Samarinda, infosatu.co – Hari Raya Iduladha identik dengan penyembelihan hewan kurban, terutama sapi. Namun bagi banyak keluarga, khususnya konro dan coto Jadi Primadona Iduladha.
Bagi suku Bugis momen sakral itu tak hanya tentang pembagian daging, tetapi juga tentang tradisi dapur yang selalu hidup setiap tahun: memasak sop konro dan coto.
Dua hidangan legendaris tersebut seolah menjadi pasangan yang tak terpisahkan dari Hari Raya Kurban. Ketika stok daging melimpah, masyarakat mulai mengolah berbagai bagian sapi menjadi sajian kaya rasa yang sarat nilai tradisi.
Sop konro dikenal dengan kuahnya yang pekat berwarna cokelat kehitaman. Warna dan cita rasa khas itu berasal dari perpaduan rempah seperti ketumbar, pala, kayu manis, hingga kluwek. Iga sapi direbus berjam-jam sampai dagingnya empuk dan mudah terlepas dari tulang.
Kuahnya yang gurih dan hangat membuat sop konro selalu menjadi menu favorit saat Iduladha. Tidak sedikit keluarga yang sengaja menyimpan bagian iga sapi kurban khusus untuk dimasak menjadi konro.
Berbeda dengan konro, coto makassar hadir dengan kuah yang lebih ringan namun tetap kaya rasa. Rahasia kelezatannya terletak pada campuran kacang tanah sangrai dan racikan rempah tradisional yang dimasak perlahan hingga menghasilkan rasa gurih khas.
Isian coto biasanya terdiri dari potongan daging sapi dan jeroan yang dipotong kecil-kecil, lalu disajikan bersama ketupat atau burasa. Perpaduan kuah hangat dan pelengkap tradisional itu membuat coto selalu dicari saat berkumpul bersama keluarga.
Bagi sebagian masyarakat Bugis, Iduladha terasa belum lengkap tanpa kehadiran dua menu tersebut di meja makan. Bahkan tradisi memasak konro dan coto sering menjadi ajang berkumpul keluarga lintas generasi di dapur rumah.
Ada yang bertugas membersihkan daging, menumbuk bumbu, memotong jeroan, hingga menjaga api kompor agar rebusan tetap stabil. Di tengah kesibukan itu, obrolan dan canda keluarga mengalir hangat, menciptakan suasana khas yang sulit ditemukan di hari biasa.
Selain lezat, sop konro dan coto juga dianggap paling cocok untuk mengolah daging sapi segar hasil kurban. Proses memasaknya yang membutuhkan waktu cukup lama justru menjadi bagian dari kenikmatan Iduladha itu sendiri.
Tradisi kuliner saat Hari Raya Kurban menunjukkan bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga bagian dari budaya dan identitas masyarakat. Konro dan coto bukan sekadar santapan khas Sulawesi Selatan, melainkan warisan rasa yang terus hidup dari generasi ke generasi.
