infosatu.co
KESEHATAN

Pengobatan HIV Gratis di Samarinda, Dinkes Catat 140 Pasien Jalani Terapi

Teks: Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, Infosatu.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda memastikan layanan pengobatan Human Immunodeficiency Virus (HIV) dapat diakses masyarakat secara gratis di sejumlah fasilitas kesehatan.

Hingga pertengahan 2026, sekitar 140 pasien telah menjalani terapi sebagai bagian dari tindak lanjut hasil skrining HIV.

Kepala Dinkes Samarinda Ismed Kusasih mengatakan deteksi dini menjadi langkah penting dalam pengendalian HIV.

Semakin cepat seseorang mengetahui status kesehatannya, semakin besar peluang untuk segera memperoleh pengobatan sehingga risiko berkembang menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) dapat ditekan.

“HIV ini bisa dikendalikan jika ditemukan lebih awal dan pasien disiplin menjalani pengobatan. Karena itu kami terus mendorong masyarakat untuk tidak takut melakukan skrining,” ujarnya usai menerima kunjungan supervisi Kementerian Kesehatan RI dalam agenda Analisis Kualitatif Program HIV/AIDS di Samarinda, Selasa 21 Juli 2026.

Ia menjelaskan, hingga Mei 2026 Dinkes telah melakukan skrining terhadap sekitar 19 ribu orang. Dari jumlah tersebut, ditemukan sekitar 180 kasus HIV, dengan sekitar 140 pasien telah melanjutkan pengobatan.

“Dari hasil skrining yang sudah kami lakukan, sekitar 140 orang sudah menjalani terapi. Pengobatannya disediakan secara gratis oleh pemerintah dan dapat diakses di puskesmas maupun rumah sakit yang memberikan layanan HIV,” jelasnya.

Menurut Ismed, tantangan terbesar dalam pengendalian HIV bukan hanya menemukan kasus, tetapi juga menghilangkan stigma yang masih melekat di masyarakat. Kondisi tersebut kerap membuat sebagian orang enggan memeriksakan diri maupun melanjutkan pengobatan.

“Jangan jauhi orangnya, tetapi jauhi penyakitnya. Stigma inilah yang harus kita hilangkan agar semakin banyak masyarakat berani melakukan pemeriksaan sejak dini,” katanya.

Ia menambahkan, penanganan HIV membutuhkan keterlibatan banyak pihak dan tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan.

Edukasi, deteksi dini, serta pendampingan pasien, lanjutnya, harus dilakukan secara berkelanjutan agar penularan dapat ditekan dan kualitas hidup penyandang HIV tetap terjaga.

“Semakin cepat ditemukan, semakin cepat diobati. Itu menjadi kunci untuk menekan risiko penyakit berkembang menjadi AIDS sekaligus meningkatkan harapan hidup pasien,” pungkasnya.

Related posts

Capaian Skrining HIV 2025 Tembus 99,8 Persen, Samarinda Jadi Lokus Evaluasi Kemenkes

Rizki

Bontang Jadi Lokus Pembinaan Kemenkes untuk Pengelolaan Limbah Medis

Rizki

Gemar Minuman Manis? Waspadai Risiko Diabetes hingga Penyakit Jantung

Emmy Haryanti