki, dan menemukan solusi.

Di situlah pendidikan menjalankan tugasnya untuk memerdekakan manusia.

Jika pendidikan kita mampu melahirkan generasi yang berani berpikir, mampu menggunakan logika, terbuka terhadap perbedaan, dan bertanggung jawab atas pilihannya, maka kemerdekaan tidak berhenti sebagai peringatan setiap 17 Agustus.

Kemerdekaan akan terlihat dalam cara generasi kita berpikir, bersikap dan menghadapi persoalan bangsanya.

Selamat HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Merdeka berpikir dan merdeka berkarya.

Related posts

Perkuat Manajemen Pendidikan, ISMAPI Kaltim Jadi Wadah Sarjana dan Praktisi Pendidikan

Rizki

IKIP PGRI Kaltim Kembali Cetak Ratusan Lulusan dengan Bekal Kompetensi untuk Dunia Kerja

Rizki

IKIP PGRI Kaltim Rampungkan Yudisium, 187 Lulusan Dijadwalkan Wisuda 14 Oktober

Rizki