
Samarinda, infosatu.co – Transisi dari Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) ke Pedestrian Light Controlled Crossing (Pelican Crossing) di Kota Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) belum sepenuhnya berjalan efektif.
Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, menilai rendahnya disiplin masyarakat menjadi persoalan utama di balik belum optimalnya fungsi fasilitas tersebut.
Menurutnya, meski pemerintah telah berupaya menghadirkan sistem penyeberangan yang lebih modern dan inklusif, realitas di lapangan justru masih banyak pengendara yang tetap melaju meski lampu penyeberangan telah menunjukkan tanda berhenti.
“Persoalannya bukan hanya pada fasilitas, tapi pada kesadaran masyarakat. Pelican Cross ini belum sepenuhnya dipahami, sehingga sering diabaikan,” ujar Deni, Selasa, 14 April 2026.
Ia menegaskan, perubahan dari JPO ke pelican cross merupakan bagian dari penataan sistem lalu lintas yang lebih ramah bagi semua kalangan, termasuk lansia dan penyandang disabilitas.
Namun, tanpa diimbangi disiplin, sistem tersebut dinilai tidak akan efektif.
Deni menekankan pentingnya regulasi yang tegas untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut. Menurutnya, pendekatan persuasif saja tidak cukup jika tidak diiringi dengan aturan yang mengikat.
“Kita sebenarnya butuh regulasi yang memastikan masyarakat akan patuh. Tidak bisa hanya mengandalkan imbauan saja,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa rendahnya kesadaran ini bukan persoalan baru. Bahkan dalam hal sederhana seperti pengelolaan sampah rumah tangga, masyarakat dinilai masih belum konsisten, sehingga menunjukkan perlunya edukasi yang lebih masif.
Lebih jauh, Deni menyinggung masih terjadinya kecelakaan lalu lintas yang bahkan menelan korban jiwa. Hal ini menjadi indikator bahwa budaya tertib berlalu lintas belum tertanam kuat.
“Kalau kita disiplin dan hati-hati di jalan, peluang selamat itu besar. Tapi kita tidak sendiri di jalan. Kelalaian satu orang bisa mencelakakan yang lain,” katanya.
Komisi III DPRD Samarinda juga mendukung penghapusan sejumlah JPO lama yang dinilai sudah tidak layak dan berisiko dari sisi keamanan.
Sebagai gantinya, Pelican Cross dianggap lebih aman dan manusiawi, serta telah diterapkan di berbagai kota besar.
Namun, ia kembali mengingatkan bahwa keberhasilan sistem tersebut sangat bergantung pada perilaku masyarakat.
“Ini bukan sekadar soal fasilitas, tapi bagaimana kita membangun budaya disiplin di jalan. Kalau itu tidak berubah, maka risiko kecelakaan akan tetap ada,” pungkasnya.
