infosatu.co
KESEHATAN

Stigma Masih Jadi Tantangan Terbesar Penanganan HIV di Samarinda

Teks: Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, Infosatu.co – Stigma negatif terhadap orang dengan HIV masih menjadi tantangan terbesar dalam upaya penanggulangan Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kota Samarinda.

Kondisi tersebut dinilai membuat sebagian masyarakat enggan menjalani skrining maupun memulai pengobatan sejak dini.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda Ismed Kusasih mengatakan persoalan utama dalam penanganan HIV bukan terletak pada ketersediaan layanan kesehatan, melainkan masih kuatnya stigma yang berkembang di tengah masyarakat.

“Kendala HIV dari dulu sampai sekarang itu adalah stigma. Ketika orang diajak skrining HIV, responsnya berbeda dibanding saat diajak cek kolesterol atau gula darah. Padahal, semakin cepat ditemukan, semakin cepat pula bisa diobati,” ujarnya Rabu, 22 Juli 2026.

Menurut Ismed, penderita HIV yang terdeteksi sejak dini dan rutin menjalani terapi antiretroviral (ARV) tetap dapat hidup sehat dan produktif.

Sebaliknya, apabila terlambat ditangani hingga berkembang menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), risiko komplikasi hingga kematian akan meningkat.

Karena itu, Dinkes terus memperluas skrining sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif untuk menemukan kasus lebih awal. Hingga Mei 2026, capaian skrining HIV di Samarinda telah mencapai sekitar 45 persen dari target tahun ini.

Dari sekitar 19 ribu orang yang telah menjalani skrining, ditemukan 184 kasus HIV. Sebanyak sekitar 140 orang di antaranya telah menjalani pengobatan.

“Semakin banyak yang diskrining, semakin cepat kasus ditemukan dan diobati. Itu yang menjadi kunci untuk menekan angka kematian akibat HIV,” katanya.

Ismed menambahkan seluruh layanan pengobatan HIV tersedia secara gratis di fasilitas kesehatan pemerintah maupun sejumlah fasilitas kesehatan swasta yang bekerja sama dengan pemerintah. Identitas pasien juga dijamin kerahasiaannya sehingga masyarakat tidak perlu khawatir menjalani pemeriksaan.

Ia kembali mengingatkan masyarakat agar tidak mendiskriminasi orang dengan HIV. Menurutnya, yang harus dilawan adalah penyakitnya, bukan penderitanya.

“Jangan jauhi orangnya, tapi jauhi penyakitnya. Itu yang harus terus kita edukasikan kepada masyarakat agar stigma terhadap ODHIV perlahan bisa hilang,” pungkasnya.

Related posts

Pengobatan HIV Gratis di Samarinda, Dinkes Catat 140 Pasien Jalani Terapi

Rizki

Capaian Skrining HIV 2025 Tembus 99,8 Persen, Samarinda Jadi Lokus Evaluasi Kemenkes

Rizki

Bontang Jadi Lokus Pembinaan Kemenkes untuk Pengelolaan Limbah Medis

Rizki