infosatu.co
PEMKOT SAMARINDA

Tak Hanya Intervensi Gizi, DP2KB Samarinda Perkuat Ekonomi Keluarga untuk Cegah Stunting

Teks: Kepala DPPKB Kota Samarinda, Deasy Evriyani. (Foto: Dok/Pemkot Samarinda)

Samarinda, Infosatu.co – Upaya mencegah stunting tidak cukup hanya dengan memastikan anak memperoleh asupan gizi yang baik, tetapi juga membutuhkan ketahanan pangan dan kondisi ekonomi keluarga yang memadai.

Berangkat dari hal tersebut, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kota Samarinda menghadirkan inovasi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) Non-Nutrisi melalui pemberdayaan keluarga dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah sebagai sumber pangan sekaligus peluang tambahan penghasilan.

Program yang dijadwalkan mulai dilaksanakan pada 5 November 2026 tersebut menyasar 30 keluarga risiko stunting (KRS) di Kecamatan Samarinda Seberang dan Kecamatan Sungai Kunjang.

Kepala DP2KB Kota Samarinda, Deasy Evriyani, menjelaskan bahwa 16 keluarga berasal dari Kecamatan Sungai Kunjang dan 14 keluarga lainnya dari Kecamatan Samarinda Seberang.

Menurutnya, GENTING Non-Nutrisi merupakan pengembangan intervensi sebelumnya yang mencakup jaminan kesehatan, rumah layak huni, serta akses air bersih.

“Sekarang kami memperluas intervensi dengan menyentuh aspek peningkatan ekonomi keluarga. Harapannya, keluarga risiko stunting tidak hanya mendapatkan dukungan kebutuhan dasar, tetapi juga memiliki kemampuan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi,” ungkap Deasy, Rabu, 4 November 2026.

Dalam pelaksanaannya, DP2KB melibatkan 24 pendamping yang berasal dari Tim Penggerak PKK tingkat kecamatan dan kelurahan, Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB), serta kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UP2KA).

Salah satu kegiatan utama berupa pelatihan keterampilan bercocok tanam dengan memanfaatkan pekarangan rumah. Setiap keluarga sasaran akan memperoleh tiga jenis bibit tanaman, yakni tomat, terong, dan cabai. Deasy mengatakan, pemanfaatan lahan pekarangan diharapkan dapat membantu keluarga memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri.

“Setidaknya hasil dari pekarangan itu bisa digunakan untuk kebutuhan sendiri di rumah atau bahkan bisa dijual. Memang membutuhkan waktu, tetapi paling tidak 30 keluarga ini nantinya akan kita masukkan ke dalam kelompok UP2KA,” jelas Deasy.

Untuk memastikan program berjalan berkelanjutan, Deasy menyebutkan pihaknya telah menyiapkan pendampingan dan pemantauan selama satu tahun.

Pengawasan akan melibatkan Pokja III PKK, kelompok UP2KA, serta para penyuluh KB guna memastikan bibit yang diberikan benar-benar ditanam, dirawat, dan memberikan manfaat bagi keluarga penerima.

Sebanyak 30 keluarga tersebut tersebar di empat kelurahan di wilayah sasaran. Deasy menegaskan bahwa pendampingan menjadi bagian penting agar program tidak berhenti pada pembagian bibit semata.

“Kami ingin keluarga benar-benar mampu mengelola pekarangannya secara produktif. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, hasil tanaman diharapkan dapat berkembang menjadi sumber pangan sekaligus memiliki nilai ekonomi,” ucap Deasy.

Melalui GENTING Non-Nutrisi, Pemkot Samarinda berupaya memperkuat pencegahan stunting dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, tidak hanya melalui pemenuhan kebutuhan nutrisi, tetapi juga peningkatan kesejahteraan dan ketahanan pangan rumah tangga.

Deasy berharap pemberdayaan tersebut dapat membantu keluarga membangun kemandirian ekonomi sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih mendukung tumbuh kembang anak. (ADV)

Related posts

Sasar Pelajar dan Masyarakat, Puskesmas Samarinda Kota Kampanyekan Layanan Informasi PPID

Musriva

Buka Job Fair 2026, Saefuddin Zuhri Dorong Perusahaan Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal Samarinda

Musriva

ISPU Samarinda Tercatat 90, Kualitas Udara Masuk Kategori Sedang

Musriva