Samarinda, Infosatu.co – Beberapa hari terakhir, cuaca di Samarinda terasa lebih sejuk dari biasanya, bahkan sejak pagi hingga siang hari yang biasanya mengalami suhu tinggi dan kelembapan rendah.
Namun, kesejukan itu datang bersamaan dengan kabut asap yang terlihat pekat dan menyelimuti sebagian besar wilayah kota.
Sekilas, suhu yang lebih rendah mungkin terasa seperti kondisi yang lebih nyaman. Tetapi, udara yang terasa sejuk di tengah pekatnya kabut asap tidak selalu berarti kualitas udara sedang membaik.
Ada penjelasan di balik kondisi tersebut. Ketika asap dan awan tebal memenuhi atmosfer, paparan sinar matahari yang mencapai permukaan bumi dapat berkurang.
Partikel di udara dapat menghamburkan dan menyerap sebagian radiasi matahari sehingga energi panas yang sampai ke permukaan ikut berkurang.
Akibatnya, suhu pada siang hari dapat terasa lebih rendah. Persoalannya, pada saat yang sama, asap karhutla membawa partikel halus seperti PM2.5 yang justru memperburuk kualitas udara.
Kondisi tersebut tercermin dalam pembaruan data pemantauan kualitas udara pada Sabtu, 19 September 2026.
Berdasarkan update BMKG pada pukul 02.00 Wita, konsentrasi PM2.5 sempat mencapai 627 µg/m³ di Samarinda.
Angka tersebut kemudian berangsur turun. Pada pukul 08.00 Wita, konsentrasi PM2.5 tercatat 341 µg/m³.
Penurunan konsentrasi tersebut menunjukkan kondisi udara membaik dibanding beberapa jam sebelumnya, tetapi angka tersebut tetap perlu menjadi perhatian. Sebab, PM2.5 merupakan partikel sangat halus yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Mengapa asap membuat udara terasa sejuk?
Sinar matahari menjadi salah satu sumber energi yang memanaskan permukaan bumi. Ketika langit cerah, radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan dan memanaskan tanah, bangunan, jalan serta benda-benda di sekitarnya.
Situasinya berubah ketika atmosfer dipenuhi awan dan partikel asap. Sebagian radiasi matahari dihamburkan atau diserap sebelum mencapai permukaan.
Semakin tebal lapisan awan dan kabut asap, semakin sedikit energi matahari yang sampai ke permukaan. Kondisi tersebut dapat membuat pemanasan pada siang hari berkurang sehingga udara terasa lebih sejuk.
Namun, kesejukan tersebut tidak boleh dibaca sebagai tanda bahwa udara sedang bersih.
Justru, berkurangnya paparan matahari dapat terjadi bersamaan dengan meningkatnya konsentrasi partikulat di udara.
PM2.5 berukuran jauh lebih kecil dari rambut
PM2.5 merupakan partikel udara dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan diameter rambut manusia yang umumnya mencapai puluhan mikrometer.
Karena ukurannya sangat kecil, PM2.5 dapat terhirup dan masuk jauh ke dalam paru-paru.
WHO menyebut partikulat PM2.5 sebagai salah satu polutan dengan risiko kesehatan yang paling terdokumentasi, karena dapat menembus bagian dalam paru-paru dan berkaitan dengan dampak pada sistem pernapasan serta kardiovaskular.
Dalam konteks kebakaran hutan, PM2.5 menjadi perhatian khusus. WHO menyebut asap kebakaran mengandung campuran berbagai polutan dan sekitar 90 persen massa partikulat yang dihasilkan kebakaran hutan berukuran PM2.5 atau lebih kecil.
PM2.5 juga tidak hanya berasal dari karhutla. Partikel tersebut dapat terbentuk dari berbagai aktivitas pembakaran, termasuk emisi kendaraan, pembakaran sampah dan aktivitas industri.
Artinya, persoalan kualitas udara tidak hanya dapat dilihat dari seberapa tebal asap yang tampak oleh mata. Sebagian partikel pencemar berukuran sangat kecil sehingga tidak selalu terlihat secara kasatmata.
Sejuk bukan berarti lebih sehat
Di sinilah fenomena yang terjadi di Samarinda perlu dipahami dengan hati-hati.
Udara yang terasa lebih sejuk memang dapat memberikan rasa nyaman. Namun, kenyamanan suhu dan kualitas udara merupakan dua hal berbeda.
Suhu dapat menurun karena berkurangnya radiasi matahari yang mencapai permukaan, sementara konsentrasi PM2.5 di udara justru tetap tinggi. Kedua kondisi tersebut bahkan dapat terjadi dalam waktu yang sama.
Kementerian Kesehatan sebelumnya mengingatkan PM2.5 dari asap karhutla dapat menembus sistem pernapasan dan menjadi salah satu ancaman kesehatan utama selama periode kabut asap.
Kemenkes juga meminta perlindungan lebih bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta.
WHO juga mencatat paparan asap kebakaran dapat memicu iritasi mata dan saluran pernapasan, memperburuk asma, menyebabkan gangguan pernapasan, hingga meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
Anak-anak, lansia, ibu hamil serta orang dengan penyakit jantung atau paru termasuk kelompok yang lebih rentan.
Karena itu, ketika kabut asap semakin pekat, rasa sejuk tidak seharusnya menjadi alasan untuk menganggap kondisi di luar ruangan lebih aman.
