Samarinda, infosatu.co — Upaya menjaga keberlangsungan seni musik tradisional sape terus dilakukan komunitas Sape Kaltim melalui keterlibatan generasi muda.
Hal ini disampaikan pemain sape Putra dan Firdan saat ditemui usai tampil di Teras Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).

Putra mengungkapkan, komunitas Sape Kaltim telah terbentuk sejak sekitar 2016 dan kini memiliki hampir 200 anggota yang tersebar di berbagai daerah.
Anggota tersebut terdiri dari pelaku seni lintas generasi, mulai dari senior hingga anak muda yang baru mengenal sape.
“Grup Sape Kaltim sebenarnya sudah lama ada. Kami ini generasi lanjutan. Sekarang kami fokus ke generasi kami karena senior-senior banyak yang sudah sibuk,” ujar Putra di Teras Samarinda, 20 Desember 2025.
Menurutnya, regenerasi menjadi kunci utama agar seni musik tradisional tidak berhenti di satu generasi.
Karena itu, komunitas membuka ruang selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin belajar atau sekadar mengenal sape dan alat musik tradisional lainnya.
Selain tampil di Teras Samarinda, Putra menyebut komunitas Sape Kaltim juga kerap mengisi pertunjukan budaya di sejumlah ruang publik dan titik keramaian lainnya.
Antara lain di Kota Samarinda, seperti kawasan Citra Niaga, Sepinggan, rest area, hingga area Bandara APT Pranoto.
Kehadiran di berbagai lokasi tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan musik sape kepada masyarakat yang lebih luas.
Selain tampil di ruang publik, komunitas Sape Kaltim juga pernah menginisiasi kegiatan bertajuk Ekspresi Budaya Borneo.
Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi masyarakat yang ingin mengekspresikan diri melalui seni tari maupun lagu daerah.
“Ekspresi Budaya Borneo itu kami buat untuk siapa saja yang ingin tampil. Mau menari, mau menyanyi lagu daerah, silakan. Fokusnya memperkenalkan budaya lokal Kalimantan Timur,” jelasnya.
Namun, seiring kesibukan para anggota, kegiatan tersebut tidak selalu dapat digelar secara rutin.
Meski demikian, semangat untuk menjaga budaya tetap berjalan melalui penampilan-penampilan spontan di ruang publik seperti Teras Samarinda.
Menurut Putra, Samarinda sebagai kota tujuan kunjungan seharusnya memiliki ruang yang cukup bagi ekspresi seni dan budaya lokal.
Ia menilai, keterlibatan anak muda dalam pelestarian budaya perlu terus didorong agar seni tradisional seperti sape tetap hidup dan dikenal luas.
“Kalau ada yang mau belajar sape atau ingin tahu soal budaya ini, kami terbuka. Kami ingin ada generasi penerus, supaya sape tidak berhenti di kami saja,” tegasnya.
Melalui aktivitas yang konsisten di ruang publik serta keterbukaan terhadap generasi muda, komunitas Sape Kaltim diharapkan dapat terus menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan seni musik tradisional.
Juga sekaligus memperkuat identitas budaya Kalimantan Timur di tengah perkembangan zaman.
