Samarinda, Infosatu.co – Kebiasaan membaca pesan tanpa langsung membalas kini menjadi bagian dari pola komunikasi sehari-hari. Pesan yang masuk terkadang hanya dibaca melalui notifikasi, dibiarkan terbuka, atau sengaja ditunda untuk dijawab kemudian. Namun, tidak sedikit pula yang akhirnya lupa memberikan respons.
Bagi sebagian orang, menunda membalas pesan bukan berarti sedang menghindari lawan bicara. Kesibukan dan kondisi yang tidak selalu memungkinkan untuk merespons menjadi alasan sederhana di balik kebiasaan tersebut.
Putri, seorang pekerja mengaku termasuk orang yang kerap menunda membalas pesan meskipun sudah membacanya. Bahkan, terkadang ia tidak memiliki alasan khusus untuk membiarkan pesan tersebut tanpa balasan.
“Sudah baca terus ya sudah aja gitu,” ujarnya di Samarinda, Minggu, 1 November 2026.
Ia mengaku pernah berniat membalas pesan setelah menyelesaikan aktivitas lain, tetapi justru lupa hingga pesan tersebut kembali tertimbun oleh percakapan baru.
Meski sebenarnya termasuk orang yang terbiasa merespons pesan dengan cepat, Putri mengatakan kebiasaannya bisa berubah tergantung situasi. Ada kalanya ia memilih tidak langsung membalas karena sedang tidak ingin merespons pesan.
Soal kemungkinan orang lain salah paham, ia menilai hal tersebut bergantung pada bagaimana masing-masing orang memandang keterlambatan balasan.
“Entah ya, itu balik ke orang lagi menilai,” katanya.
Pengalaman serupa juga dirasakan Rika, seorang mahasiswa. Berbeda dengan Putri yang terkadang menunda tanpa alasan khusus, aktivitas yang padat menjadi salah satu penyebab dirinya tidak langsung membalas pesan.
Ia menyebut sering membaca pesan melalui notifikasi ketika sedang sibuk, kemudian berencana membalasnya setelah memiliki waktu luang.
“Sudah baca di notif, terus kayak lagi hectic jadi nanti dulu balasnya,” ungkap Rika.
Namun, rencana tersebut tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Pesan yang semula hendak dibalas justru sering terlupakan karena tertumpuk dengan notifikasi dan percakapan lainnya.
Menurutnya, membalas pesan tidak harus dilakukan seketika. Ia memilih merespons ketika aktivitasnya sudah memungkinkan.
Pandangan tersebut juga membuatnya tidak menganggap membalas pesan sebagai kewajiban yang harus selalu dipenuhi dengan cepat. Sebab ia meyakini setiap orang memiliki kesibukan masing-masing sehingga keterlambatan merespons tidak selalu perlu dimaknai sebagai bentuk pengabaian.
Kedua pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kebiasaan menunda membalas pesan memiliki alasan yang beragam. Di tengah komunikasi digital yang memungkinkan seseorang terhubung kapan saja, ketersediaan untuk menerima pesan tidak selalu berarti kesiapan untuk langsung merespons.
Pada akhirnya, pesan yang sudah dibaca tetapi belum dibalas tidak selalu menyimpan persoalan. Terkadang, seseorang hanya sedang menjalani aktivitasnya, lupa memberikan respons, atau memilih membalas ketika memiliki waktu.
