Samarinda, Infosatu.co – Mencari penyebab sebuah masalah tidak selalu sesederhana melihat apa yang terjadi di lapangan. Buruknya pelayanan publik, rendahnya kualitas pendidikan, hingga kegagalan sebuah program bisa dipengaruhi banyak hal. Persoalannya mungkin terlihat pada satu bagian, tetapi penyebabnya justru berasal dari bagian lain yang selama ini tidak diperhitungkan.
Untuk menelusuri persoalan semacam itu, Diagram Ishikawa atau fishbone dapat digunakan sebagai salah satu alat analisis. Metode ini membantu menguraikan masalah ke dalam sejumlah kelompok penyebab, sehingga proses identifikasi tidak hanya bertumpu pada dugaan atau penilaian terhadap satu faktor.
Nama Ishikawa diambil dari Kaoru Ishikawa, pakar pengendalian kualitas asal Jepang yang memperkenalkan diagram tersebut dalam pengembangan sistem manajemen mutu. Metode ini awalnya banyak digunakan di lingkungan industri untuk mencari penyebab ketidaksesuaian produk dan memperbaiki proses produksi.
Bentuknya menyerupai kerangka ikan. Masalah utama ditempatkan pada bagian kepala, sementara garis-garis yang bercabang menunjukkan kelompok penyebab. Setiap cabang dapat dikembangkan lagi menjadi faktor yang lebih spesifik hingga diperoleh gambaran mengenai sumber persoalan.
Enam Kelompok Penyebab yang Perlu Diperiksa
Dalam penerapan yang umum dikenal, Diagram Ishikawa menggunakan pendekatan 6M. Keenam unsur tersebut mencakup Man, Method, Machine, Material, Measurement dan Mother Nature.
Man berkaitan dengan manusia, termasuk kemampuan, pengalaman, kedisiplinan, dan jumlah tenaga kerja. Method mencakup prosedur serta cara kerja yang diterapkan. Adapun Machine berhubungan dengan peralatan dan teknologi yang digunakan.
Selanjutnya, Material mencakup bahan atau sumber daya yang dibutuhkan dalam suatu proses. Measurement berkaitan dengan sistem pengukuran dan evaluasi, sedangkan Mother Nature mencakup kondisi lingkungan yang memengaruhi pelaksanaan kegiatan.
Pembagian tersebut membantu proses identifikasi agar penyebab masalah tidak hanya dicari dari satu sisi. Dalam praktiknya, kategori 6M juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan analisis. Persoalan pemerintahan, misalnya, mungkin membutuhkan perhatian khusus terhadap anggaran, regulasi, dan koordinasi antarlembaga.
Penerapannya Tidak Terbatas pada Dunia Industri
Meski berawal dari pengendalian kualitas industri, Diagram Ishikawa dapat digunakan untuk membaca persoalan di berbagai sektor.
Dalam pendidikan, rendahnya hasil belajar siswa dapat ditelusuri melalui beberapa faktor. Kemampuan tenaga pendidik, metode pembelajaran, ketersediaan fasilitas, kondisi keluarga, hingga kebijakan sekolah dapat menjadi bagian dari analisis.
Di sektor kesehatan, persoalan antrean panjang di fasilitas pelayanan tidak cukup dilihat dari banyaknya pasien. Pengaturan jadwal, jumlah tenaga medis, sistem administrasi, ketersediaan ruang pelayanan, dan penggunaan teknologi juga perlu diperiksa.
Hal serupa berlaku dalam penyelenggaraan pemerintahan. Ketika sebuah program tidak berjalan sesuai target, penyebabnya bisa berkaitan dengan perencanaan anggaran, pembagian kewenangan, koordinasi antarorganisasi perangkat daerah, maupun kesiapan pelaksana di lapangan.
Dalam dunia jurnalistik, metode ini dapat digunakan untuk mengurai persoalan verifikasi informasi pada media daring. Kecepatan publikasi, kemampuan jurnalis, kebijakan redaksi, ketersediaan editor, dan akses terhadap sumber informasi menjadi sejumlah aspek yang dapat diperiksa.
Melalui pemetaan tersebut, persoalan tidak langsung dibebankan kepada individu. Sistem kerja dan kebijakan organisasi juga mendapat ruang untuk dievaluasi.
Bagaimana Menemukan Akar Masalah?
Penyusunan Diagram Ishikawa diawali dengan menentukan persoalan yang ingin dianalisis. Rumusan masalah harus jelas agar pembahasan tidak melebar ke persoalan lain yang tidak berkaitan.
Setelah itu, tim mengidentifikasi berbagai kemungkinan penyebab berdasarkan kategori yang telah ditentukan. Proses ini dapat dilakukan melalui diskusi, wawancara, observasi, maupun pemeriksaan dokumen.
Setiap penyebab kemudian diuraikan lebih terperinci. Misalnya, ketika keterlambatan pelayanan disebabkan oleh persoalan administrasi, analisis dapat dilanjutkan dengan memeriksa prosedur yang digunakan, pembagian tugas, hingga sistem pencatatan.
Teknik Five Whys atau lima kali pertanyaan mengapa juga dapat digunakan untuk menggali penyebab yang lebih mendasar. Pertanyaan yang diajukan secara berulang membantu peneliti atau tim menemukan hubungan antara satu persoalan dengan persoalan lainnya.
Meski begitu, penyebab yang dicantumkan dalam diagram belum tentu semuanya terbukti. Hasil pemetaan tetap perlu diperiksa melalui data dan fakta sebelum dijadikan dasar pengambilan keputusan.
Diagram Bukan Jawaban Akhir
Satu hal yang perlu diperhatikan, Diagram Ishikawa tidak secara otomatis menunjukkan penyebab yang paling besar pengaruhnya terhadap suatu masalah. Diagram ini membantu menyusun kemungkinan penyebab, bukan membuktikan hubungan sebab-akibat dengan sendirinya.
Karena itu, hasil analisis perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan data. Jika ditemukan beberapa faktor yang berpengaruh, diagram Pareto dapat digunakan untuk membantu menentukan prioritas berdasarkan frekuensi atau dampaknya. Sementara itu, observasi dan wawancara dapat memperkuat penjelasan mengenai kondisi yang terjadi di lapangan.
Penggunaan metode pendukung tersebut membuat hasil analisis tidak berhenti pada daftar kemungkinan penyebab. Setiap dugaan memiliki kesempatan untuk diuji sebelum organisasi menentukan langkah perbaikan.
Pada akhirnya, Diagram Ishikawa membantu mengubah cara seseorang melihat persoalan. Ketika sebuah program gagal atau pelayanan tidak berjalan sebagaimana mestinya, perhatian tidak hanya diarahkan kepada pihak yang berada di garis depan. Prosedur, kebijakan, fasilitas, dan sistem pengawasan juga perlu diperiksa.
Dari situlah penelusuran akar masalah dimulai. Bukan sekadar mencari siapa yang harus bertanggung jawab, melainkan memahami bagian mana yang perlu diperbaiki agar persoalan serupa tidak terus berulang.
