infosatu.co
Samarinda

Tak Banyak yang Tahu, Limbah Hewan di RPH Samarinda Bernilai Ekonomi

Teks: Sapi di RPH Tanah Merah Kota Samarinda. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, Infosatu.co – Limbah hewan dari aktivitas pemotongan di Rumah Potong Hewan (RPH) Tanah Merah Samarinda ternyata tidak sepenuhnya terbuang percuma. Sejumlah bagian sisa pemotongan justru dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Kepala RPH Tanah Merah Samarinda Kartika Hatmisari mengatakan sebagian besar limbah hasil pemotongan hewan sudah memiliki pengepul maupun pengelola tersendiri, terutama saat momentum Iduladha.

“Kalau paling banyak itu limbah di perutnya. Sekarang sudah ada yang ngambil. Kulit dan lain-lain itu sudah ada pengepulnya,” ujarnya kepada Infosatu.co, Selasa, 26 Mei 2026.

Menurutnya, limbah yang masih tersisa di RPH umumnya hanya berupa darah dan sisa kecil hasil penyembelihan. Khusus darah, pihak RPH melarang keras untuk dimanfaatkan kembali karena berkaitan dengan keamanan pangan dan standar halal.

“Kalau darah kita memang ketat, tidak boleh diambil karena kita ada sertifikat halal. Takutnya nanti dipakai campuran supaya daging busuk terlihat segar,” jelasnya.

Sementara limbah organik lain seperti isi perut hewan atau limbah hijau justru dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan pakan ternak fermentasi.

Kartika menjelaskan, limbah basah tersebut biasanya dikeringkan terlebih dahulu sebelum diambil oleh pengelola pakan ternak. Setelah diproses, bahan itu digunakan sebagai campuran fermentasi rumput maupun konsentrat pakan.

“Nanti setelah kering baru ada yang ambil untuk bahan fermentasi pakan. Jadi kembali lagi ke pakan ternak,” katanya.

Tak hanya itu, lemak hewan yang sebelumnya kerap terbuang kini juga memiliki nilai ekonomi. Menurut Kartika, lemak kini dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari campuran bahan makanan hingga bahan bakar pembakaran.

“Nah sekarang lemak itu sudah ada yang ambil. Jadi benar-benar hampir tidak ada yang terbuang,” tuturnya.

Pemanfaatan limbah juga dilakukan pada kotoran hewan yang diolah menjadi pupuk kandang. Prosesnya dilakukan secara bertahap mulai dari pengeringan, pembakaran hingga pencampuran bahan lain sebelum siap dijual ke masyarakat.

Pupuk hasil olahan tersebut banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan perkebunan, termasuk tanaman sawit.

“Kalau sudah jadi campuran pupuk itu satu karung bisa Rp25 ribu. Banyak juga yang ambil untuk sawit,” ungkap Kartika.

Ia menyebut, pengolahan limbah tersebut turut membantu mengurangi residu dan bau di lingkungan RPH sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pekerja maupun warga sekitar.

“Jadi sebenarnya hampir semua ada nilainya. Tinggal bagaimana mau mengelola dan memasarkannya saja,” tutup drh. Kartika Hatmisari.

Related posts

Ini Alasan Sapi Sulawesi dan NTT Dominasi Pasar Kurban di Kaltim

Rizki

Di Balik Jeruji Lapas Samarinda, Iduladha Jadi Momen Perubahan Diri

Rizki

RPH Samarinda: Hewan Kurban Lesu Belum Tentu Sakit

Rizki