Samarinda, Infosatu.co – Penjualan bendera menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Samarinda tahun ini dirasakan berbeda oleh Wahyudin, pedagang asal Garut yang selama 14 tahun rutin datang ke Kota Tepian setiap momentum 17 Agustus.
Wahyudin mengaku penjualan tahun ini menjadi yang terparah selama dirinya berjualan bendera di Samarinda.
Kondisi tersebut terasa jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya yang menurutnya masih lebih ramai.
“Kalau dibanding dua atau tiga tahun sebelumnya, tahun sekarang paling parah,” kata Wahyudin saat ditemui di lapaknya yang berlokasi di Jalan Bhayangkara, Jumat, 7 Agustus 2026.
Selama berjualan, Wahyudin memang tidak mencatat secara rinci jumlah bendera yang terjual setiap hari. Ia hanya memastikan dagangannya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama berada di Samarinda.
“Yang penting kita makan saja. Alhamdulillah ada buat makan juga. Tapi memang tidak seperti dua atau tiga tahun lalu,” ujarnya.
Menurut Wahyudin, kondisi tersebut berbeda jauh dengan periode ketika penjualan bendera masih ramai. Ia menyebut sekitar 2014 menjadi salah satu masa ketika pembeli bendera di Samarinda cukup banyak.
Bahkan stok yang dibawa, kata Wahyudin, bisa nyaris habis.
“Kalau sekarang, jelang 10 hari ke perayaan puncak saja barang masih banyak,” tuturnya.
Namun, ia mengaku tidak dapat memastikan secara spesifik apakah penurunan penjualan tahun ini disebabkan daya beli masyarakat atau faktor lainnya.
“Kalau masalah itu saya juga kurang tahu. Tapi yang dirasakan tahun ini, pokoknya parah betul jualannya,” tuturnya.
Wahyudin sendiri telah sekitar 14 tahun menjalani aktivitas berjualan bendera di Samarinda setiap menjelang 17 Agustus. Selama itu pula, ia rutin datang dari Garut setiap tanggal 20 bersama rombongan teman dan saudara untuk mencari penghasilan dari momentum perayaan kemerdekaan.
Bendera yang dijualnya memiliki beragam ukuran dan harga. Untuk bendera berukuran panjang 10 meter, misalnya, dibanderol sekitar Rp400 ribu, sedangkan ukuran 5 meter sekitar Rp250 ribu.
Sementara untuk ukuran yang lebih kecil, harganya bervariasi mulai dari sekitar Rp75 ribu hingga Rp100 ribu, tergantung ukuran dan jenis bendera.
Pria berusia 45 tahun itu, mengatakan dirinya hanya menjual bendera yang dipasok dari distribusi kampungnya. Ia juga mengaku cukup memahami jika pembeli menawar harga di bawah harga setoran.
“Namanya juga jualan, tidak perlu marah,” katanya.
Meski selama ini selalu datang ke Samarinda setiap tahun, kondisi penjualan yang lesu membuat Wahyudin mulai mempertimbangkan kembali rencana berjualan pada momentum HUT RI tahun depan.
Jika sebelumnya ia bisa langsung berangkat ke Samarinda tanpa banyak pertimbangan, kali ini ia mengaku perlu melihat kondisi terlebih dahulu.
“Kalau tahun depan tidak tahu. Mikir dulu. Takutnya tambah parah,” ucapnya.
Di tengah kondisi tersebut, Wahyudin berharap penjualan benderanya tetap membaik hingga mendekati puncak peringatan HUT Kemerdekaan pada 17 Agustus mendatang.
Baginya, momentum tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk berdagang, tetapi juga menjadi waktu untuk kembali berkumpul bersama keluarga setelah menyelesaikan aktivitas berjualan di Samarinda.
