infosatu.co
PEMERINTAH

15 Tahun dalam Tekanan Media Sosial, Bisnis Perusahaan Pers Kian Terpuruk

Teks: Ketua Umum Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat, Januar Primadi Ruswita (Infosatu.co/R’sya)

Samarinda, Infosatu.co – Perubahan teknologi digital selama 15 tahun terakhir mengguncang bisnis perusahaan pers. Pergeseran kebiasaan masyarakat dalam mengakses informasi membuat media konvensional perlahan mulai kehilangan pembaca, sementara perusahaan pers harus berjuang mempertahankan keberlangsungan usahanya.

Teks: Rangkaian HUT ke-80 SPS di Ballroom Dispora Kaltim, Kadrie Oening Tower, Kompleks Stadion Sempaja, Samarinda, Kamis, 5 November 2026 (Infosatu.co/R’sya)

Ketua Umum Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat, Januar Primadi Ruswita mengatakan tekanan tersebut tidak hanya dirasakan media cetak, radio, dan televisi, tetapi juga media daring yang mulai ditinggalkan sebagian kelompok masyarakat.

Menurutnya, generasi milenial dan generasi Z kini lebih banyak mengakses informasi melalui media sosial dibandingkan media massa.

“Posisi media sekarang, industri media sekarang sebenarnya terkena imbas 15 tahun terakhir akibat distribusi teknologi digital. Model bisnis ekonominya sangat terpuruk,” ujarnya usai menghadiri rangkaian HUT ke-80 SPS di Ballroom Dispora Kaltim, Kadrie Oening Tower, Kompleks Stadion Sempaja, Samarinda, Kamis, 5 November 2026.

Perubahan pola konsumsi informasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan pers. Sebab, perpindahan pembaca ke media sosial turut mengubah ekosistem distribusi informasi yang selama ini menjadi bagian dari bisnis media.

Januar menilai perusahaan pers tidak bisa menghindari perubahan tersebut. Media harus mulai menyesuaikan diri dengan memanfaatkan media sosial sebagai salah satu saluran penyebaran informasi.

Namun, adaptasi itu tidak boleh membuat media mengabaikan prinsip jurnalistik. Konten yang disebarkan melalui media sosial tetap harus mengedepankan tanggung jawab dan mematuhi kode etik jurnalistik.

“Kita juga harus beradaptasi dengan media sosial. Tapi media sosial yang dikelola media juga harus ditunjang oleh jurnalistik yang benar dan bertanggung jawab, ada kode etik jurnalistiknya,” tegasnya.

Persoalan keberlanjutan industri media menjadi salah satu perhatian SPS dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2026. Agenda tahunan tersebut tidak hanya menjadi ruang konsolidasi organisasi dan penyusunan program kerja, tetapi juga mematangkan persiapan Kongres SPS yang direncanakan berlangsung pada 2027.

Januar menjelaskan Samarinda dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki sejarah dalam perjalanan pembangunan bangsa. Selain itu, kesiapan pengurus SPS Kalimantan Timur untuk menjadi tuan rumah kongres dan puncak peringatan HUT ke-80 SPS turut menjadi pertimbangan.

Rangkaian kegiatan yang mengusung tema Pers Maju Bersama Bangsa Menuju Ibu Kota Nusantara tersebut menjadi momentum bagi SPS untuk memperkuat organisasi di tengah tantangan industri pers.

Januar berharap perusahaan media tetap mampu bertahan dan menjaga idealisme jurnalistik meski menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.

“Harapannya tentu saja industri media bisa berkelanjutan. Karena memang kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Banyak teman-teman media yang sudah terpuruk, tapi masih mempertahankan idealisme tentang peran pers dalam pembangunan bangsa dan negara kita,” pungkasnya.

Related posts

Bukan Lagi Karhutla, Kaltim Bersiap Hadapi Ancaman Banjir hingga April 2027

R'sya Rahmadina

Andi Harun Tak Mau AI Kesehatan Asal Masuk RSUD IA Moeis, Ini Alasannya

R'sya Rahmadina

Produksi Padi Samarinda Naik 23,58 Persen pada 2025, Hortikultura Justru Menurun

Rizki