Samarinda, Infosatu.co – Enam pabrik pemurnian refinery kelapa sawit yang dibangun perusahaan besar di Kalimantan Timur (Kaltim) ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan memperkuat industri hilir perkebunan sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas sawit di daerah.
Salah satu unit terbaru berada di Kabupaten Kutai Timur. Seluruh fasilitas tersebut diproyeksikan memproduksi crude palm oil (CPO) dan berbagai produk turunannya yang telah memenuhi standar ekspor.
Pengembangan industri hilir ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim memperkuat sektor perkebunan sebagai penopang transformasi ekonomi daerah. Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap sektor ekstraktif.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim Arif Murdiyatno menyebut keberadaan enam refinery tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan nilai jual komoditas perkebunan, khususnya kelapa sawit.
Menurutnya, pengembangan sawit tidak cukup hanya melalui peningkatan luas lahan dan produksi. Pengolahan di tingkat hilir juga perlu diperkuat agar komoditas yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi sebelum dipasarkan.
“Alhamdulillah mudah-mudahan tahun depan sudah bisa berjalan enam refinery ini memproduksi CPO dan turunannya. Ini juga sudah berstandar ekspor, dan mudah-mudahan nanti nilai jual serta nilai tambahnya menjadi lebih baik,” ungkap Arif dalam Forum Konsultasi Publik Disbun Kaltim, Kamis, 5 November 2026.
Selain kelapa sawit, Disbun Kaltim juga melakukan pembenahan terhadap komoditas perkebunan lainnya. Salah satunya melalui verifikasi dan pendataan ulang komoditas karet untuk memenuhi persyaratan ketat pasar ekspor Eropa.
Langkah serupa turut menyasar komoditas aren, lada, dan kakao. Upaya ini dilakukan agar komoditas perkebunan Kaltim memiliki kualitas dan daya saing yang mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Sementara untuk sektor kopi, Pemprov Kaltim tengah mempersiapkan proses sertifikasi Indikasi Geografis (IG) bagi Kopi Liberika Perangat Baru.
Sertifikasi tersebut diharapkan dapat memperkuat identitas kopi berdasarkan karakteristik wilayah asalnya. Dengan pengakuan tersebut, Kopi Liberika Perangat Baru berpeluang memiliki posisi tawar lebih baik sekaligus meningkatkan nilai jualnya.
Arif menjelaskan transformasi ekonomi melalui pengembangan sektor perkebunan merupakan peluang sekaligus tantangan bagi seluruh insan perkebunan di Kaltim. Karena itu, optimalisasi komoditas unggulan perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan produksi hingga pengembangan industri pengolahan.
“Transformasi ekonomi ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi kita semua, khususnya insan perkebunan di Kaltim,” pungkasnya.
