Samarinda, Infosatu.co – Metode pendidikan karakter terus berkembang dengan pendekatan yang lebih kreatif dan relevan bagi anak-anak. Salah satunya melalui kegiatan mendongeng yang kini diangkat dalam lomba bertutur oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kota Samarinda.
Kegiatan ini akan digelar pada 27 Juli mendatang sebagai bagian dari Program Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMP) Kalimantan Timur. Kepala Dispursip Kota Samarinda Erham Yusuf menyebut bahwa mendongeng bukan sekadar hiburan, melainkan media efektif dalam membentuk karakter anak sejak dini.
Menurutnya, pendekatan melalui cerita lebih mudah diterima oleh anak dibandingkan metode pembelajaran yang bersifat formal dan kaku.
“Kita berharap anak-anak tidak hanya terinspirasi, tetapi juga merasakan sentuhan nilai dari cerita yang disampaikan, sehingga dapat membentuk cara berpikir dan bersikap mereka,” ujarnya saat ditemui di ruang rapat kantor Dispursip Samarinda, Selasa, 9 Juni 2026.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 20 siswa akan dipilih melalui proses seleksi oleh Dinas Pendidikan untuk mengikuti lomba mendongeng. Para peserta terbaik nantinya akan mewakili Samarinda di tingkat provinsi hingga nasional.
Namun, Erham menegaskan bahwa esensi utama kegiatan ini bukan semata kompetisi, melainkan proses pembelajaran nilai melalui cerita.
Ia menjelaskan, dongeng memiliki kekuatan tersendiri dalam menyampaikan pesan moral secara halus, tanpa terkesan menggurui. Nilai-nilai seperti kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab dapat ditanamkan melalui alur cerita yang dekat dengan kehidupan anak.
“Pesan dalam dongeng itu sebenarnya adalah teladan. Anak-anak belajar tanpa merasa sedang diajari,” jelasnya.
Erham juga mengakui bahwa pengalaman masa kecilnya membuktikan kuatnya pengaruh dongeng dalam membentuk kepribadian seseorang.
“Saya sendiri masih ingat cerita-cerita yang didongengkan saat kecil. Tanpa disadari, itu mempengaruhi cara saya berpikir dan bersosialisasi,” ungkapnya.
Kegiatan ini turut melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk Dinas Pendidikan yang berperan dalam mobilisasi siswa sebagai peserta maupun audiens. Kehadiran siswa sebagai pendengar juga dinilai penting agar mereka dapat menyerap nilai-nilai yang disampaikan dalam cerita.
Melalui pendekatan ini, pemerintah berharap dapat menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.
Erham menambahkan, pendidikan karakter tidak harus selalu disampaikan melalui metode formal. Justru melalui pendekatan yang menyenangkan seperti mendongeng, nilai-nilai tersebut dapat lebih mudah tertanam dalam diri anak.
“Melalui dongeng, kita mengembangkan literasi sekaligus menanamkan nilai-nilai kehidupan yang penting bagi masa depan mereka,” pungkasnya.
