infosatu.co
Samarinda

Ini Alasan Sapi Sulawesi dan NTT Dominasi Pasar Kurban di Kaltim

Teks: Sapi asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang dijual di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, infosatu.co – Sapi asal Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mendominasi pasar hewan kurban di Kalimantan Timur (Kaltim) pada momen Iduladha 1447 Hijriah.

Selain pasokan yang melimpah, faktor kesehatan ternak hingga jalur distribusi menjadi alasan utama pedagang lebih banyak mendatangkan sapi dari dua wilayah tersebut.

Mayoritas sapi potong dan hewan kurban yang beredar di Kaltim, termasuk di Samarinda, selama ini memang dipasok langsung dari Sulawesi dan Kupang, NTT. Tingginya kebutuhan daging di Kaltim juga membuat daerah ini masih bergantung pada distribusi ternak dari luar daerah.

Kebutuhan daging ruminansia di Kalimantan Timur tercatat mencapai sekitar 17.095 ton per tahun. Sementara produksi lokal belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan tersebut sehingga kekurangannya dipasok dari Sulawesi, NTT, dan sebagian wilayah Pulau Jawa.

Pedagang sapi di Samarinda, Rama Setia Nugraha mengatakan sapi dari Sulawesi dan NTT lebih banyak diminati karena stoknya stabil dan dinilai lebih aman dari risiko penyakit ternak.

Menurutnya, sejak merebaknya kasus Penyakit Mulut dan Kuku beberapa tahun terakhir, pedagang menjadi lebih selektif dalam menentukan daerah pemasok sapi kurban.

Selain faktor kesehatan, sapi dari Sulawesi dan NTT juga dianggap memiliki kualitas yang cocok untuk pasar kurban di Kalimantan Timur dengan ukuran ternak yang baik serta harga yang relatif bersaing.

Rama menambahkan, jalur distribusi ternak dari Sulawesi dan NTT ke Kalimantan Timur juga sudah terbentuk sejak lama sehingga pasokan sapi lebih mudah diperoleh saat musim kurban.

“Kalau dari Sulawesi dan NTT stoknya memang lebih banyak dan pengirimannya juga sudah rutin ke Kalimantan. Jadi pedagang lebih mudah ambil sapi dari sana,” ujarnya, Kamis, 28 Mei 2026.

Sementara itu, Kepala RPH Tanah Merah Kota Samarinda Kartika Hatmisari sebelumnya menyampaikan bahwa pengawasan kesehatan ternak yang masuk ke Kalimantan Timur dilakukan cukup ketat.

Menurutnya, seluruh sapi yang masuk diwajibkan menjalani pemeriksaan di pelabuhan dan harus dilengkapi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) guna mengantisipasi penyebaran penyakit menular pada ternak, termasuk PMK.

“Kalau dari Jawa sekarang memang masih ada kekhawatiran karena tingkat PMK di beberapa daerah cukup tinggi. Jadi pedagang lebih banyak ambil dari Sulawesi sama NTT karena dianggap lebih aman,” ujarnya.

Kartika menambahkan, proses pengawasan kesehatan hewan dilakukan sejak sebelum ternak masuk ke daerah hingga saat tiba di lokasi penjualan maupun rumah potong hewan.

“Makanya sekarang pengiriman hewan juga lebih selektif. Pemeriksaan kesehatan dan dokumen ternak diperhatikan betul supaya hewan yang masuk aman,” jelasnya.

Related posts

Tak Banyak yang Tahu, Limbah Hewan di RPH Samarinda Bernilai Ekonomi

Rizki

Di Balik Jeruji Lapas Samarinda, Iduladha Jadi Momen Perubahan Diri

Rizki

RPH Samarinda: Hewan Kurban Lesu Belum Tentu Sakit

Rizki