Samarinda, Infosatu.co – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyebut 17 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) mulai beroperasi pada tahun pertama pelaksanaannya. Sekolah tersebut disiapkan sebagai layanan pendidikan bagi anak-anak Indonesia dengan kemampuan dan bakat istimewa, baik di bidang akademik maupun olahraga, seni, serta bidang unggulan lainnya.
Abdul Mu’ti mengatakan proses pembelajaran di 17 SNT saat ini masih berlangsung di sekolah transit. Hal itu karena bangunan SNT yang direncanakan berdiri di atas lahan seluas 10 hingga 20 hektare masih dalam tahap persiapan pembangunan.
“Penyelenggaraan dan proses belajar mengajar sudah mulai berlangsung. Hari Senin kemarin saya membuka MPLS di SNT 7 di Parung, Bogor, yang diikuti oleh seluruh SNT di Indonesia,” ujar Mendikdasmen dalam keterangan resminya.
Ia menjelaskan keberadaan SNT menjadi upaya pemerintah menyediakan ruang pendidikan yang lebih sesuai bagi peserta didik dengan kemampuan tinggi. Menurutnya, sekolah umum saat ini harus melayani siswa dengan beragam latar belakang ekonomi serta kemampuan intelektual dan fisik dalam satu lingkungan pembelajaran.
Kondisi tersebut dinilai dapat membuat potensi anak dengan kemampuan tertentu belum berkembang secara maksimal karena pembelajaran harus menyesuaikan kondisi mayoritas peserta didik di kelas.
“SNT ini mengisi ruang kosong yang belum mampu disediakan oleh sekolah-sekolah standar. Kedua, menyediakan sekolah bermutu secara lebih merata karena setiap kabupaten ada sekolah unggul. Nanti ke depan sekolah ini akan menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah lain menyangkut mutu, sistem pembelajaran, dan lain-lain,” jelasnya.
Pembangunan gedung SNT ditargetkan mulai pada akhir 2026. Sekolah tersebut nantinya diharapkan tidak hanya menjadi tempat pendidikan bagi siswa berkemampuan dan berbakat istimewa, tetapi juga menjadi rujukan peningkatan mutu pendidikan di daerah.
Di sisi lain, Kemendikdasmen juga menyiapkan sejumlah skema pendidikan untuk menekan angka anak putus sekolah. Abdul Mu’ti menyampaikan akses pendidikan diperluas melalui model yang lebih fleksibel dan terjangkau, termasuk Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), program kesetaraan Paket A, B, dan C, Sekolah Satu Atap, Sekolah Terbuka, hingga Community Learning Center.
Sementara untuk penanganan sekolah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, pembangunan kembali disebut telah mendekati 100 persen. Pemerintah mulai mengerjakan revitalisasi sejak Februari 2026 dengan total penanganan hampir 5.000 sekolah.
Sebagian sekolah masih menghadapi kendala relokasi karena membutuhkan lahan baru yang aman. Pemerintah untuk sementara menyediakan sekolah darurat, sementara anggaran yang telah digunakan atau disiapkan untuk penanganan tersebut mencapai lebih dari Rp2 triliun.
Abdul Mu’ti menegaskan berbagai program tersebut merupakan bagian dari upaya membangun fondasi pendidikan dasar yang kuat. Kemendikdasmen, kata dia, memfokuskan penguatan pendidikan melalui empat aspek, yakni infrastruktur fisik, pedagogis, budaya dan karakter, serta hukum dan regulasi.
“Pak Presiden menyampaikan ke saya tentang arti pentingnya pendidikan dasar ini. Karena sebagaimana kita membangun sebuah rumah, pendidikan dasar ini adalah fondasi untuk pendidikan yang selanjutnya. Karena itu kami berusaha untuk tahun pertama ini meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu untuk semua,” pungkasnya.
