Samarinda, Infosatu.co – Besarnya anggaran pembangunan kembali Pasar Pagi Samarinda yang mencapai sekitar Rp468,5 miliar dinilai harus sejalan dengan kualitas bangunan dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Pengamat ekonomi Kaltim dari Universitas Mulawarman Purwadi Purwaharsojo menilai sejumlah persoalan yang muncul setelah pasar mulai digunakan perlu menjadi perhatian serius pemerintah.
Menurut Purwadi, keberhasilan proyek infrastruktur publik tidak dapat diukur hanya dari kemegahan bangunan atau tampilan fisik yang terlihat modern. Yang lebih penting, kata dia, adalah sejauh mana fasilitas tersebut mampu memberikan kenyamanan dan mendukung aktivitas masyarakat secara optimal.
“Jangan hanya terpukau oleh tampilan luarnya. Yang lebih penting adalah apakah bangunan itu benar-benar berfungsi dengan baik dan memberikan kenyamanan bagi masyarakat,” katanya, Senin 22 Juni 2026.
Salah satu persoalan yang disoroti adalah keluhan pedagang terkait tempias air hujan yang masih terjadi di beberapa area pasar.
Ia melihat, kondisi tersebut menjadi indikasi perlunya evaluasi terhadap proses perencanaan maupun pelaksanaan pembangunan.
Baginya, setiap masalah yang muncul setelah bangunan difungsikan harus dijadikan bahan perbaikan agar fasilitas publik yang dibangun dengan dana besar dapat beroperasi sesuai tujuan awal.
“Masalah yang muncul setelah bangunan digunakan seharusnya menjadi bahan evaluasi. Artinya ada aspek yang perlu diperbaiki agar fasilitas publik ini bisa bekerja sesuai harapan,” ungkapnya.
Purwadi juga mengingatkan agar pemerintah tidak mengabaikan berbagai catatan yang muncul dari proyek-proyek infrastruktur strategis.
Menurutnya, evaluasi menyeluruh penting dilakukan untuk memastikan persoalan serupa tidak terulang pada pembangunan berikutnya.
“Setiap proyek besar harus dievaluasi secara objektif. Jangan sampai persoalan yang sama terus berulang pada pembangunan berikutnya,” tegasnya.
Selain kualitas bangunan, Purwadi menyoroti kesiapan fasilitas pendukung yang dinilai belum sepenuhnya mampu mengakomodasi aktivitas pasar. Dengan jumlah pedagang dan pengunjung yang besar setiap harinya, keberadaan sarana pendukung menjadi faktor penting dalam menunjang kelancaran aktivitas ekonomi.
Ia menegaskan konsep pasar modern seharusnya tidak hanya berorientasi pada estetika bangunan, melainkan juga memperhatikan aspek kenyamanan, aksesibilitas, serta keamanan pengguna.
“Pasar yang baik bukan hanya terlihat bagus, tetapi juga mampu mendukung aktivitas ekonomi secara optimal, termasuk dari sisi parkir dan fasilitas pendukung lainnya,” tuturnya.
Perhatian terhadap mutu pekerjaan juga muncul setelah sempat terjadi kerusakan pada salah satu bagian fasilitas bangunan yang sebelumnya menjadi sorotan masyarakat.
Meskipun telah diperbaiki, Purwadi menilai kejadian tersebut tetap perlu dijadikan bahan evaluasi terhadap kualitas pengerjaan proyek.
Dengan nilai investasi yang sangat besar, ia menekankan pentingnya memastikan seluruh hasil pembangunan memenuhi standar mutu yang diharapkan.
“Nilai proyek ini sangat besar sehingga kualitas hasil pembangunan harus benar-benar terjamin. Jangan sampai ada kesan bahwa bangunannya megah, tetapi masih menyisakan banyak catatan di lapangan,” ujarnya.
Di sisi lain, Purwadi menilai belum ramainya aktivitas perdagangan di Pasar Pagi tidak sepenuhnya disebabkan kondisi bangunan. Faktor ekonomi masyarakat dan daya beli yang belum sepenuhnya pulih juga berpengaruh terhadap tingkat transaksi yang terjadi di kawasan tersebut.
Meski demikian, ia mempertanyakan masih adanya kios yang belum terisi setelah proses penataan dan distribusi lapak berlangsung cukup lama.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian agar aset yang dibangun menggunakan dana publik dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Kalau tidak dikelola dengan baik, aset yang dibangun menggunakan dana publik berpotensi tidak memberikan manfaat maksimal. Itu yang harus diantisipasi sejak sekarang,” terangnya.
Lebih lanjut, Purwadi mendorong instansi teknis yang bertanggung jawab terhadap pembangunan Pasar Pagi untuk memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat terkait berbagai persoalan yang muncul. Transparansi, menurut dia, menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap proyek bernilai besar.
“Publik berhak mengetahui penyebab munculnya berbagai keluhan dan bagaimana langkah perbaikannya. Transparansi sangat penting dalam proyek sebesar ini,” pungkasnya.
