Samarinda, Infosatu.co – Pembayaran tenaga guru paruh waktu di SMP Negeri 28 Samarinda masih mengandalkan dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDa). Kondisi tersebut membuat sekolah harus mengatur keuangan karena pencairan BOSDa tidak langsung diterima pada awal periode pembayaran.
Kepala SMPN 28 Samarinda Agus mengatakan tenaga guru paruh waktu di sekolahnya telah memiliki surat keputusan pengangkatan. Namun, pembayaran mereka hingga kini masih menggunakan dana BOSDa.
“Paruh waktu ini kan sampai sekarang masih digaji menggunakan dana BOSDa. Bukan dari pemkot yang membayar, padahal mereka itu sudah punya NIP,” ungkap Agus di Samarinda, Jumat, 28 Agustus 2026.
Menurutnya, mekanisme pencairan BOSDa menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi sekolah. Dana tersebut diterima secara berkala, sementara kebutuhan pembayaran guru berjalan setiap bulan.
Agus mencontohkan, BOSDa untuk periode Januari hingga Maret baru diterima sekolah pada akhir Maret. Kondisi tersebut membuat sekolah perlu mengatur pembayaran terlebih dahulu agar tenaga pengajar tidak harus menunggu sampai dana diterima.
“Kalau seandainya BOSDa bisa diatur di bulan Januari misalnya, lebih enak kita di sekolah,” ucapnya.
Dalam kondisi tertentu, pihak sekolah berupaya memberikan pembayaran sementara sesuai kemampuan keuangan yang tersedia. Agus mengaku langkah tersebut dilakukan agar kebutuhan tenaga pengajar tetap dapat dipenuhi sembari menunggu pencairan BOSDa.
Ia menyebut terdapat empat tenaga paruh waktu yang telah memiliki surat keputusan dan membutuhkan kepastian pembayaran. Sekolah, lanjutnya, tidak mungkin membiarkan tenaga pengajar menunggu tanpa kepastian karena mereka juga memiliki kebutuhan rumah tangga.
Di sisi lain, SMPN 28 Samarinda juga memanfaatkan guru honorer untuk membantu kebutuhan tenaga pengajar. Dua guru honorer di sekolah tersebut telah tersertifikasi dan pembayarannya menggunakan BOSDa.
Agus menyampaikan sekolah mendapat keleluasaan untuk merekrut tenaga honorer sebagai bagian dari upaya membantu guru yang memiliki beban mengajar cukup tinggi. Sekolah juga memilih tenaga pengajar yang berasal dari lingkungan sekitar. Bahkan, sejumlah guru honorer tersebut merupakan alumni SMPN 28 Samarinda.
Ia menuturkan, perekrutan guru lokal memiliki keuntungan karena mereka lebih mengenal karakter siswa sekaligus memiliki jarak tempuh yang relatif dekat menuju sekolah.
“Di samping mereka mengetahui karakteristik siswanya di sini, juga dari segi waktu, jarak tempuh itu lebih dekat,” tuturnya.
Agus berharap ke depan terdapat kepastian mengenai mekanisme pembiayaan bagi guru paruh waktu, terutama bagi mereka yang telah memiliki surat keputusan pengangkatan.
“Ya, mudah-mudahan tahun depan sudah ada perubahan,” pungkasnya.
