Samarinda, Infosatu.co – Upaya penanganan stunting di Kota Samarinda terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Samarinda mencatat sebanyak 464 keluarga risiko stunting menjadi sasaran intervensi pada tahun ini.
Kepala DPPKB Samarinda Deasy Evriyani menyebutkan bahwa sebagian besar sasaran telah tertangani dan kini tersisa sebagian kecil yang masih dalam proses pendampingan.
“Untuk Kota Samarinda sudah clear sebagian besar, alhamdulillah. Dari total 464 sasaran, tinggal sedikit yang masih on going. Masih ada waktu hingga enam bulan ke depan untuk menuntaskan seluruh target,” ujarnya pada Senin, 8 Juni 2026 di Gedung PKK Kota Samarinda.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui Program MBG yang menyasar keluarga risiko stunting. Pada tahun ini, jumlah penerima manfaat meningkat menjadi 300 sasaran, seiring tingginya antusiasme masyarakat.
“Antusias masyarakat sangat tinggi. Bahkan banyak yang meminta penambahan kuota. Alhamdulillah tahun ini bertambah menjadi 300 penerima,” jelasnya.
Pelaksanaan program tersebut turut melibatkan berbagai pihak, mulai dari kader posyandu, Tim Pendamping Keluarga (TPK), hingga perangkat wilayah seperti camat dan lurah yang berperan dalam distribusi serta monitoring evaluasi di lapangan.
Tak hanya itu, kolaborasi juga diperluas dengan melibatkan pelaku usaha dan komunitas masyarakat. Menurut Deasy, kontribusi sektor non-pemerintah memiliki peran besar dalam mendukung percepatan penanganan stunting.
“Sangat besar peran pelaku usaha dan komunitas. Kami juga melibatkan berbagai kelompok masyarakat, seperti ibu-ibu arisan, Ketua RT, hingga komunitas ASN,” katanya.
Salah satu inovasi yang muncul dari tingkat masyarakat adalah program “Garet Genting” atau Gerakan 10.000 RT di Kelurahan Lempake. Melalui program ini, setiap Ketua RT menyumbang Rp10.000 untuk membantu pemenuhan nutrisi keluarga risiko stunting.
Selain intervensi berbasis nutrisi, pemerintah juga mulai mendorong program Genting non-nutrisi, seperti perbaikan rumah, penyediaan jamban sehat, dan akses air bersih.
“Kalau semua pihak bergerak bersama dan bergotong royong, kami optimistis seluruh keluarga risiko stunting bisa dicegah agar tidak menjadi stunting,” tegasnya.
Terkait target ke depan, DPPKB Samarinda masih menunggu pembagian target resmi dari BKKBN Provinsi Kalimantan Timur untuk tahun 2027.
