Samarinda, Infosatu.co – Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 di Samarinda menjadi bukti nyata bahwa pendidikan mampu mengubah masa depan anak-anak dari latar belakang sulit, mulai dari persoalan ekonomi, sosial, hingga hukum.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kalimantan Timur Sri Wahyuni mengungkapkan bahwa para siswa yang kini tampil percaya diri dulunya datang dengan berbagai keterbatasan, bahkan ada yang belum bisa membaca di usia 10 tahun.
“Setelah dibina satu tahun, mereka memastikan diri harus punya ilmu, pendidikan, karakter, dan kemampuan. Ini luar biasa,” ujarnya dalam kegiatan Open House, Sabtu, 20 Juni 2026.
Menurutnya, perubahan signifikan terjadi dalam waktu relatif singkat. Bahkan, siswa yang sebelumnya belum bisa membaca mampu berkembang hanya dalam waktu dua bulan pembelajaran.
Tak hanya fokus pada akademik, Sekolah Rakyat juga menanamkan nilai kedisiplinan dan kepemimpinan melalui kegiatan seperti baris-berbaris.
“Ini bukan sekadar latihan fisik, tapi membentuk karakter. Anak-anak belajar disiplin, patuh, dan menghargai pemimpin, meskipun komandannya teman sendiri,” jelasnya.
Sri Wahyuni mengakui, proses pembinaan di awal bukan hal yang mudah. Banyak siswa mengalami resistensi karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang berbeda dari kehidupan sebelumnya.
Namun, berkat kesabaran guru dan dukungan orang tua, para siswa mampu melewati fase tersebut dan menunjukkan perkembangan yang membanggakan.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga lingkungan sekolah yang inklusif dan bebas dari perundungan (bullying), mengingat latar belakang siswa yang beragam.
“Semua anak sama. Kita tidak boleh ada bullying. Justru di sini mereka belajar menerima perbedaan,” tegasnya.
Perubahan juga terlihat dari cara pandang siswa terhadap masa depan. Jika sebelumnya mereka hanya memiliki cita-cita terbatas, kini mereka mulai berani bermimpi lebih tinggi.
“Dulu cita-citanya mungkin hanya jadi pekerja biasa. Sekarang mereka sudah punya wawasan lebih luas, ingin masuk akademi, sekolah kedinasan, bahkan perguruan tinggi,” katanya.
Pemprov Kaltim pun berkomitmen mendukung langkah tersebut, termasuk membuka peluang bagi siswa Sekolah Rakyat untuk melanjutkan ke sekolah kedinasan seperti IPDN maupun perguruan tinggi.
Di akhir sambutannya, Sri Wahyuni menyampaikan apresiasi tinggi kepada para guru yang dinilai telah menjalankan tugas mulia dengan tingkat tantangan yang besar.
“Ini bukan pekerjaan mudah. Tapi Bapak Ibu guru sudah membuktikan mampu membina anak-anak dari berbagai latar belakang menjadi seperti hari ini. Ini luar biasa dan menjadi amal jariyah,” tuturnya.
