infosatu.co
KESEHATAN

Benarkah Micin Bisa Menurunkan Kecerdasan? Ini Penjelasan dr Tirta

Teks: dr. Tirta dalam podcast bersama Raditya Dika membahas mitos seputar MSG. (Tangkapan layar YouTube Raditya Dika)

Infosatu.co – Anggapan bahwa micin atau monosodium glutamat (MSG) bisa membuat seseorang menjadi bodoh sudah lama beredar di masyarakat.

Tak sedikit orang tua yang membatasi penggunaan penyedap rasa karena khawatir dapat memengaruhi perkembangan otak anak.

Namun, benarkah anggapan tersebut?

Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr Tirta Mandira Hudhi meluruskan mitos itu dalam podcast bersama Raditya Dika.

Menurutnya, hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa konsumsi MSG dalam jumlah wajar dapat menurunkan kecerdasan seseorang.

Dia menjelaskan bahwa anggapan “micin bikin bodoh” berawal dari penelitian pada hewan yang kerap disalahartikan.

Dalam sejumlah penelitian lama, tikus diberi MSG dalam dosis yang sangat tinggi, bahkan melalui metode penyuntikan. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan cara manusia mengonsumsi MSG sebagai penyedap makanan.

“Penelitian itu sering dipotong konteksnya. Padahal dosisnya sangat besar dan cara pemberiannya juga berbeda dengan konsumsi manusia,” jelas dr Tirta dalam podcast yang berdurasi 50 menit tersebut.

MSG merupakan singkatan dari monosodium glutamat, yakni senyawa yang terdiri atas natrium dan glutamat.

Glutamat sendiri adalah asam amino yang secara alami terkandung dalam berbagai bahan pangan, seperti tomat, jamur, keju, rumput laut, daging, hingga kecap.

Karena itu, tubuh manusia sebenarnya telah terbiasa menerima glutamat dari makanan sehari-hari. Penambahan MSG pada makanan pada dasarnya bertujuan memperkuat cita rasa umami atau rasa gurih.

Yang Perlu Dijaga Justru Asupan Natrium

Menurut dr Tirta, penggunaan MSG dalam jumlah wajar umumnya aman bagi kebanyakan orang. Hal yang lebih penting adalah menjaga total asupan natrium setiap hari, baik yang berasal dari garam dapur, MSG, maupun makanan olahan.

Asupan natrium yang berlebihan dalam jangka panjang diketahui dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke. Oleh karena itu, penggunaan MSG tetap perlu disesuaikan dengan pola makan yang seimbang.

Didukung Penilaian Lembaga Kesehatan Dunia

Penjelasan dr Tirta sejalan dengan penilaian ilmiah dari Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA).

Sejak 1987, JECFA menetapkan Acceptable Daily Intake (ADI) “not specified” untuk glutamat dan garam-garamnya, termasuk MSG.

Status tersebut menunjukkan bahwa berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia, MSG dinilai aman digunakan sebagai bahan tambahan pangan sesuai dengan kebutuhan dalam pengolahan makanan.

Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa seluruh bahan tambahan pangan yang diizinkan untuk digunakan telah melalui proses evaluasi keamanan secara menyeluruh.

Evaluasi tersebut mencakup berbagai penelitian ilmiah untuk memastikan bahan tambahan pangan aman dikonsumsi pada batas penggunaan yang telah ditetapkan.

Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa konsumsi MSG dalam jumlah normal dapat menyebabkan kerusakan otak, menurunkan kecerdasan, atau membuat seseorang menjadi bodoh.

Mitos yang Masih Bertahan

Meski berbagai penelitian telah membuktikan keamanan MSG, anggapan bahwa micin dapat menyebabkan kebodohan masih terus beredar di masyarakat.

Menurut dr Tirta, salah satu penyebabnya adalah banyak informasi kesehatan yang disampaikan tanpa menjelaskan konteks penelitian secara utuh.

Penelitian pada hewan dengan dosis yang sangat tinggi sering kali dijadikan dasar kesimpulan, padahal hasilnya tidak dapat langsung diterapkan pada manusia yang mengonsumsi MSG dalam makanan sehari-hari.

Di sisi lain, penyebaran informasi melalui media sosial juga membuat mitos tersebut terus diulang tanpa disertai bukti ilmiah yang memadai.

Akibatnya, banyak orang masih mempercayai bahwa MSG dapat merusak otak, meskipun klaim tersebut tidak didukung oleh penelitian pada manusia.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih kritis dalam menerima informasi kesehatan. Alih-alih terpaku pada mitos, lebih baik mengacu pada hasil penelitian ilmiah dan rekomendasi dari tenaga kesehatan maupun lembaga resmi.

Jadi, yang perlu diperhatikan bukanlah sekadar penggunaan MSG, melainkan pola makan secara keseluruhan.

Mengurangi konsumsi makanan tinggi natrium, memperbanyak makanan segar, serta menerapkan pola hidup sehat jauh lebih berpengaruh terhadap kesehatan dibanding menghindari MSG tanpa dasar ilmiah yang jelas.

Related posts

Kaltim Masuk 18 Provinsi Prioritas TBC, Kolaborasi Lintas Sektor Dinilai Jadi Kunci Pengendalian

Emmy Haryanti

Gerakan ASRI Satukan Layanan Kesehatan, Pasar Murah dan Penghijauan di Kaltim

Rizki

Deteksi TBC dan HIV Samarinda Lampaui Target Nasional, Dinkes Ajak Warga Rutin Screening

Emmy Haryanti