Samarinda, Infosatu.co – RSUD Inche Abdoel Moeis (IA Moeis) Samarinda perkuat layanan bagi pasien gagal jantung dengan dukungan peralatan medis canggih dari Kementerian Kesehatan. Salah satunya ekokardiografi (EKO) yang disebut memiliki kemampuan canggih untuk mendukung pemeriksaan kondisi jantung pasien.
Direktur RSUD IA Moeis Samarinda dr Osa Rafshodia mengatakan keberadaan peralatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan Klinik Gagal Jantung yang mulai dikenalkan kepada masyarakat.
Selain EKO, rumah sakit juga mendapat alat Holter monitor untuk mendukung pemeriksaan dan pemantauan kondisi jantung.
Holter monitor sendiri ialah perangkat medis portabel berukuran kecil, biasanya sebesar ponsel genggam atau kamera saku yang dilengkapi dengan kabel dan beberapa bantalan tempel (elektroda) untuk ditempelkan di area dada Anda.
Perangkat ini berfungsi merekam aktivitas listrik jantung secara terus-menerus selama Anda beraktivitas di luar rumah sakit.
“Yang satu yang kita bedakan adalah tadi terkait akses kepada alat-alat canggih. Kita dapat banyak alat, termasuk salah satunya EKO dan holter monitor untuk deteksi ini tadi,” kata Osa saat diwawancarai usai Seminar dan Talkshow Pengenalan Layanan Klinik Gagal Jantung RSUD IA Moeis Samarinda, Sabtu, 19 September 2026.
Osa menyebut alat EKO yang dimiliki RSUD IA Moeis sebagai yang tercanggih di Pulau Kalimantan. Peralatan tersebut digunakan untuk menunjang pemeriksaan pasien yang membutuhkan penanganan terkait gagal jantung.
Pengembangan klinik tersebut tidak hanya menyangkut ketersediaan peralatan.
Pasien yang memiliki tanda-tanda atau telah menderita gagal jantung akan diarahkan langsung ke Klinik Gagal Jantung, sehingga tidak perlu mengikuti antrean bersama pasien jantung lainnya di poli umum.
“Pasien-pasien yang memiliki tanda-tanda gagal jantung atau sudah menderita gagal jantung, dia akan langsung diarahkan ke klinik gagal jantung, bukan di poli jantung pada umumnya,” jelas Osa.
Pasien juga, lanjut Osa, akan mendapatkan penyesuaian layanan, termasuk jenis obat, telemedisin, serta sistem registrasi khusus.
Dengan sistem tersebut, rumah sakit dapat mengetahui bahwa pasien memiliki riwayat gagal jantung ketika membutuhkan penanganan dalam kondisi darurat.
“Bila ada kegawatdaruratan, rumah sakit juga sudah tahu bahwa ini pasien gagal jantung. Jadi, UGD-nya lebih siap,” katanya.
Layanan Klinik Gagal Jantung dapat menerima pasien dengan rujukan dari berbagai fasilitas kesehatan.
Pasien peserta BPJS Kesehatan juga sudah dapat memperoleh pelayanan di klinik tersebut.
Namun, layanan Cath Lab untuk pasien jantung masih belum dapat digunakan bagi peserta BPJS Kesehatan di RSUD IA Moeis.
Osa mengatakan rumah sakit masih mengupayakan agar layanan tersebut dapat tersedia, termasuk untuk tindakan pemasangan ring jantung.
“Yang belum bisa pasien BPJS untuk jantung itu adalah cath lab. Pasang ring jantung. Nah, itu masih kami upayakan,” ujarnya.
Osa mengatakan pengajuan layanan tersebut telah dilakukan lebih dari setahun, tetapi hingga kini belum terealisasi.
Sementara itu, Klinik Gagal Jantung ditargetkan dapat membantu menekan risiko kematian akibat penyakit tersebut.
Osa menyebut angka kematian gagal jantung berada di kisaran 30 persen berdasarkan statistik yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut.
“Tujuannya satu tadi, mengurangi angka kematian. Itu nomor satu tujuannya. Tadi kan kita lihat secara statistik itu kematiannya 30-an persen,” tutup Osa.
