infosatu.co
PEMERINTAH

Kaltim Dilanda Kemarau dan Karhutla, Korem 091/ASN Gelar Salat Istisqa

Teks: Salat istisqa yang digelar Korem 091/ASN bersama pejabat daerah. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, Infosatu.co – Ratusan personel Korem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN) berkumpul di Lapangan Korem 091/ASN, Sabtu, 29 Agustus 2026. Mereka menunaikan Salat Istisqa sebagai upaya rohani di tengah kemarau panjang yang masih melanda Kalimantan Timur (Kaltim).

Sejak pagi, peserta mulai memenuhi lapangan. Barisan jemaah didominasi personel TNI yang mengenakan seragam loreng, sementara masyarakat dan peserta lainnya tampak mengenakan pakaian putih.

Usai salat, para jemaah mengangkat kedua tangan dan mengikuti doa bersama yang dipimpin khatib. Doa dipanjatkan agar hujan segera turun dan kondisi kemarau yang berdampak pada berbagai wilayah di Kaltim dapat berakhir.

Komandan Korem 091/ASN Brigjen TNI Anggara Sitompul menuturkan salat istisqa menjadi bagian dari upaya jajaran Korem di tengah kondisi kemarau yang telah memicu sejumlah persoalan, termasuk kebakaran hutan dan lahan.

“Hari ini teman-teman yang khusus beragama Islam kita inisiasi untuk sama-sama memanjatkan doa melalui Salat Istisqa. Kita tahu semua Kaltim sedang kemarau panjang dan mengakibatkan kebakaran lahan maupun hutan,” kata Anggara.

Sebagai informasi, berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kaltim, sepanjang Januari hingga Agustus 2026 telah terjadi 547 kejadian karhutla di 10 kabupaten/kota dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.595,81 hektare.

Kondisi tersebut turut dirasakan di Samarinda yang mencatat 91 kejadian dengan luas area terdampak 126,26 hektare. Sementara wilayah dengan luasan terbakar terbesar berada di Kutai Kartanegara mencapai 480,38 hektare, Kutai Barat 383,67 hektare, dan Paser 358,93 hektare.

Menurutnya, upaya menghadapi dampak kemarau tidak hanya dilakukan melalui penanganan di lapangan. Doa juga menjadi bagian dari upaya rohani yang dilakukan jajaran Korem untuk memohon turunnya hujan.

“Kita bermohon kepada Tuhan melalui doa-doa. Kita lakukan Salat Istisqa untuk meminta kemurahan Tuhan memberikan kemudahan bagi kita yang di lapangan. Semoga Tuhan mendengarkan doa-doa kita dan segera turun hujan di wilayah Kaltim,” ujarnya.

Anggara menyebut, kegiatan serupa juga diharapkan dapat dilakukan oleh masyarakat dari berbagai agama melalui cara dan ibadah masing-masing.

Ia menilai kondisi kemarau yang terjadi saat ini membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Penanganan kebakaran tetap berjalan, namun pencegahan dan upaya menghadapi dampak kekeringan juga perlu dilakukan secara bersama.

Sementara itu Wali Kota Samarinda Andi Harun yang turut hadir menyebut doa bersama menjadi salah satu bentuk ikhtiar masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi kondisi kekeringan.

“Ini satu upaya yang perlu kita lakukan bersama. Memang di Kota Samarinda khususnya, kami telah menetapkan situasi darurat kekeringan selama 14 hari dan nanti 14 hari ke depan akan kita evaluasi lagi,” kata Andi Harun.

Ia mengatakan, kondisi kekeringan saat ini telah masuk fase yang perlu mendapat perhatian serius, terutama menyangkut ketersediaan air bersih.

Andi Harun berharap upaya melalui Salat Istisqa dapat diikuti masyarakat secara lebih luas. Menurutnya, persoalan kemarau tidak seluruhnya dapat diselesaikan melalui upaya teknis pemerintah.

“Kita juga butuh pertolongan Tuhan. Tentu kita harapkan agar kegiatan seperti ini dilakukan seluruh masyarakat di berbagai lapisan di seluruh Kota Samarinda bahkan Kaltim,” ujarnya.

Related posts

Target 300 Ribu Kendaraan, Dishub Samarinda Matangkan Kartu Parkir Berlangganan

R'sya Rahmadina

99 Kebakaran Melanda Kaltim Sepanjang Agustus, 572 Hektare Lahan Terdampak

Emmy Haryanti

Bendungan Lempake Menyusut, Pasokan Air Samarinda Masih Aman

Emmy Haryanti