Samarinda, Infosatu.co – Pernah merasa satu masalah kecil bisa membuat pikiran berantakan sepanjang hari? Atau sebaliknya, ada masa ketika persoalan yang sama sebenarnya masih ada, tetapi kita menghadapinya dengan lebih tenang?
Perbedaannya tidak selalu terletak pada masalah yang dihadapi. Bisa jadi, yang berubah adalah kondisi batin ketika kita menghadapi masalah tersebut.
Salah satu konsep yang mencoba menggambarkan perubahan kondisi emosional itu adalah Map of Consciousness atau Peta Kesadaran yang diperkenalkan David R. Hawkins.
Konsep tersebut mengelompokkan berbagai kondisi emosi dan kesadaran manusia dalam sebuah skala, mulai dari rasa malu, bersalah, takut, keberanian, penerimaan, cinta, kedamaian hingga pencerahan.
Namun, hal penting yang perlu dipahami sejak awal ialah angka-angka dalam peta Hawkins bukan ukuran psikologis yang telah divalidasi secara ilmiah seperti skor IQ atau skala klinis. Konsep ini lebih tepat dipandang sebagai kerangka refleksi spiritual dan pengembangan diri.
Dari rasa malu hingga keberanian
Dalam peta tersebut, bagian terbawah ditempati oleh kondisi seperti shame atau rasa malu, kemudian guilt atau rasa bersalah, apathy, grief, fear, desire, anger, dan pride.
Hawkins kemudian menempatkan courage atau keberanian pada angka 200 sebagai titik perubahan.
Menariknya, keberanian di sini tidak selalu berarti berani melakukan sesuatu yang besar.
Keberanian bisa sesederhana mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja.
Berani mengatakan tidak.
Berani meminta bantuan.
Berani menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan.
Atau bahkan berani memulai sesuatu meski belum yakin akan berhasil.
Karena, ketika seseorang masih terjebak dalam rasa takut, bersalah, malu, atau tidak berdaya, bisa dipastikan energinya habis untuk menghindari sesuatu.
Sementara ketika keberanian mulai muncul, perhatiannya jadi bergeser dari “bagaimana saya menghindari ini?” jadi “apa yang bisa saya lakukan?”
Angka 200 dan arti keberanian
Dalam peta tersebut, keberanian jadi titik yang cukup menarik.
Hawkins menempatkan keberanian pada angka 200 dan menganggapnya sebagai semacam batas antara kondisi kesadaran yang lebih melemahkan dengan kondisi yang mulai bersifat membangun.
Jika diartikan ke kehidupan sehari-hari, keberanian tidak harus berbentuk tindakan besar.
Seseorang bisa menunjukkan keberanian ketika mengakui kesalahannya, mencoba pekerjaan yang belum pernah dilakukan, keluar dari hubungan yang tidak sehat, menyampaikan pendapat yang berbeda, atau meminta pertolongan ketika memang membutuhkannya.
Ada perubahan kecil dalam cara berpikir ketika keberanian muncul.
Sebelumnya, pertanyaan yang muncul mungkin, “Bagaimana kalau saya gagal?”
Setelahnya, pertanyaannya bisa berubah jadi, “Kalau gagal, apa yang bisa saya lakukan?”
Persoalannya belum tentu juga berubah. Tapi orangnya yang mulai memiliki ruang untuk bertindak.
Di atas keberanian, Hawkins menempatkan neutrality atau netralitas pada 250, willingness atau kemauan pada 310, dan acceptance atau penerimaan pada 350.
Ketiganya dapat dibaca sebagai perubahan dalam hubungan seseorang dengan keadaan di sekitarnya.
Netralitas berkaitan dengan berkurangnya keterikatan pada kebutuhan untuk selalu menang atau membuktikan diri. Seseorang mulai bisa mengatakan, “Saya tidak menyukai keadaan ini, tetapi saya tetap bisa menghadapinya.”
Kemauan, lalu membuat seseorang lebih siap mengambil tindakan. Ia tidak hanya memahami masalah, tetapi juga bersedia melakukan sesuatu untuk mengatasinya.
Sementara penerimaan berkaitan dengan kemampuan melihat kenyataan sebagaimana adanya.
Contohnya sederhana. Seseorang kehilangan pekerjaan. Ia boleh kecewa, marah, bahkan takut dengan kondisi keuangannya. Penerimaan tidak berarti ia menyukai kehilangan tersebut. Ia hanya berhenti menghabiskan seluruh energinya untuk menyangkal bahwa hal itu sudah terjadi.
Dari sana, perhatian bisa dialihkan pada hal yang masih dapat dilakukan.
Mengapa kita sering terjebak dalam emosi tertentu?
Salah satu hal yang menarik dari konsep ini, bahwa manusia tidak selalu berada pada satu kondisi emosi.
Hari ini bisa sangat percaya diri. Besok bisa dipenuhi kecemasan. Dalam satu situasi seseorang mampu menerima keadaan, tetapi dalam situasi lain justru mudah marah.
Artinya, kondisi kesadaran bukanlah label permanen tentang siapa diri seseorang.
