Samarinda, Infosatu.co – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda mengungkap masih ada satu insinerator yang belum beroperasi secara optimal, yakni di Kelurahan Tani Aman.
Kendala utama bukan berasal dari mesin, melainkan belum tersedianya jaringan pasokan air mandiri untuk mendukung operasional fasilitas tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Samarinda Suwarso mengatakan seluruh 10 unit insinerator sebenarnya telah mulai beroperasi sejak sekitar sepekan terakhir. Namun, khusus di Tani Aman masih diperlukan penyempurnaan pada sarana pendukung.
“Beberapa sudah diuji coba, dan seminggu yang lalu semuanya sudah beroperasi. Walaupun masih ada kendala di satu titik, yaitu di Tani Aman,” ujarnya, Rabu, 8 Juli 2026.
Menurut Suwarso, selama ini kebutuhan air di lokasi tersebut masih dipenuhi melalui sambungan dari kantor kelurahan setempat. Ke depan, DLH akan membangun jaringan air tersendiri agar operasional insinerator dapat berjalan lebih optimal.
“Ke depan tentu harus memasang jaringan sendiri agar lebih optimal,” katanya.
Di luar kendala tersebut, Suwarso memastikan seluruh sumber daya manusia (SDM) yang bertugas mengoperasikan insinerator telah disiapkan sehingga tidak ada hambatan dari sisi personel.
Ia juga menanggapi munculnya asap yang masih terlihat pada beberapa proses pembakaran. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh jenis sampah yang masuk ke dalam insinerator, terutama apabila masih tercampur sampah basah atau rumput.
“Idealnya harus ditambah bahan bakar yang kering. Ada kemungkinan sampah basah atau rumput ikut masuk sehingga asapnya menjadi lebih tebal,” jelasnya.
Meski demikian, hasil pemantauan menunjukkan emisi yang dihasilkan insinerator masih berada di bawah ambang batas sehingga dinilai aman bagi lingkungan.
“Kualitas udaranya masih di bawah ambang batas. Masih aman. Tapi tentu kami terus mencari solusi agar asapnya semakin berkurang,” tegas Suwarso.
Suwarso menambahkan, keberhasilan operasional insinerator tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga bergantung pada partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
Menurutnya, jika sampah dipisahkan sesuai jenisnya, proses pembakaran akan lebih optimal dan emisi asap dapat terus ditekan.
“Kalau masyarakat sudah memilah sampah sejak dari rumah, maka yang masuk ke insinerator adalah sampah yang memang sesuai untuk dibakar. Prosesnya akan lebih optimal dan asap yang dihasilkan juga bisa semakin berkurang,” pungkasnya.
