Pasuruan, infosatu.co – Di jantung Kota Pasuruan, Jawa Timur (Jatim) berdiri megah Masjid Agung Al Anwar atau yang dikenal sebagai Masjid ‘Payung Madinah’.
Masjid ini adalah salah satu masjid tertua di Jawa Timur yang menyimpan kisah panjang tentang perjuangan, spiritualitas dan keajaiban.

Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol hubungan antara manusia dan Tuhannya ‘hablum minallah’ sekaligus hubungan sosial antarmanusia, ‘hablum minannas’.
Dibangun di atas tanah hibah Bupati Pangeran Ario Nitiadiningrat, masjid ini menjadi saksi perlawanan rakyat Pasuruan terhadap kolonial Belanda pada abad ke-18.
Ulama besar Mbah Hasan Sanusi, atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Slagah, menjadi tokoh utama di balik berdirinya rumah ibadah ini.
Dikutip dari beberapa sumber, Ketua Takmir Masjid Agung Al Anwar, KH Abdulloh Shodiq atau yang akrab disapa Gus Dulloh memaparkan bahwa masjid ini telah berdiri sejak 266 tahun lalu.
“Masjid ini diperkirakan berdiri sekitar tahun 1759 Masehi, sekitar 14 tahun setelah Pondok Pesantren Sidogiri didirikan,” ujarnya.
Kisah pendirian masjid ini bermula ketika pasukan kolonial Belanda berupaya menguasai Pasuruan sepenuhnya.
Mereka mendekati Pangeran Nitiadiningrat dengan memberikan tanah hibah, berharap bisa menundukkan rakyat. Namun, langkah itu justru memantik semangat perlawanan.
Setelah perang usai, tanah tersebut diberikan kepada Mbah Hasan Sanusi, seorang ulama sekaligus pejuang kemerdekaan lokal.
Atas restu sang pangeran, Mbah Hasan Sanusi membangun masjid di dekat alun-alun lokasi yang dianggap suci karena menyatukan kehidupan spiritual dan sosial masyarakat.
“Alun-alun itu tempat interaksi manusia. Ada ekonomi, ada kemasyarakatan. Filosofinya kuat, hubungan dengan Allah dan dengan sesama harus seimbang,” kata Gus Dulloh.
Sejak pertama dibangun dengan luas sekitar 1.000 meter persegi, Masjid Agung Al Anwar telah mengalami lima kali renovasi besar.
Kini, luasnya mencapai 3.730 meter persegi.
Renovasi pertama dilakukan pada awal 1800-an oleh Kiai Arsyad bin Sofiuddin, menantu pendiri Pondok Salafiyah.
Fase kedua dipimpin Kiai Nawawi bin Khatam, yang memperluas bangunan hingga 1.500 meter dan memindahkan posisi mihrab ke tengah.
Fase ketiga datang dari Kiai Sahalullah bin Mastar, kakek Gus Dulloh, yang memperluas masjid ke arah timur.
Perluasan berlanjut di masa Kiai Ahmad bin Sahal dan Kiai Imam bin Tohir (fase keempat) hingga akhirnya mencapai bentuk besar seperti sekarang.
Renovasi terakhir dilakukan tahun 1995, di bawah Kiai Ahmad Sholeh bin Sahal dan Kiai Muhammad Zaki Ubay, yang menambahkan lantai dua serta membangun menara bagian yang kelak menjadi legenda.
Kisah paling terkenal dari Masjid Agung Al Anwar adalah menara miring yang tiba-tiba kembali tegak lurus setelah didoakan oleh KH Abdul Hamid, ulama kharismatik Pasuruan yang makamnya juga berada di kompleks masjid ini.
Kala itu, arsitek menara mengaku tak bisa memperbaiki kemiringannya. Namun, setelah KH Abdul Hamid datang dan berdoa sambil memegang menara, keesokan harinya terjadi gempa kecil (lindu) dan menara yang tadinya miring berdiri tegak kembali.
“Kiai Hamid hanya berdoa sambil memegang menara. Besoknya, posisi menara sudah lurus sempurna. Itu kejadian yang nyata dan disaksikan warga,” kenang Gus Dulloh.
Pada awalnya, masyarakat hanya mengenal masjid ini sebagai Masjid Agung Pasuruan. Baru pada awal 2000-an, seiring fungsinya yang berkembang menjadi pusat pendidikan dan sosial, nama Al Anwar berarti “cahaya-cahaya” resmi disematkan.
Kini di lantai dua terdapat perpustakaan Islam serta TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) bagi anak-anak. Masyarakat juga bebas mengakses koleksi buku-buku keagamaan di ruang baca masjid.
“Sekarang masjid ini bukan hanya tempat salat, tapi juga pusat ilmu dan aktivitas umat,” ujar Gus Dulloh yang juga menjabat Ketua MUI Kota Pasuruan.
Sebagai bagian dari revitalisasi kota, Pemerintah Kota Pasuruan membangun Payung Madinah di area halaman masjid terinspirasi dari arsitektur Masjid Nabawi di Madinah yang memakan anggaran Rp17 miliar.
Payung raksasa di Masjid Agung Al-Anwar, Pasuruan, dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB.
Rombongan Media Sukri Indonesia (MSI) Group yang berkesempatan mengunjungi tempat bersejarah tersebut merasakan suasana yang nyaman dan damai saat pertama kali melihat 12 ‘payung madinah’ yang berjajar di depan masjid.
Namun sayang, kami tak sempat melihat ‘Payung Madinah’ tersebut membentang secara langsung karena waktu kedatangan kami di malam hari.
M. Sahal, salahsatu wartawan MSI Group dari Natmed.id sekaligus warga asli Pasuruan, menyarankan kami mengunjungi tempat lainnya yang ada di sana.
Sahal mengingatkan agar tak lupa untuk berziarah ke makam KH. Abdul Hamid yang kompleksnya berada tepat di belakang masjid.
Tak hanya makam KH. Abdul Hamid, di kompleks yang sama juga ada makam ulama lainnya seperti Habib Muhammad Assegaf, Habib Abd Rahmad Assegaf.
Dengan perpaduan antara sejarah panjang, kisah karomah dan wajah modern, Masjid Agung Al Anwar Pasuruan kini menjadi simbol harmoni antara masa lalu dan masa depan.
Juga antara doa para ulama dan semangat masyarakat yang terus menjaga warisannya.
