infosatu.co
Artikel

Kisah Mandala: Siswa SMK di Samarinda, Wafat Usai Bertahan di Balik Sepatu yang Kekecilan

Teks: Ratnasari, Ibu dari Mandala saat di wawancarai (Infosatu.co/Firda)

Samarinda, infosatu.co – Mandala Rizky Syahputra (16), seorang siswa kelas 2 di SMK 4 Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) dilaporkan meninggal dunia pada Jumat, 24 April 2026 dini hari.

Kematian remaja ini menjadi perhatian setelah diketahui bermula dari luka dan infeksi pada kaki akibat memaksakan diri mengenakan sepatu sekolah yang kekecilan selama menjalani masa magang.

Di balik kepergiannya yang mendadak, terselip kisah pilu tentang keteguhan hati seorang anak laki-laki yang mencoba bertahan di tengah keterbatasan ekonomi.

Cerita bermula saat Mandala menjalani masa magang. Dengan ukuran kaki mencapai 44, ia terpaksa mengenakan sepatu berukuran 41 yang sudah tidak muat lagi di kakinya. Selama setengah bulan, ia memilih bungkam.

“Dia magang, dua hari sudah mengeluh kakinya sakit. Tapi dia biarkan sampai setengah bulan baru bilang kalau sepatunya kesempitan,” kenang Ratnasari, sang ibu, dengan suara bergetar, Kamis, 30 April 2026 di kediamannya.

Karena tak ingin merepotkan ibunya, Mandala mencari cara sendiri. Ia meminta busa pembungkus buah sebagai ganjalan agar jemarinya tidak langsung bergesekan dengan ujung sepatu yang keras.

Namun, luka fisik tak bisa disembunyikan selamanya. Kakinya mulai membengkak dan terasa nyeri hebat setiap kali menyentuh lantai.

Dua hari sebelum wafat, kondisi Mandala sempat mengkhawatirkan. Kakinya membengkak hingga ke punggung kaki. Namun, keajaiban kecil seolah datang pada hari Kamis.

Setelah mendapatkan pengobatan, bengkaknya mengempis. Mandala tampak sangat sehat, bahkan mampu mengangkat jemuran dan membantu menyerut wortel untuk bahan jualan risol Ibunya.

Malam itu, Ratnasari menyebut Mandala makan dengan sangat lahap.

“Dia bilang merasa lapar sekali. Makannya kuat seperti orang sehat, bahkan melebihi porsi biasanya. Kalau biasanya setengah centong nasi saja tidak habis, malam itu dia makan seperti porsi tiga orang sampai saya kaget melihatnya,” ungkap Ratnasari.

Kemudian, sebelum tidur sekitar pukul 20.30 WITA, Mandala membisikkan pesan yang kini menjadi memori tajam bagi ibunya.

“Mak, jangan menyerah ya. Mandala ini laki-laki tapi Mandala lemah. Kalau bisa Mama yang kuat, jaga ya kakak dan adik,” ucap Mandala.

Sang ibu tidak menyangka itu adalah salam perpisahan. Saat ia terbangun pukul 00.30 WITA untuk mulai memasak bumbu risol, ia melihat Mandala masih tertidur pulas.

Baru pada pukul 01.00 WITA, saat ia masuk ke kamar untuk beristirahat, ia menyadari tubuh Mandala sudah tidak lagi bergerak. Dingin dan kaku. Saat itulah ia menyadari bahwa Mandala telah berpulang.

Dalam kepanikan, saat Ratnasari berlari menembus malam menuju rumah ketua RT untuk memohon bantuan ambulans, ia justru terbentur oleh kenyataan yang pahit.

“Saya ketok-ketok pintu RT tidak dibuka, sampai saya paksa buka pagar. Begitu ketemu, saya bilang anak saya meninggal dan kami tidak punya uang sewa ambulans,” cerita Ratnasari.

Namun, jawaban yang didapat justru menambah luka. “Pak RT bilang, ‘Ibu kan tahu semua serba uang’. Dia menyarankan cari relawan saja,” katanya.

Beruntung, kemanusiaan belum sepenuhnya mati. Di tengah keputusasaan itu, seorang guru sekolah Mandala bernama Rahmat datang sebagai penolong.

Mulai dari penyediaan ambulans, proses memandikan, pengafanan, hingga pemakaman, semuanya dibantu oleh pihak sekolah dan sosok guru yang peduli tersebut.

Luka atas kepergian Mandala ternyata tidak hanya dirasakan di dalam rumah kecilnya, tetapi juga menyebar hingga ke bangku sekolah.

Di mata teman-teman sekelasnya, siswa jurusan pemasaran ini dikenal sebagai sosok yang tertutup namun memiliki ketegaran yang luar biasa.

Nabila, salah satu rekan magangnya, mengenang momen-momen saat mereka bertugas bersama di salah satu mal, yang saat itu bertugas di bagian depan, tampak sangat pucat dan lemas.

Kondisi Mandala yang kian menurun sebenarnya sempat disadari oleh teman-temannya. Terlebih lagi, saat itu bertepatan dengan bulan Ramadan, dan Mandala tetap teguh menjalankan ibadah puasa di tengah kelelahan fisik yang mendera.

“Dia memang kelihatan lemas sekali. Saya sempat tanya, ‘Mandala, kalau kamu tidak kuat istirahat saja,” ujar Nabila. Namun, Mandala berusaha meyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja.

Rasa simpati teman-temannya baru memuncak saat mereka akhirnya mengetahui bahwa kondisi Mandala memburuk akibat luka dari sepatu yang ia paksakan selama ini.

Mendengar kabar tersebut, mereka pun berinisiatif mengumpulkan iuran untuk membelikan sepasang sepatu baru

Niat hati ingin mengantarkan sepatu itu langsung ke rumah, namun takdir berkata lain. Sepatu tersebut tak pernah sempat tersentuh oleh pemiliknya, karena Mandala telah lebih dulu berpulang ke pangkuan Sang Khalik.

“Kami benar-benar tidak menyangka ia pergi begitu cepat di usia yang masih sangat muda. Padahal, harapan kami bisa merayakan kelulusan dan perpisahan bersama-sama nanti,” pungkas Nabila.

Selamat jalan, Mandala. Mari kita hantarkan kepulangan Mandala Rizky Syahputra bin Nordiansyah dengan doa yang tulus.

Semoga Al-Fatihah yang kita bacakan menjadi penerang jalan baginya dan penguat bagi keluarga yang ditinggalkan. Al-Fatihah.

Related posts

3 Tahun Mengenal Mohammad Sukri: Sahabat yang Energik

Rizki

5 Rekomendasi Film Serial Detektif bagi Pecinta Misteri dan Teka-Teki

Firda

Film ‘Thrash’ Tempati Posisi Top 10 Netflix Indonesia, Suguhkan Ancaman Badai dan Hiu

Firda