infosatu.co
KESEHATAN

Hampir 54 Ribu Warga Samarinda Terserang Hipertensi dalam Enam Bulan

Teks: Pemeriksaan tekanan darah menggunakan alat tensimeter digital. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, Infosatu.co – Hipertensi masih menjadi penyakit yang paling banyak diderita masyarakat di Kota Samarinda. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat sebanyak 53.972 kasus hipertensi berdasarkan kunjungan pasien ke seluruh fasilitas kesehatan pemerintah.

Jumlah tersebut menempatkan hipertensi sebagai penyakit dengan kasus tertinggi di Kota Tepian, jauh melampaui sejumlah penyakit lain seperti common cold (pilek), gastritis, diabetes melitus, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Kepala Dinkes Kota Samarinda Ismed Kusasih mengatakan tingginya kasus hipertensi menjadi perhatian serius karena penyakit tersebut kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, tetapi dapat memicu berbagai komplikasi apabila tidak dikendalikan.

“Dari data kunjungan ke fasilitas kesehatan pemerintah periode Januari hingga Juni 2026, kasus hipertensi tercatat mencapai 53.972 kasus, tertinggi di antara 10 penyakit terbanyak di Samarinda,” ujarnya, Selasa, 4 Agustus 2026.

Berdasarkan data Dinkes Samarinda, penyakit terbanyak kedua ialah common cold sebanyak 24.135 kasus.

Posisi berikutnya ditempati dispepsia atau gastritis sebanyak 17.834 kasus, diabetes melitus 14.794 kasus, radang tenggorokan 10.945 kasus, saraf gigi mati 6.175 kasus, radang saraf gigi 5.571 kasus, ISPA 5.398 kasus, nyeri otot 5.219 kasus, serta diare sebanyak 4.614 kasus.

Ismed menjelaskan hipertensi merupakan kondisi ketika tekanan darah mencapai atau melebihi 140/90 mmHg secara terus-menerus.

Apabila tidak ditangani, penyakit tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, hingga gagal ginjal.

Data Dinkes juga menunjukkan hipertensi menjadi faktor penyebab terbanyak penyakit jantung di Samarinda. Selama Januari hingga Juni 2026, tercatat 599 kasus penyakit jantung dipicu oleh hipertensi.

Untuk menekan angka tersebut, Dinkes terus memperkuat upaya promotif dan preventif melalui edukasi kepada masyarakat.

Selain mendorong penerapan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), masyarakat juga diimbau rutin memeriksakan tekanan darah, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti berusia di atas 40 tahun, obesitas, diabetes, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, maupun memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga.

“Pencegahan hipertensi dapat dilakukan dengan memperbanyak konsumsi sayur dan buah, mengurangi makanan tinggi garam, rutin beraktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari, menjaga berat badan ideal, tidak merokok, mengelola stres, serta membatasi konsumsi alkohol,” jelasnya.

Selain edukasi, Dinkes Samarinda juga mendukung pengendalian hipertensi melalui Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) BPJS Kesehatan yang dijalankan oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).

Program tersebut ditujukan bagi penyandang hipertensi dan diabetes melitus agar kondisi kesehatannya tetap terkontrol.

“Program itu diharapkan mampu membantu pasien mengendalikan penyakit sekaligus mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat,” tutup Ismed.

Related posts

Sengatan Tawon Jadi Kasus Hewan Berbisa Terbanyak di Kaltim, Lampaui Gigitan Ular

Emmy Haryanti

CKG Sasar Lapas Samarinda, Warga Binaan Jalani Deteksi Dini TBC

Rizki

BPJS 51 Ribu Warga Samarinda Tetap Aktif, Pemkot Ambil Alih Pembiayaan Mulai Agustus

Rizki