infosatu.co
KALTIM

Harga Lebih Murah, Sayuran KWT Tani Maju Bersama Laris di Gerakan Pangan Murah

Teks: Kelompok Wanita Tani (KWT) Tani Maju Bersama (Infosatu.co/Firda)

Samarinda, infosatu.co – Kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (TPH) Kalimantan Timur (Kaltim), menjadi peluang bagi petani binaan.

Mereka mendapat peluang untuk menjual hasil panen langsung kepada masyarakat dengan harga lebih terjangkau.

Salah satunya dilakukan Kelompok Wanita Tani (KWT) Tani Maju Bersama yang menawarkan berbagai macam sayuran dengan harga di bawah pasar.

Ketua KWT Tani Maju Bersama, Musrifah, mengatakan produk yang dijual sebagian besar merupakan hasil panen sendiri, termasuk sayuran hidroponik.

Hal tersebut memungkinkan mereka menjual dengan harga lebih murah dibandingkan harga di pasar.

“Kita selalu ikut GPM dan banyak yang kita tanam sendiri. Karena panen sendiri, kita bisa jual lebih murah dari pasar. Contoh sayur pakcoy kami jual Rp5 ribu, padahal di pasar bisa Rp8 ribu. Selada kami jual Rp8 ribu, di pasar Rp12 ribu hingga Rp15 ribu,” ujarnya, Rabu, 11 Maret 2026.

Ia mencontohkan beberapa komoditas seperti tomat, bawang prei, hingga jeruk nipis dijual dengan harga Rp5 ribu per kemasan.

“Tomat Rp5 ribu, bawang prei Rp5 ribu, jeruk nipis Rp5 ribu. Banyak yang serba Rp5 ribu supaya lebih gampang. Kemasannya juga kita buat lebih cantik mengikuti model pasar,” katanya.

Ia menyebut GPM biasanya hanya berlangsung satu hari dan sering kali produk yang dibawa sudah habis terjual sebelum siang.

“Kadang jam 9 sudah habis. Hari ini juga tinggal sedikit, padahal tadi kita bawa cukup banyak,” ujarnya.

Musrifah menjelaskan, untuk dapat bergabung dalam kegiatan GPM, petani harus tergabung dalam kelompok tani atau Kelompok Wanita Tani serta menjadi binaan dinas terkait.

“Yang penting kalau dari petani harus ada kelompok tani atau KWT. Awalnya juga dibentuk oleh dinas, jadi kalau ada kegiatan seperti ini kita diundang,” jelasnya.

Di luar kegiatan GPM, Musrifah mengaku tantangan yang dihadapi petani hidroponik adalah mencari pelanggan tetap untuk menyerap hasil panen.

Namun saat ini, kondisi tersebut mulai terbantu dengan adanya program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menyerap hasil panen dalam jumlah besar.

“Tantangannya dulu mencari pelanggan. Kalau sudah ada pelanggan, kita lancar. Sekarang malah kewalahan karena melayani MBG. Sekali ambil bisa 75 kilo, kadang 50 sampai 75 kilo,” ungkapnya.

Ia menyebut harga penjualan untuk program tersebut juga lebih tinggi dibandingkan harga pasar.

“Kalau untuk MBG itu bisa Rp20 ribu per kilo, sedangkan di pasar sekitar Rp15 ribu. Jadi lumayan membantu petani,” tambahnya.

Menurutnya, keterlibatan dalam GPM juga menjadi sarana memperluas jaringan dan silaturahmi antarpetani. “Kita bisa punya banyak teman, silaturahmi dengan petani lain yang sebelumnya tidak kenal jadi kenal,” ujarnya.

KWT Tani Maju Bersama sendiri sebelumnya pernah menerima bantuan modal dari pemerintah untuk pengembangan kebun melalui program Pekarangan Pangan Lestari (P2L).

“Kami pernah dapat bantuan sekitar Rp50 juta untuk kebun di awal program Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Dari situ kita kelola sampai berhasil, jadi kalau ada kegiatan dari dinas kita berusaha ikut,” katanya.

Ia menambahkan, ke depan, Musrifah berharap dukungan terhadap kelompok tani terus berlanjut, baik dari pemerintah maupun pihak lain.

“Semoga ke depan ada bantuan lagi, misalnya peralatan yang kami butuhkan. Mudah-mudahan juga ada dukungan dari instansi lain atau Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan yang bisa melirik kelompok kami,” pungkasnya.

Related posts

Perkuat SDM dan Inovasi Daerah, Pemkab Mahulu Jajaki Sinergi dengan Pusjar SKPP LAN

Dewi

Pemprov Kaltim Jajaki Kerja Sama dengan Austria, Sawit dan Batu Bara Jadi Unggulan

Dewi

Kominfo Kaltim Kejar Tuntas Internet Gratis 841 Desa, 802 Sudah Terpasang

Firda

You cannot copy content of this page