Samarinda, infosatu.co – Gema takbir terdengar dari dalam Lapas Kelas IIA Samarinda saat ratusan warga binaan melaksanakan Salat Iduladha 1447 Hijriah, Rabu, 27 Mei 2026.
Meski jauh dari keluarga dan berada dalam keterbatasan, suasana hari raya tetap terasa khidmat.
Sejak pagi, warga binaan mulai memenuhi lapangan di dalam lapas yang dijadikan lokasi salat berjemaah. Mereka mengenakan pakaian muslim sederhana, sebagian memakai baju koko dan peci putih.
Lantunan takbir, tahmid, dan tahlil menggema dari dalam lapas sebagai bentuk syukur menyambut Hari Raya Kurban. Suasana berlangsung tertib dan tenang di bawah pengawasan petugas.
Usai salat, para warga binaan tampak saling bersalaman dan bermaafan. Bagi mereka, momen itu menjadi pengganti kebersamaan dengan keluarga yang tidak bisa ditemui langsung saat hari raya.
Salah seorang warga binaan mengaku Iduladha di dalam Lapas terasa berbeda karena lebih banyak menjadi waktu untuk merenung dan memperbaiki diri.
“Kalau di sini kita lebih banyak introspeksi diri. Hari raya jadi pengingat supaya bisa berubah lebih baik,” ujarnya.
Dalam khutbah Iduladha, sang khatib Muhammad Maksum menyampaikan Iduladha bukan sekadar tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi juga tentang keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT.
“Hari ini kita merayakan Iduladha yang dipenuhi gema takbir serta kisah cinta dan kesabaran Nabi Ibrahim. Tapi sesungguhnya bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, melainkan menyembelih segala sesuatu yang membuat kita jauh dari Allah,” katanya.
Ia mengatakan, banyak orang sulit melepaskan hal-hal yang terlalu dicintai, baik harta maupun urusan dunia, hingga lalai dalam beribadah.
Menurutnya, kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi pelajaran tentang keikhlasan menjalankan perintah Allah meski harus mengorbankan sesuatu yang paling dicintai.
“Kalau kita merujuk kepada Nabi Ibrahim, yang diuji adalah anak yang paling dekat dan paling didambakan. Tapi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tetap taat atas perintah-Nya,” ujarnya.
Muhammad Maksum juga mengingatkan bahwa ikhlas bukan perkara mudah karena terkadang seseorang harus rela kehilangan sesuatu demi menjadi pribadi yang lebih baik.
“Ikhlas itu berat, kadang hati harus terluka karena harus melepaskan sesuatu yang kita cintai. Kita ingin hati damai, tetapi terlalu menggenggam dunia. Karena itu kita harus tetap taat dalam segala keadaan,” pesannya.
Usai salat dan mendengarkan khutbah, suasana hangat terlihat saat para warga binaan saling bersalaman dan bermaafan. Momentum tersebut menjadi pengganti kebersamaan dengan keluarga yang tidak dapat mereka rasakan secara langsung pada hari raya tahun ini.
Pada Iduladha tahun ini, warga binaan di Lapas Kelas IIA Samarinda juga tidak menerima remisi khusus keagamaan seperti saat Idulfitri.
Meski begitu, suasana Iduladha tetap berjalan hangat dan penuh makna. Dalam keterbatasan, warga binaan mencoba menjadikan hari raya sebagai momen memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
