infosatu.co
KESEHATAN

Tekan Risiko Kematian Ibu dan Bayi, Nakes Bontang Dilatih Tangani Distosia Bahu dan Asfiksia

Teks: Dokter, bidan dan perawat mengikuti workshop penanganan kegawatdaruratan persalinan yang digelar Dinkes Bontang. (Dok: PPID Dinkes Bontang)

Bontang, Infosatu.co – Upaya menekan risiko kematian ibu dan bayi terus dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang melalui peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dalam menangani komplikasi persalinan.

Salah satunya melalui pelatihan penanganan distosia bahu dan asfiksia yang diikuti dokter, bidan, dan perawat dari berbagai fasilitas kesehatan di Kota Bontang.

Distosia bahu merupakan kondisi kegawatdaruratan saat proses persalinan ketika bahu bayi tersangkut setelah kepala berhasil dilahirkan. Sementara asfiksia adalah kondisi ketika bayi gagal bernapas secara spontan setelah lahir.

Kedua kondisi tersebut membutuhkan penanganan cepat dan tepat karena dapat meningkatkan risiko kematian maupun kecacatan pada ibu dan bayi.

Kegiatan yang digelar di RSUD Taman Husada Bontang tersebut juga membekali peserta dengan keterampilan penggunaan partograf sebagai alat deteksi dini penyulit persalinan serta resusitasi bayi baru lahir.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan tenaga kesehatan memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam upaya penyelamatan ibu dan bayi saat proses persalinan.

Menurutnya, deteksi dini serta penanganan yang cepat dan tepat menjadi faktor utama dalam menghadapi berbagai kondisi kegawatdaruratan yang dapat terjadi saat persalinan.

“Deteksi dini dan penanganan yang cepat serta tepat adalah kunci utama dalam menghadapi kegawatdaruratan persalinan. Melalui workshop ini, kami berharap seluruh dokter, bidan, dan perawat di Kota Bontang memiliki kesamaan persepsi, standar kompetensi yang prima, dan kesiapan mental yang kuat,” ujarnya, Jumat, 19 Juni 2026.

Nakes juga mendapatkan materi mengenai optimalisasi penggunaan partograf sebagai alat pemantauan persalinan.

Instrumen tersebut digunakan untuk membantu tenaga kesehatan mendeteksi lebih awal kemungkinan terjadinya komplikasi maupun persalinan lama sehingga tindakan dapat dilakukan lebih cepat.

Selain itu, nakes mendapat pelatihan penanganan distosia bahu melalui berbagai teknik yang aman dan sesuai standar medis.

Kemampuan tersebut dinilai penting karena kondisi tersebut terjadi secara tiba-tiba dan membutuhkan respons cepat dari tenaga kesehatan yang menangani persalinan.

Materi lainnya adalah resusitasi bayi baru lahir, termasuk langkah-langkah penyelamatan awal bagi bayi yang mengalami asfiksia.

Penanganan pada menit-menit pertama kehidupan bayi menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang keselamatan dan mencegah komplikasi lanjutan.

Kegiatan yang diikuti tenaga kesehatan dari rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, hingga klinik di Kota Bontang tersebut juga diisi dengan sesi simulasi guna memperkuat kemampuan praktik peserta dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan yang sesungguhnya.

Dinas Kesehatan Kota Bontang berharap pelatihan ini tidak hanya meningkatkan kapasitas individu tenaga kesehatan, tetapi juga memperkuat sinergi dan jejaring pelayanan antar-fasilitas kesehatan dalam memberikan layanan maternal dan neonatal yang berkualitas.

“Melalui workshop ini, kami berharap seluruh dokter, bidan, dan perawat di Kota Bontang memiliki kesamaan persepsi, standar kompetensi yang prima, dan kesiapan mental yang kuat,” tutup Toetoek.

Related posts

Tak Hanya Bersih, Depot Air Minum di Bontang Diminta Penuhi Standar Kesehatan

Rizki

RTLH di Bantaran Sungai Jadi Ancaman Tersembunyi Stunting di Kaltim

Emmy Haryanti

Posyandu Naik Kelas, Dinkes Bontang Dorong Layanan Kesehatan untuk Semua Usia

Rizki