infosatu.co
PENDIDIKAN

Sekolah Rakyat Strategi Putus Kemiskinan

Teks: Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur, Armin, saat diwawancarai awak media usai kegiatan. (Infosatu.co/Ratu)

Samarinda, Infosatu.co – Program Sekolah Rakyat dinilai sebagai langkah strategis pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur, Armin menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan kebijakan nasional yang diinisiasi pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial, dengan fokus utama pada peningkatan taraf hidup masyarakat rentan.

“Sekolah Rakyat ini fokus bagaimana memutus kemiskinan. Anak-anak yang secara ekonomi sangat memprihatinkan harus diselamatkan melalui pendidikan, agar ke depan bisa mengangkat derajat keluarganya,” ujarnya.

Ia menegaskan, secara sistem pembelajaran tidak ada perbedaan mendasar antara Sekolah Rakyat dan sekolah umum. Namun, tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks.

“Pembelajarannya sama, tapi tantangannya lebih berat. Karena di Sekolah Rakyat kita menghadapi anak-anak yang belum siap belajar, berbeda dengan sekolah umum yang siswanya sudah siap,” jelasnya.

Meski demikian, Armin mengapresiasi perkembangan siswa yang dinilai menunjukkan perubahan signifikan, terutama dalam hal kepercayaan diri dan keberanian tampil.

“Kalau kita lihat, anak-anak bisa tampil dengan percaya diri. Padahal sebelumnya mungkin mereka tidak pernah punya mimpi. Itu luar biasa,” katanya.

Ia juga memastikan bahwa lulusan Sekolah Rakyat tetap memiliki peluang yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

“Ijazahnya tentu diakomodir. Bahkan Paket C saja bisa kuliah, apalagi ini sekolah formal,” tegasnya.

Di sisi lain, ia mengakui masih terdapat tantangan dalam pemenuhan tenaga pendidik, seperti guru agama dan bimbingan konseling (BK). Untuk mengatasinya, Disdik mendorong pendekatan kolaboratif.

“Semua guru sekarang dipersiapkan juga berperan sebagai guru BK. Untuk guru agama, bisa bekerja sama dengan pihak luar, seperti tokoh keagamaan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Samarinda, Rabiatul Adawiyah, mengungkapkan bahwa dampak program ini sangat terasa pada perubahan pola pikir siswa.

“Dulu banyak anak yang bahkan tidak punya cita-cita. Kalau ada, masih sangat terbatas. Sekarang mereka sudah berani bermimpi lebih besar,” ujarnya saat kegiatan Open House, Sabtu, 20 Juni 2026.

Menurutnya, keterbatasan lingkungan sebelumnya membuat siswa minim referensi tentang masa depan. Namun setelah mendapatkan pembinaan selama satu tahun, mereka mulai mengenali potensi diri dan menentukan arah hidup.

Tak hanya itu, siswa juga didorong menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga, terutama saat masa libur sekolah.

“Mereka dibekali jurnal kegiatan, supaya bisa menularkan kebiasaan baik di rumah, minimal menjadi contoh perubahan di keluarga,” jelasnya.

Dari sisi akademik, ia menyebut capaian siswa cukup baik, meskipun tetap ada evaluasi ketat terhadap kesiapan belajar.

“Tidak semua dipaksakan naik kelas. Kalau memang belum siap, kita bina dulu sampai benar-benar siap,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang pembinaan karakter dan pemberdayaan sosial bagi siswa dari keluarga prasejahtera.

Related posts

Tahun Depan Siswa Sekolah Rakyat Tempati Gedung Baru di Timbau

Ratu

Sekolah Rakyat Ubah Masa Depan Anak-Anak Rentan

Ratu

Pemprov Kaltim Dukung Sekolah Rakyat, Siapkan Lahan hingga Program Gratispol

Ratu