Kita bisa berpindah-pindah.
Kegagalan pekerjaan, putus hubungan, kehilangan seseorang, masalah finansial, komentar orang lain, hingga tekanan dari media sosial dapat membuat seseorang turun ke kondisi emosional yang lebih berat.
Sebaliknya, tidur yang cukup, hubungan yang sehat, lingkungan yang suportif, pemahaman terhadap diri sendiri, serta kemampuan mengelola masalah dapat membantu seseorang kembali ke kondisi yang lebih stabil.
Karena itu, peta tersebut akan lebih berguna jika tidak digunakan untuk menghakimi diri sendiri maupun orang lain.
Bukan berarti orang yang sedang marah adalah “manusia level rendah”.
Bukan pula berarti orang yang sedang sedih memiliki kesadaran yang buruk.
Emosi tidak membuat seseorang menjadi lebih rendah sebagai manusia.
Emosi adalah bagian dari pengalaman manusia.
Kita tidak harus selalu berada di “level tinggi”
Ada kecenderungan dalam pembahasan pengembangan diri untuk menganggap bahwa seseorang harus selalu positif, bahagia, penuh cinta dan tenang.
Padahal kehidupan tidak bekerja seperti itu.
Pasti ada kalanya kita takut. Ada kalanya marah. Ada kalanya berduka. Ada kalanya kecewa.
Yang jelas penting bukan memaksa diri untuk segera menjadi positif, melainkan mampu menyadari apa yang sedang kita rasakan dan memilih respons yang lebih sehat.
Seseorang yang sedang berduka tidak perlu dipaksa untuk langsung bahagia.
Seseorang yang takut tidak perlu dipermalukan karena ketakutannya.
Dan seseorang yang sedang marah tidak harus berpura-pura tenang.
Gerakan pertamanya justru menyadari, “Saya sedang berada di kondisi ini.”
Dari kesadaran tersebut, barulah perubahan mungkin terjadi.
Setelah penerimaan, peta Hawkins bergerak menuju reason atau akal pada 400, kemudian love atau cinta pada 500-an, joy atau kegembiraan pada 600, hingga peace atau kedamaian pada 700 dan enlightenment atau pencerahan pada 1000.
Bagian atas peta semakin jauh dari emosi sehari-hari dan masuk ke wilayah spiritual.
Karena itu, bagian tersebut lebih sulit diterjemahkan secara sederhana ke dalam psikologi modern. “Cinta”, “kedamaian”, atau “pencerahan” dalam konsep Hawkins memiliki pengertian yang lebih luas daripada sekadar suasana hati.
Di sinilah peta tersebut sebaiknya tidak dibaca seperti tangga yang harus dinaiki satu per satu.
Manusia tidak tinggal secara permanen di satu angka.
Seseorang bisa sangat rasional ketika bekerja, tetapi mudah marah ketika berhadapan dengan persoalan keluarga. Seseorang bisa terlihat percaya diri di depan orang lain, tetapi menyimpan rasa takut ketika sendirian.
Kondisi emosional juga dapat berubah karena pengalaman yang sedang dihadapi.
Hari ini kita mungkin mampu menerima sebuah keadaan. Beberapa minggu kemudian, ketika menghadapi masalah lain, kita kembali merasa takut atau marah.
Itu hal yang wajar saja.
Jangan menjadikan peta ini sebagai alat untuk menghakimi.
Ada risiko ketika konsep seperti Peta Kesadaran digunakan terlalu harfiah.
Seseorang yang sedang sedih bisa dianggap memiliki “level kesadaran rendah”. Orang yang sedang marah dianggap belum berkembang secara emosional. Sebaliknya, orang yang selalu terlihat tenang bisa dianggap sudah berada pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi.
Padahal emosi tidak sesederhana itu.
Kesedihan setelah kehilangan sesuatu yang penting merupakan respons manusiawi. Kemarahan juga bisa muncul ketika seseorang diperlakukan tidak adil. Ketakutan dapat menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah emosi itu muncul.
Apakah rasa takut membuat kita berhenti mengambil keputusan? Apakah kemarahan membuat kita bertindak tanpa berpikir? Apakah rasa bersalah membuat kita terus menghukum diri sendiri? Atau kita mampu mengenali perasaan tersebut sebelum menentukan tindakan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jauh lebih berguna daripada sibuk mencari angka berapa yang menggambarkan diri kita.
Jika peta Hawkins digunakan sebagai alat refleksi, pertanyaan yang lebih menarik buka “Saya sekarang berada di angka berapa?” tapi,
“Apa yang sedang mengendalikan cara saya melihat kehidupan?”
Apakah ketakutan? Keinginan untuk diakui Kemarahan? Kebutuhan untuk mengontrol semuanya? Atau mulai muncul keberanian untuk menerima keadaan dan mengambil tindakan?
Karena, kehidupan kita itu tidak hanya melulu ditentukan oleh apa yang terjadi kepada kita. Ada bagian yang juga ditentukan oleh cara kita memberikan makna dan merespons apa yang terjadi.
