infosatu.co
KESEHATAN

Viral Tiga Anak Usia Sekolah Melahirkan di Bontang, Wali Kota dan DPRD Buka Suara

Teks: Ilustrasi kehamilan di bawah umur. (Istimewa)

Bontang, Infosatu.co – Kasus tiga remaja usia sekolah yang melahirkan dalam kurun waktu dua pekan di Kota Bontang menjadi sorotan publik setelah diungkap dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr Fakhruzzabadi, SpOG, melalui media sosial.

Dalam video viral tersebut, dr Fakhruzzabadi mengungkap tiga remaja datang ke instalasi gawat darurat (IGD) dengan keluhan nyeri perut hebat. Seluruh kasus memiliki pola yang hampir serupa, yakni kehamilan baru diketahui ketika para remaja datang ke rumah sakit untuk menjalani persalinan.

Dokter yang akrab disapa dr Badi itu juga menyampaikan seluruh bayi yang lahir memiliki berat badan lahir rendah. Dua bayi berhasil diselamatkan, sementara satu bayi meninggal dunia.

Menurutnya, kehamilan remaja yang tidak dipantau sejak awal berisiko melahirkan bayi prematur maupun bayi dengan berat badan lahir rendah yang berpotensi mengalami stunting.

Di balik tiga kasus yang viral tersebut, dr Badi mengungkap persoalan yang lebih besar. Berdasarkan data praktiknya, sepanjang Januari hingga Mei 2026 terdapat 59 remaja berusia di bawah 20 tahun yang menjalani pemeriksaan kehamilan.

Selain itu, dalam periode yang sama tercatat 14 permintaan visum anak, yang mayoritas berkaitan dengan kasus persetubuhan anak.

Menanggapi viralnya kasus tersebut, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan kehamilan remaja merupakan persoalan serius yang harus ditangani bersama, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

“Itu bagian dari permasalahan yang memang harus kita selesaikan. Tanggung jawabnya bukan hanya pemerintah, tetapi juga orang tua dan seluruh elemen masyarakat,” katanya.

Neni menjelaskan, Pemkot Bontang selama ini telah rutin melaksanakan sosialisasi kesehatan reproduksi ke sekolah-sekolah. Namun, kegiatan tersebut tidak selalu dipublikasikan karena berkaitan dengan privasi peserta didik.

Menurutnya, edukasi mengenai kesehatan reproduksi penting diberikan agar remaja memahami risiko hubungan seksual di usia dini, termasuk ancaman terhadap kesehatan reproduksi, kehamilan tidak direncanakan, hingga risiko melahirkan bayi stunting.

“Anak-anak sangat antusias ketika kami datang ke sekolah. Saya rasa kegiatan seperti ini memang sangat perlu, terutama agar mereka memahami kesehatan reproduksi. Kalau mereka tidak memahami kesehatan reproduksi lalu melakukan seks bebas, itu bisa mengancam organ reproduksinya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kehamilan pada usia remaja membawa berbagai risiko kesehatan, baik bagi ibu maupun bayi yang dikandung.

“Mereka bisa hamil di usia muda, berisiko melahirkan anak stunting, mengalami pendarahan saat hamil, bahkan bisa mengancam jiwa. Banyak sekali permasalahan yang bisa mengancam anak seusia mereka. Karena itulah sosialisasi ini sangat penting,” tegasnya.

Tak hanya Wali Kota Bontang, kejadian ini juga turut mendapat respons dari Sekretaris Komisi A DPRD Kota Bontang Saeful Rizal, Ia menilai fenomena tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesehatan reproduksi, tetapi juga mencerminkan persoalan pembinaan moral generasi muda yang membutuhkan perhatian seluruh elemen masyarakat.

“Tentu saja ini menjadi keprihatinan kita bersama. Seluruh elemen masyarakat harus ikut memberikan perhatian, mulai dari orang tua, sekolah, pemerintah, tokoh masyarakat, organisasi keagamaan, hingga DPRD,” katanya saat dihubungi, Rabu, 8 Juli 2026.

Menurut Saeful, persoalan utama yang perlu dibenahi adalah dekadensi moral di kalangan generasi muda. Karena itu, ia mendorong pemerintah dan masyarakat memperbanyak ruang kegiatan positif agar remaja memiliki wadah untuk mengembangkan potensi sekaligus terhindar dari perilaku berisiko.

“Kita tidak cukup hanya memberi nasihat. Harus ada fasilitas dan kegiatan yang membuat anak-anak muda fokus pada hal-hal yang bermanfaat bagi diri mereka dan masa depan mereka,” ujarnya.

Ia menambahkan, persoalan tersebut tidak boleh dipandang sebagai masalah individu semata karena berkaitan langsung dengan kualitas generasi penerus bangsa.

“Kalau kita melihat secara lebih luas, persoalan ini bisa mengancam kualitas generasi masa depan. Karena itu mereka harus dipersiapkan bukan hanya secara intelektual, tetapi juga memiliki moralitas yang kuat,” pungkasnya.

Related posts

CKG Tembus 28 Ribu Peserta, Dinkes Soroti Rendahnya Kesadaran Warga

Emmy Haryanti

Angka Stunting Samarinda Turun Jadi 17 Persen, Dinkes Sebut Penanganan Masih On the Track

Emmy Haryanti

Efisiensi Anggaran Tak Ganggu Layanan Dasar, Dinkes Pastikan Target SPM Tetap Dikejar

Emmy Haryanti