infosatu.co
Lifestyle

Gugup saat Bicara di Depan Banyak Orang? Ini Cara Mengatasinya Menurut Buku Bicara Itu Ada Seninya

Teks: ilustrasi saat seorang merasa gugup ketika berbicara di depan banyak orang. (Ist)

Samarinda, Infosatu.co – Berbicara di depan banyak orang bisa menjadi situasi yang membuat sebagian orang tiba-tiba kehilangan kata-kata. Telapak tangan berkeringat, suara berubah, jantung berdebar bahkan materi yang sebelumnya sudah dikuasai mendadak terasa sulit diingat.

Kondisi tersebut bisa muncul ketika harus melakukan presentasi, berbicara dalam rapat, menjadi pembicara, mengikuti wawancara kerja, hingga sekadar menyampaikan pendapat di hadapan banyak orang.

Rasa gugup sebenarnya tidak selalu berarti seseorang tidak mampu berbicara. Persoalannya sering kali terletak pada cara seseorang memandang komunikasi itu sendiri.

Hal tersebut menjadi salah satu persoalan yang dibahas Oh Su Hyang dalam buku Bicara Itu Ada Seninya: Rahasia Komunikasi yang Efektif.

Buku yang telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Bhuana Ilmu Populer ini membahas teknik komunikasi, persuasi, negosiasi, hingga cara meningkatkan kepercayaan diri dalam berbicara.

Lantas, apa yang bisa dilakukan ketika rasa gugup muncul sebelum berbicara di depan banyak orang?

1. Jangan Menganggap Kemampuan Berbicara sebagai Bakat Bawaan

Salah satu gagasan penting dalam buku ini adalah kemampuan berbicara bukan sesuatu yang sepenuhnya ditentukan sejak lahir.

Artinya, seseorang yang saat ini merasa tidak pandai berbicara bukan berarti akan selamanya memiliki masalah yang sama. Kemampuan tersebut dapat dilatih melalui pengalaman dan kebiasaan.

Cara pandang ini penting karena rasa gugup sering kali semakin besar ketika seseorang sudah terlebih dahulu meyakini dirinya tidak mampu berbicara dengan baik.

Dengan menganggap kemampuan komunikasi sebagai sesuatu yang bisa diasah, perhatian dapat dialihkan dari rasa takut melakukan kesalahan menuju proses belajar.

2. Jangan Hanya Fokus pada Apa yang Ingin Disampaikan

Ketika gugup, seseorang biasanya terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri.

“Apakah saya terlihat gugup?”
“Bagaimana kalau salah bicara?”
“Bagaimana kalau orang-orang tidak tertarik?”

Padahal, komunikasi bukan hanya tentang bagaimana seseorang berbicara, tetapi juga bagaimana pesan tersebut diterima oleh orang lain.

Buku Bicara Itu Ada Seninya bahkan menempatkan kemampuan mendengar sebagai bagian penting dalam komunikasi. Daftar isi buku tersebut memuat bagian khusus bertajuk “Pintar Mendengar, Pandai Berbicara”.

Karena itu, ketika berbicara di depan orang lain, fokus sebaiknya tidak hanya diarahkan kepada penampilan diri sendiri. Pikirkan pula siapa yang sedang diajak berkomunikasi dan pesan apa yang ingin mereka terima.

3. Persiapkan Isi, Bukan Sekadar Menghafal Kalimat

Salah satu penyebab seseorang semakin panik saat berbicara adalah karena terlalu bergantung pada hafalan.

Ketika satu kalimat terlupakan, seluruh rangkaian pembicaraan bisa ikut kacau.

Persiapan yang lebih penting adalah memahami isi yang ingin disampaikan. Dengan begitu, ketika lupa satu kalimat, pembicaraan masih bisa dilanjutkan menggunakan kata-kata sendiri.

Buku ini menekankan pentingnya isi dalam sebuah ucapan. Salah satu bagian bukunya bahkan berjudul “Beratnya Ucapan Ditentukan oleh Dalamnya Isi”.

Jadi, sebelum tampil, pastikan bukan hanya kalimat yang dihafalkan, tetapi juga gagasan yang benar-benar dipahami.

4. Perhatikan Cara Menyampaikan, Bukan Hanya Kata-kata

Pesan yang baik tidak selalu efektif jika disampaikan dengan cara yang kurang tepat.

Kontak mata, intonasi, artikulasi, ekspresi, dan cara memberikan penekanan dapat memengaruhi bagaimana seseorang menerima pesan.

Dalam buku tersebut, Oh Su Hyang juga membahas bahwa kualitas suara dapat dilatih. Salah satu bagian bukunya berjudul “Suara Bagus Bukan Bawaan dari Lahir”.

Artinya, orang yang merasa suaranya kurang bagus atau tidak terbiasa berbicara dengan lantang tidak harus langsung menganggap dirinya tidak cocok menjadi pembicara.

Kemampuan tersebut dapat dikembangkan melalui latihan.

5. Mulai dari Percakapan Kecil

Berbicara di depan ratusan orang bukan satu-satunya cara untuk melatih kemampuan komunikasi.

Latihan bisa dimulai dari hal yang lebih sederhana. Menyampaikan pendapat dalam diskusi, bertanya ketika rapat, membuka percakapan dengan orang baru, atau menjelaskan sebuah ide kepada beberapa orang.

Semakin sering seseorang berkomunikasi, semakin banyak pengalaman yang diperoleh.

Dalam pembahasan tentang buku tersebut, kemampuan berbicara juga dipandang bukan hanya sebagai keterampilan untuk tampil di depan banyak orang. Komunikasi merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk ketika mengobrol, bernegosiasi, dan membangun hubungan dengan orang lain.

Gugup Bukan Berarti Tidak Bisa Berbicara

Yang amat penting ditekankan, rasa gugup sebelum berbicara di depan banyak orang bukan sesuatu yang harus langsung dianggap sebagai kelemahan.

Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang merespons rasa gugup tersebut.

Persiapan yang matang, memahami isi pembicaraan, belajar mendengarkan, memperhatikan cara penyampaian, dan terus berlatih dapat membantu membangun kepercayaan diri secara bertahap.

Seperti gagasan utama yang dibawa Bicara Itu Ada Seninya, kemampuan berkomunikasi bukan sekadar kemampuan mengeluarkan kata-kata. Ada seni dalam memilih pesan, menyampaikannya, dan membuat orang lain memahami apa yang ingin kita sampaikan.

Related posts

Kopi Tiap Hari, Langganan Tak Terpakai: Pengeluaran Kecil yang Menggerus Uang Mahasiswa

R'sya Rahmadina

Kamera HP Makin Canggih, Anak Muda Masih Pilih Photobox

R'sya Rahmadina

5 Makanan Sarapan yang Terlihat Biasa, tapi Kandungan Gizinya Perlu Diperhatikan

Rizki