Samarinda, Infosatu.co – Matcha semakin populer sebagai pilihan minuman sehari-hari. Minuman berwarna hijau ini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari teh matcha hingga matcha latte. Namun, di balik citranya sebagai minuman yang kaya senyawa alami, matcha tetap mengandung kafein yang perlu diperhatikan.
Matcha merupakan teh hijau berbentuk bubuk yang berasal dari tanaman Camellia sinensis. Berbeda dengan teh yang diseduh lalu daunnya dibuang, matcha dikonsumsi dalam bentuk bubuk sehingga berbagai senyawa yang terdapat dalam daun ikut masuk ke dalam minuman.
Sebuah tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di Molecules mengatakan matcha mengandung sejumlah senyawa bioaktif, termasuk katekin, kafein, dan L-theanine. Kandungan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk proses budidaya dan pengolahan.
Artinya, meski sering dipandang sebagai alternatif minuman yang lebih sehat, matcha tetap menjadi salah satu sumber kafein. Jumlah kafein yang dikonsumsi juga tidak selalu sama karena bergantung pada produk dan banyaknya bubuk matcha yang digunakan.
Kafein dapat membantu meningkatkan kewaspadaan. Namun, konsumsi berlebihan atau sensitivitas terhadap kafein pada sebagian orang dapat menimbulkan efek seperti rasa gelisah, gemetar, jantung berdebar hingga gangguan tidur. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyebut konsumsi kafein hingga 400 miligram per hari secara umum tidak dikaitkan dengan efek negatif pada sebagian besar orang dewasa.
European Food Safety Authority (EFSA) juga menyatakan, konsumsi hingga 400 miligram kafein per hari yang tersebar sepanjang hari tidak menimbulkan kekhawatiran keamanan pada orang dewasa sehat secara umum. Namun, EFSA mencatat dosis tunggal 100 miligram dapat memengaruhi durasi dan pola tidur pada sebagian orang, terutama jika dikonsumsi mendekati waktu tidur.
Karena itu, waktu minum matcha juga perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang sensitif terhadap kafein atau memiliki masalah tidur. Selain matcha, jumlah kafein dari kopi, teh, minuman energi, cokelat, maupun produk lainnya juga perlu diperhitungkan dalam konsumsi harian.
Perlu diperhatikan pula bentuk penyajiannya. Matcha yang diminum tanpa tambahan gula tentu berbeda dengan matcha latte yang menggunakan gula, sirup, krimer atau bahan tambahan lainnya. Kandungan tersebut dapat meningkatkan asupan gula dan kalori dalam satu sajian.
Matcha bukan berarti harus dihindari. Bagi orang dewasa sehat, minuman ini dapat dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang seimbang. Namun, popularitas dan citra sehatnya tidak berarti matcha bisa diminum tanpa memperhatikan jumlah dan waktu konsumsinya.
Dengan mengenali kandungan kafein serta memperhitungkan sumber kafein lainnya dalam sehari, konsumsi matcha dapat dilakukan secara lebih bijak.
