infosatu.co
Lifestyle

Benarkah Tepung Jadi Sumber Gula Terbesar dalam Pola Makan Sehari-hari?

Teks: Aneka makanan berbahan tepung seperti roti, mi instan, biskuit, dan gorengan. (Foto By AI)

Infosatu.co – Ketika berbicara tentang gula darah, banyak orang langsung mengaitkannya dengan minuman manis, permen, atau kue.

Padahal, sejumlah ahli gizi menilai sumber glukosa terbesar dalam pola makan sehari-hari justru sering berasal dari makanan berkarbohidrat olahan, termasuk tepung.

Namun, benarkah tepung menjadi penyumbang gula terbesar?

Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.

Secara ilmiah, tepung terigu bukanlah gula. Tepung merupakan sumber karbohidrat yang sebagian besar terdiri dari pati atau starch. Meski demikian, ketika dikonsumsi, pati akan dipecah oleh tubuh menjadi glukosa yang kemudian masuk ke aliran darah sebagai sumber energi.

Menurut Mayo Clinic, seluruh karbohidrat yang berupa gula dan pati pada akhirnya akan diubah menjadi glukosa di dalam tubuh. Glukosa inilah yang memengaruhi kadar gula darah seseorang.

Karena itu, makanan berbahan tepung seperti roti putih, mi, gorengan berlapis tepung, kue, biskuit, hingga aneka camilan kemasan dapat memberikan kontribusi besar terhadap asupan glukosa harian, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar dan berulang.

Mengapa Tepung Sering Dikaitkan dengan Lonjakan Gula Darah?

Masalah utama bukan terletak pada tepung itu sendiri, melainkan jenis tepung yang digunakan.

Sebagian besar produk pangan modern menggunakan tepung terigu rafinasi atau tepung putih yang telah melalui proses pengolahan sehingga kehilangan sebagian besar serat dan nutrisinya.

Menurut Harvard T.H. Chan School of Public Health, proses pemurnian pada biji-bijian menghilangkan lapisan dedak (bran) dan lembaga (germ) yang kaya serat, menyisakan bagian pati yang lebih mudah dicerna tubuh. Akibatnya, glukosa lebih cepat masuk ke aliran darah.

Hal serupa dijelaskan Mayo Clinic melalui konsep indeks glikemik. Makanan dengan indeks glikemik tinggi, seperti roti putih dan berbagai produk tepung olahan, cenderung meningkatkan gula darah lebih cepat dibandingkan makanan yang kaya serat.

Lebih Berbahaya daripada Gula Pasir?

Tidak selalu. Gula pasir memang dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat karena bentuknya sudah berupa gula sederhana.

Namun dalam kehidupan sehari-hari, jumlah makanan berbahan tepung yang dikonsumsi seseorang sering kali jauh lebih besar dibandingkan gula pasir murni.

Seseorang mungkin hanya menambahkan dua sendok gula ke dalam kopi. Sebaliknya, dalam sehari ia bisa mengonsumsi roti, mi, gorengan, biskuit, dan makanan ringan berbahan tepung dalam beberapa kali kesempatan.

Karena frekuensi dan porsinya yang lebih besar, asupan glukosa dari makanan bertepung sering kali menjadi kontributor utama total karbohidrat harian.

Para ahli gizi bahkan mengingatkan bahwa produk dengan label “tanpa gula” belum tentu aman bagi gula darah apabila tetap mengandung tepung atau karbohidrat olahan dalam jumlah tinggi.

Apa Kata Ahli?

Dalam sejumlah wawancara dan podcast kesehatan, ahli endokrinologi dari University of California San Francisco, Dr Robert Lustig menjelaskan bahwa masalah metabolik modern tidak hanya dipicu oleh gula tambahan, tetapi juga konsumsi berlebihan karbohidrat olahan dan makanan ultra-proses yang mudah meningkatkan kadar insulin serta gula darah.

Meski demikian, banyak pakar gizi menekankan bahwa tidak semua karbohidrat harus dihindari. Karbohidrat tetap merupakan sumber energi utama tubuh. Yang perlu diperhatikan adalah kualitas dan jumlahnya.

Jadi, Haruskah Menghindari Tepung?

Tidak perlu.

Yang lebih penting adalah membatasi konsumsi tepung olahan berlebihan dan mulai memilih sumber karbohidrat yang lebih kaya serat, seperti gandum utuh, oat, kacang-kacangan, sayuran, dan biji-bijian utuh.

Penelitian menunjukkan bahwa serat membantu memperlambat penyerapan glukosa sehingga lonjakan gula darah menjadi lebih terkendali.

Selain itu, mengombinasikan karbohidrat dengan protein, lemak sehat, dan sayuran juga dapat membantu menjaga kestabilan gula darah setelah makan.

Tepung bukanlah gula. Namun, sebagian besar makanan berbahan tepung mengandung karbohidrat yang akan diubah menjadi glukosa di dalam tubuh.

Karena dikonsumsi dalam jumlah besar dan hampir setiap hari, makanan berbahan tepung olahan sering menjadi salah satu penyumbang terbesar asupan glukosa masyarakat modern.

Related posts

Healing Bukan Lagi Tren, Melainkan Kebutuhan di Tengah Tekanan Hidup Modern

Emmy Haryanti

Kopi Susu Bisa Picu Asam Lambung? Pakar Ungkap Penyebabnya

Rizki

Ngopi Tak Lagi Sekadar Menyeruput Kopi, Menemukan Ruang Berkarya di Kinetic Arts Studio dan Cafe

Emmy Haryanti