infosatu.co
PEMKOT SAMARINDA

Dari Kartu RFID hingga CCTV, DLH Samarinda Perkuat Pengawasan Operasional Truk Sampah

Teks: Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Kota Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar. (Foto: Dok/Pemkot Samarinda)

Samarinda, Infosatu.co – Efisiensi operasional pengangkutan sampah menjadi salah satu perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda. Di tengah kebutuhan pelayanan kebersihan yang terus berjalan setiap hari, pengawasan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) kendaraan operasional kini diperkuat melalui sejumlah mekanisme berbasis teknologi dan pengendalian lapangan.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan konsumsi BBM sesuai kebutuhan operasional, meningkatkan kedisiplinan pengemudi, sekaligus menutup celah penyalahgunaan bahan bakar pada armada pengangkut sampah.

Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Kota Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, mengungkapkan pengawasan diterapkan melalui enam mekanisme, mulai dari pengaturan waktu pengangkutan hingga pemantauan aktivitas kendaraan menggunakan sistem digital.

“Salah satu upaya yang kami lakukan adalah mengoptimalkan pengangkutan sampah pada malam hari. Selain membantu mengurangi kepadatan lalu lintas, pengaturan ini juga dapat mempersingkat waktu perjalanan sehingga penggunaan BBM lebih efisien,” ungkapnya kepada awak media, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Pengawasan tersebut diperkuat dengan pemasangan GPS Tracker pada 30 unit kendaraan operasional. Perangkat ini memungkinkan DLH memantau pergerakan armada secara langsung atau real-time, termasuk memonitor konsumsi BBM melalui sensor yang terintegrasi dengan dashboard pengawasan.

Teknologi tersebut dirancang untuk mendeteksi pola penggunaan bahan bakar yang tidak wajar. Dalam kondisi normal, grafik konsumsi BBM akan menunjukkan penurunan secara bertahap.

Sebaliknya, apabila terjadi penurunan secara drastis dalam waktu singkat, sistem akan memberikan indikasi adanya aktivitas yang perlu diperiksa lebih lanjut.

“Kalau penggunaan BBM berjalan normal, grafik pada sistem akan terlihat turun secara bertahap. Namun, apabila terjadi penurunan mendadak, grafiknya bisa langsung jatuh. Kondisi seperti itu menjadi indikator adanya dugaan pengurasan atau pengetapan BBM,” ungkapnya.

Selain pemantauan digital, DLH juga menerapkan sistem pembayaran BBM menggunakan kartu Radio Frequency Identification (RFID).

Mekanisme ini menggantikan transaksi tunai sehingga alokasi dana yang dimasukkan ke dalam kartu hanya dapat digunakan untuk pembelian BBM di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Taufiq menilai, penerapan sistem tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat transparansi penggunaan anggaran operasional. Dengan transaksi yang lebih terkontrol, pembelian BBM dapat dipantau dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kendaraan.

“Penggunaan kartu RFID membuat transaksi pembelian BBM lebih terarah. Dana yang dialokasikan memang diperuntukkan bagi pengisian bahan bakar, sehingga penggunaannya bisa lebih mudah dikendalikan dan diawasi,” ucapnya.

Pengawasan juga dilakukan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) melalui pemasangan kamera pengawas atau CCTV serta mesin absensi berbasis pengenalan wajah. Setiap pengemudi diwajibkan melakukan pemindaian wajah setiap kali menyelesaikan satu ritasi atau perjalanan pengangkutan sampah menuju TPA.

Penerapan absensi tersebut sekaligus menjadi instrumen untuk memastikan aktivitas pengangkutan berjalan sesuai jadwal dan kewajiban operasional masing-masing armada.

Taufiq menyebutkan, jumlah ritasi setiap kendaraan tidak disamaratakan. Kewajiban pengangkutan disesuaikan dengan jenis kendaraan dan jarak tempuh menuju lokasi pembuangan, dengan ketentuan berkisar dua hingga empat ritasi dalam sehari.

“Setiap kendaraan memiliki kewajiban ritasi yang berbeda. Ada yang dua kali, tiga kali, hingga empat kali dalam sehari, bergantung pada kapasitas kendaraan dan jarak tempuhnya. Karena itu, setiap penyelesaian ritasi harus tercatat melalui sistem absensi yang telah disiapkan,” terangnya.

Keberadaan CCTV di kawasan TPA juga memungkinkan petugas memantau kendaraan yang masuk, termasuk memastikan armada benar-benar melakukan aktivitas pengangkutan dan membawa muatan sampah sesuai tugas operasionalnya.

Taufiq menegaskan, kombinasi pengawasan berbasis teknologi dan pemeriksaan aktivitas di lapangan diharapkan mampu membangun sistem kerja yang lebih disiplin dan akuntabel. Dengan demikian, penggunaan BBM tidak hanya lebih efisien, tetapi juga mendukung kelancaran pelayanan pengangkutan sampah di Kota Samarinda.

“Melalui berbagai mekanisme pengawasan ini, kami ingin memastikan seluruh armada bekerja sesuai ketentuan. Pergerakan kendaraan, penggunaan BBM, hingga pelaksanaan ritasi dapat dipantau sehingga kedisiplinan petugas dan efektivitas operasional semakin meningkat,” pungkasnya. (ADV)

Related posts

Jaga Kantor Tetap ASRI, ASN Kelurahan Temindung Permai Perkuat Semangat Gotong Royong

Musriva

Bukan Sekadar Kenyang, DP2KB Samarinda Ingatkan Pentingnya Gizi untuk Tumbuh Kembang Anak

Musriva

Jalan Kartini Jadi Sasaran Gotong Royong, Kecamatan Samarinda Kota Dorong Lingkungan Bersih

Musriva