Samarinda, Infosatu.co – Keterbatasan hotel di Kabupaten Paser sebagai tuan rumah utama Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VIII Kalimantan Timur (Kaltim) 2026 membuat pemerintah daerah memanfaatkan ratusan rumah warga sebagai alternatif penginapan selama kompetisi berlangsung.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim, Rasman Rading mengatakan rumah-rumah warga tersebut disewa untuk memenuhi kebutuhan akomodasi, terutama bagi perangkat pertandingan yang menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi.
Menurutnya, pemanfaatan rumah warga menjadi solusi karena kapasitas hotel di Paser tidak mencukupi untuk menampung seluruh orang yang terlibat dalam penyelenggaraan Porprov.
“Karena hotelnya sangat terbatas, pemerintah daerah menyiapkan beberapa opsi penggunaan homestay, rumah-rumah warga yang terverifikasi. Jadi uang rakyat kembali ke rakyat,” ujarnya di Samarinda, Kamis, 5 November 2026.
Ia menjelaskan, Pemprov Kaltim mengakomodasi sekitar 3.000 orang yang terdiri dari juri, dewan hakim, technical delegate (TD), dan perangkat pertandingan cabang olahraga.
Sebagian kebutuhan penginapan mereka dipenuhi melalui rumah-rumah penduduk yang dikontrak dengan harga terjangkau. Sementara itu, penggunaan fasilitas tersebut juga harus melalui verifikasi agar pertanggungjawaban anggarannya jelas.
“Jadi kita tidak ada lagi kuitansi-kuitansi bodong. Itu langsung tervalidasi oleh Bapenda selaku pemungut pajak,” jelasnya.
Rasman menyebut Porprov VIII Kaltim melibatkan 8.709 atlet dari kabupaten dan kota. Jumlah ofisial mencapai lebih dari 2.000 orang.
Untuk mendukung pelaksanaan ajang olahraga tersebut, Pemprov Kaltim mengalokasikan anggaran Rp22,5 miliar melalui APBD. Dana itu digunakan untuk kebutuhan akomodasi, konsumsi, transportasi, peralatan, penyewaan sistem pertandingan, hingga perlengkapan lainnya.
Sejumlah pertandingan telah dimulai sejak 2 November 2026, lebih awal dari jadwal utama Porprov yang berlangsung pada 14–27 November 2026.
Rasman meminta seluruh perangkat pertandingan memahami kondisi fasilitas yang tersedia dan mengutamakan kelancaran kompetisi.
“Jangan mengeluh dengan fasilitas yang ada. Ini semuanya soal efisiensi, efektivitas, yang penting terlaksana,” pungkasnya.
