infosatu.co
PEMKOT SAMARINDA

Karhutla Samarinda Tak Semua Karena Faktor Alam, 6 Orang Diperiksa

Teks: Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kelurahan Lempake. (Dok: BPBD Samarinda)

Samarinda, Infosatu.co – Kebakaran lahan di Samarinda tidak semua karena dampak kondisi kering. Pemerintah Kota Samarinda menyebut ada indikasi sebagian kebakaran dipicu oleh pembakaran yangi dilakukan secara sengaja, dengan sejumlah orang kini tengah diperiksa.

Wali Kota Samarinda Andi Harun menyampaikan berdasarkan penanganan dan pemantauan di lapangan, mayoritas lahan yang terbakar diduga bukan karena faktor alam semata.

“Mayoritas lahan yang terbakar itu tidak terbakar secara alami, tapi mayoritas dilakukan oleh oknum-oknum yang secara sengaja melakukan perbuatan itu,” kata Andi Harun, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Ia menyebut saat ini terdapat sekitar enam orang yang diperiksa secara intensif terkait dugaan pembakaran lahan di Samarinda. Beberapa di antaranya disebut dapat diidentifikasi melalui rekaman kamera pengawas.

“Kalau saya tidak salah itu sudah ada kurang lebih enam orang yang secara intensif diperiksa di Polresta Samarinda. Ada beberapa yang kita tangkap melalui CCTV,” ujarnya.

Pernyataan tersebut muncul sehari setelah polisi mengamankan pasangan suami istri yang diduga membakar lahan di kawasan Gunung Kapur, Kelurahan Sambutan, Samarinda. Kasus itu menjadi salah satu contoh pembakaran lahan yang dilakukan untuk mempercepat proses pembukaan area pertanian.

Kapolsek Samarinda Kota AKP Amiruddin menuturkan pasutri tersebut diamankan setelah polisi menerima laporan masyarakat terkait kebakaran lahan pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Dari pemeriksaan awal, pasangan tersebut mengaku membakar sisa material pembersihan lahan seluas sekitar setengah hektare. Lahan itu rencananya digunakan untuk menanam padi.

Pembakaran dilakukan karena keduanya ingin mempercepat proses pembukaan lahan. Namun, metode tersebut dinilai berisiko memicu kebakaran meluas, terutama ketika kondisi tumbuhan dan semak dalam keadaan kering.

Setelah diperiksa di lokasi, kedua warga tersebut kemudian dibawa ke Polsek Samarinda Kota untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Sementara itu, Andi Harun mengatakan keberadaan jaringan CCTV di sejumlah titik menjadi salah satu pendukung dalam mengidentifikasi dugaan pelaku pembakaran.

Selain CCTV yang berada di lingkungan kampung, Samarinda juga memiliki jaringan kamera pengawas yang jumlahnya mendekati 200 unit dan tersebar di berbagai wilayah kota.

“Bersyukurnya kita karena di kampung-kampung ada CCTV sehingga kita bisa menangkap melalui tangkapan kamera kita,” katanya.

Rekaman kamera tersebut, lanjut Andi Harun, setidaknya dapat menjadi petunjuk awal untuk mengidentifikasi aktivitas yang berkaitan dengan kebakaran lahan. Pemerintah kemudian dapat menindaklanjutinya bersama aparat terkait.

Di tengah kondisi kemarau dan lahan yang lebih mudah terbakar, Andi Harun menilai pengawasan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, TNI maupun Polri.

Ia meminta masyarakat ikut memperkuat patroli di lingkungan masing-masing. Menurutnya, pengawasan warga justru dapat berlangsung lebih dekat karena berada langsung di kawasan tempat tinggal.

“Kalau pemerintah, TNI, Polri mungkin ketika patroli habis bisa dilakukan lagi. Tapi kalau sudah masyarakat yang melakukan patrolinya secara 24 jam, terutama masyarakat yang ada di lingkungan masing-masing, insyaallah kita bisa mengendalikan terus keadaan ini,” tutup Andi Harun.

Related posts

Klorida Sungai Mahakam Tembus 250 PPM, Produksi Air Samarinda Dihentikan Sementara

Rizki

Setelah Dibangun Megah, Selanjutnya Bagaimana Perawatan Teras Samarinda II

Emmy Haryanti

Open Turnamen Perbanyak Wadah Pembinaan Atlet Samarinda

Emmy Haryanti