Samarinda, Infosatu.co – Dulu, healing identik dengan liburan ke pantai, pegunungan atau tempat-tempat estetik yang ramai menghiasi media sosial. Kini, maknanya telah bergeser. Bagi banyak orang, healing bukan lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan kebutuhan untuk menjaga kesehatan mental di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks.
Perubahan ini terjadi seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental. Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi tekanan hidup, bekerja secara produktif, belajar dengan baik, serta berkontribusi dalam lingkungan sosialnya.
Dengan kata lain, kesehatan mental bukan hanya soal tidak mengalami gangguan psikologis, tetapi juga kemampuan menjalani kehidupan sehari-hari secara optimal.
Namun realitas kehidupan modern menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Persaingan kerja, tekanan ekonomi, tuntutan produktivitas, hingga derasnya arus informasi digital membuat banyak orang mengalami kelelahan fisik dan emosional.
WHO mendefinisikan stres sebagai kondisi ketegangan mental atau kekhawatiran yang muncul akibat situasi sulit. Dalam kadar tertentu stres dapat membantu seseorang menghadapi tantangan, tetapi ketika berlangsung terus-menerus, dampaknya dapat mengganggu kesehatan fisik maupun mental.
Fenomena tersebut terlihat jelas dalam kehidupan masyarakat perkotaan. Tidak sedikit orang yang mengaku merasa lelah meski tidak melakukan aktivitas fisik berat. Pikiran yang terus dibebani pekerjaan, target, dan berbagai tuntutan sosial membuat waktu istirahat sering kali tidak cukup untuk memulihkan kondisi mental.
Di sisi lain, media sosial turut memperbesar tekanan tersebut. Kehidupan orang lain yang tampak sempurna di layar ponsel sering memunculkan perbandingan sosial yang tidak sehat. Banyak orang merasa harus terus produktif, sukses, dan bahagia agar tidak tertinggal dari lingkungan sekitarnya. Akibatnya, kebutuhan untuk mengambil jeda dari rutinitas menjadi semakin penting.
Di sinilah konsep healing menemukan relevansinya. Healing bukan lagi soal bepergian jauh atau menghabiskan banyak uang. Esensinya adalah memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat dari tekanan yang terus-menerus datang. Bentuknya bisa sangat sederhana, seperti berjalan santai di taman, membaca buku, berolahraga ringan, menikmati waktu bersama keluarga, atau mengurangi penggunaan media sosial selama beberapa waktu.
WHO bahkan menempatkan praktik self-care atau perawatan diri sebagai bagian penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan. Self-care dipahami sebagai kemampuan individu untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit, dan meningkatkan kesejahteraan secara mandiri melalui berbagai aktivitas positif dalam kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, tren healing juga menghadapi tantangan baru, yakni komersialisasi. Berbagai produk dan layanan kini menggunakan label healing sebagai strategi pemasaran. Mulai dari paket wisata, kafe berkonsep ketenangan, hingga berbagai layanan relaksasi yang ditawarkan dengan harga tinggi. Kondisi ini menciptakan persepsi bahwa healing harus dilakukan dengan cara yang mahal.
Padahal, para ahli kesehatan mental menegaskan bahwa pemulihan diri tidak selalu membutuhkan biaya besar. Yang terpenting adalah kualitas waktu yang digunakan untuk mengurangi tekanan dan mengembalikan keseimbangan emosi. Bahkan aktivitas sederhana yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih efektif dibanding liburan singkat yang hanya memberikan efek sesaat.
Fenomena meningkatnya kebutuhan healing juga tidak dapat dilepaskan dari ancaman burnout atau kelelahan berkepanjangan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa burnout bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan kondisi yang dapat memengaruhi kesehatan mental, fisik, dan produktivitas seseorang. Burnout umumnya muncul akibat stres kronis yang tidak dikelola dengan baik dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, fenomena healing menunjukkan satu hal penting: manusia membutuhkan keseimbangan. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak, mengatur ulang pikiran, dan memberi ruang bagi diri sendiri bukan lagi kemewahan. Itu adalah kebutuhan.
Sebab dalam kehidupan modern yang penuh tekanan, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Dan healing, dalam makna yang sesungguhnya, adalah salah satu cara untuk memastikan keduanya tetap berjalan beriringan.
