Samarinda, Infosatu.co – Burger menjadi salah satu makanan cepat saji yang mudah ditemukan dan praktis dikonsumsi. Perpaduan roti, daging, keju, saus, sayur serta berbagai pelengkap membuat makanan ini cukup mengenyangkan sekaligus digemari banyak orang.
Namun, di balik rasanya yang menggugah selera, burger perlu dikonsumsi secara bijak. Bukan semata karena burger merupakan makanan cepat saji, tetapi karena sejumlah komponen di dalamnya dapat membuat asupan kalori, lemak jenuh, gula, dan natrium menjadi tinggi.
Burger pada umumnya memiliki kandungan kalori, lemak jenuh, dan garam yang cukup tinggi, sementara kandungan serat, vitamin, serta mineralnya dapat relatif rendah, terutama jika burger dikonsumsi tanpa banyak sayuran.
Konsumsi makanan dengan kandungan lemak jenuh secara berlebihan perlu diperhatikan. American Heart Association (AHA) menjelaskan, terlalu banyak lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL atau kolesterol “jahat” dalam darah. Kadar LDL yang tinggi berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke.
Masalah lainnya adalah natrium. Saus, keju, daging olahan, dan berbagai bahan pelengkap pada burger dapat menjadi sumber natrium. WHO merekomendasikan orang dewasa mengonsumsi kurang dari 2.000 miligram natrium per hari, atau setara kurang dari 5 gram garam.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan, asupan natrium yang terlalu tinggi dapat meningkatkan tekanan darah dan pada akhirnya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Bukan Hanya Burger, Minumannya Juga Perlu Diperhatikan
Burger sering kali dikonsumsi bersama kentang goreng dan minuman bersoda. Kombinasi tersebut dapat membuat jumlah kalori dan gula dalam satu kali makan meningkat.
WHO juga merekomendasikan konsumsi gula bebas dibatasi kurang dari 10 persen kebutuhan energi harian. Pembatasan hingga di bawah 5 persen dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.
Karena itu, persoalan bukan hanya terletak pada satu makanan, tetapi pada keseluruhan pola makan. AHA dalam panduan pola makan untuk kesehatan jantung yang diperbarui pada 2026 mendorong konsumsi lebih banyak sayur dan buah, biji-bijian utuh, sumber protein sehat, serta membatasi gula tambahan dan natrium.
Tetap Bisa Makan Burger
Burger tidak harus sepenuhnya masuk daftar makanan yang dilarang. Yang lebih penting adalah frekuensi, porsi, serta bahan yang dipilih.
Pilihan yang lebih seimbang bisa dilakukan dengan menambahkan sayuran seperti selada dan tomat, memilih daging yang lebih rendah lemak, membatasi saus, serta mengganti minuman manis dengan air putih.
Jika membuat sendiri, burger juga lebih mudah dikontrol karena jenis daging, jumlah saus, sayuran, hingga cara memasaknya dapat disesuaikan.
WHO menekankan pola makan sehat bertumpu pada kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman. Konsumsi sayur, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta sumber protein yang beragam menjadi bagian penting dari pola makan tersebut.
Oleh karena itu, sesekali menikmati burger bukan berarti langsung membuat pola makan menjadi tidak sehat. Tapi yang perlu diwaspadai adalah ketika makanan tinggi kalori, lemak jenuh, gula, dan natrium menjadi pilihan yang terlalu sering.
Dengan mengatur porsi dan memilih pendamping yang lebih sehat, burger tetap dapat dinikmati tanpa mengabaikan keseimbangan pola makan sehari-hari.
