Bontang, infosatu.co – Keluhan datang dari pedagang ikan di Pasar Taman Telihan, yang berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah terhadap fasilitas penunjang aktivitas jual beli.
Salah satu pedagang, M. Tahir, mengaku telah berjualan sejak 1995. Selama puluhan tahun berdagang, ia menilai masih banyak fasilitas yang perlu dibenahi untuk menunjang kenyamanan dan keselamatan pedagang maupun pembeli.
“Sudah lama sekali saya jualan, dari tahun 95. Tapi selama ini kami merasa belum pernah dapat bantuan apa-apa,” ujarnya saat ditemui, Selasa, 17 Maret 2026.
Ia menyoroti penggunaan selang air di lapak yang dinilai berpotensi membahayakan. Menurutnya, satu meja yang digunakan oleh beberapa pedagang seharusnya memiliki saluran air tersendiri agar tidak saling tarik-menarik selang.
“Kalau satu meja bisa dipakai beberapa orang, sebaiknya ada jalur air sendiri. Supaya tidak tarik-tarik selang, itu bahaya, bisa bikin jatuh,” jelasnya.
Tahir juga mengusulkan adanya pemasangan fasilitas air yang lebih tertata. Ia menegaskan para pedagang tidak keberatan untuk membayar iuran bulanan, asalkan pemasangan awal dapat difasilitasi pemerintah.
“Kami tidak minta gratis. Yang penting pemasangannya dibantu, nanti per bulan kami bayar. Yang penting rapi dan bersih,” katanya.
Selain itu, ia berharap adanya pengaturan penggunaan air agar kebersihan pasar tetap terjaga. Ia mengusulkan agar aliran air dimatikan pada waktu tertentu setelah aktivitas pasar berakhir.
“Kami minta ada aturan, misalnya jam 1 siang air dimatikan, supaya pasar tetap bersih,” tambahnya.
Tak hanya soal air, Tahir juga mengeluhkan kondisi tempat penyimpanan ikan yang masih menggunakan bahan gabus. Menurutnya, material tersebut mudah kotor dan berlumut, sehingga kurang higienis.
Ia berharap pemerintah dapat menyediakan wadah berbahan fiber yang dinilai lebih bersih dan tahan lama.
“Kalau bisa diganti fiber, tidak perlu yang besar, yang kecil saja. Supaya lebih bersih dan nyaman dilihat,” ucapnya.
Permasalahan lain yang disampaikan adalah kondisi fasilitas umum seperti toilet dan ketersediaan air yang kadang tidak lancar. Hal itu bahkan berdampak pada pembeli yang memilih beralih ke tempat lain.
“Kadang pembeli datang, tapi karena air tidak ada, mereka pergi lagi. Ini tentu merugikan kami,” ungkapnya.
“Jangankan pembeli, kami aja pedagang kesulitan kalau toilet tidak bisa dipakai,” sambungnya.
Ia pun berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap pedagang kecil yang menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi di pasar tradisional.
“Kami mohon dibantu. Pedagang kecil seperti kami ini juga butuh perhatian,” tuturnya.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni memastikan berbagai masukan dari pedagang akan menjadi bahan evaluasi pemerintah.
Ia menyebut, sejumlah perbaikan fasilitas pasar memang telah direncanakan, termasuk pembenahan sarana pendukung seperti air bersih dan fasilitas umum lainnya.
“Semua masukan kita tampung. Nanti akan dievaluasi bersama tim teknis, mana yang menjadi prioritas perbaikan,” ujarnya.
Terkait fasilitas air dan kebersihan, Neni menegaskan pentingnya pengelolaan yang baik agar pasar tetap nyaman dan higienis.
“Airnya sebenarnya lancar, tinggal pengelolaannya yang harus lebih baik. Ini yang akan kita benahi bersama,” jelasnya.
Ia juga menambahkan perbaikan pasar akan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kondisi di lapangan serta kemampuan anggaran daerah.
Pemerintah, kata dia, berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pasar tradisional, termasuk memperhatikan kebutuhan pedagang kecil.
“Kita ingin pasar ini nyaman, bersih, dan pedagangnya juga merasa diperhatikan,” pungkasnya. (Adv)
